Selasa, 27 November 2018

Opini: Politisasi Ranah Sepakbola

    

Oleh: Novendra Hidayat, Dosen dan Pembina Kelompok Kegiatan Olahraga dan Seni (K20S) FISIP UBB

Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling menarik hati di seantero bumi. Olahraga ini bisa dimainkan dan dinikmati oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun dengan cara amat sederhana.

Dengan realitas demikian pantaslah dikatakan sepakbola sebagai suatu bahasa universal. Tidak hanya sebagai olahraga, sepakbola dalam konteks global adalah bahasa pemersatu yang dapat merekatkan persaudaraan kehidupan antar bangsa.

Sebagai bahasa yang universal, sepakbola selalu saja terasa hingar-bingarnya. Sensasi olahraga sepakbola pun tak luput juga dinikmati masyarakat di Indonesia baik itu hanya sebatas bermain mengisi waktu senggang, hobi, amatiran hingga profesional-profesional yang hidup di sepakbola.

Geliat sepakbola di Indonesia sungguh menjadi sebuah harapan kita bersama akan hadirnya sepakbola yang bisa memanjakan seluruh masyarakat Indonesia. Memanjakan penonton karena hadirnya tontonan sepakbola yang berkualitas serta para pemain yang berimbas kepada hadirnya industri sepakbola.

Untuk mewujudkan ini semua kita membutuhkan sebuah komitmen bersama mengenai manajemen pengelolaan persepakbolaan yang bebas dari intervensi apapun. Urusan sepakbola tidak bisa dan jangan sampai menjadi alat-alat politis yang kental akan kepentingan-kepentingan jahat para pemodal maupun individu haus kuasa.

Sepakbola bukanlah menjadi olahraga kuasa mengkuasai, namun sepakbola berkaitan dengan bagaimana kita berusaha menyatukan kemajemukan kita bersama melalui sebuah kompetisi yang sehat, kompetitif tanpa mengabaikan nilai-nilai sportifitas.

Realitas yang kita hadapi bersama saat ini sungguh jauh berbeda dan mengecewakan harapan besar akan sepakbola. Hasrat kuasa acapkali menciderai dan memporak-porandakan agenda persepakbolaan Indonesia. Tak luput kebijakan-kebijakan sepakbola disisipi dengan kepentingan.

Sebagaiaman kita saksikan begitu buruknya nasib pesepakbola Indonesia mulain dari tunggakan gaji pemain, skandal pengaturan skor, lambannya pengembangan infrastruktur hingga pembentukan tim nasional yang disusupi kepentingan-kepentingan. Ini semua pada akhirnya menjadi jawaban awal kita semua akan nasib sepakbola Indonesia yang miskin akan prestasi.
Langkah-langkah penyelamatan oleh beberapa pihak dianggap perlu untuk dilakukan, yang pada akhirnya berujung kepada keluaranya sanksi dari FIFA sebagai otoritas tertinggi sepakbola dunia. Masyarakat sepakbola Indonesia pada akhirnya menjadi saksi dan korban akan pertunjukkan kuasa mengkuasai terlepas dari niatan baik perbaikan nasib sepakbola Indonesia. Lantas yang menjadi pertanyaan kita bersama, akan dibawah kemana sepakbola Indonesia? Ke sebuah tatanan sepakbola yang baik efek dari reformasi sepakbola yang keras didengungkan untuk diperjuangkan atau justru malah sebaliknya menuju mati surinya sepakbola Indonesia.

Menjamin kompetisi
Kesadaran kita bersama akan potensi sepakbola Indonesia harus segera ditindaklanjuti dengan sesegera mungkin dalam sebuah tata kelola yang menjamin sepakbola bisa dinikmati semua orang. Pemerintah harus menjamin hadirnya lapangan sepak bola disetiap daerah bahkan setiap desa, jangan biarkan rakyat kehilangan lapangan sepakbolanya dikarenakan ego pemutus kebijakan untuk dijadikan kawasan bisnis.
Pemikiran dimana sebenarnya kekurangan atau kelemahan PSSI dalam membina persepakbolaan di Indonesia tentu akan selalu menjadi perdebatan yang menarik. Penulis berusaha mengkaji berdasarkan teori Bompa (1983) dimana prestasi optimal dapat dicapai melalui pembinaan yang sinergis dan berkesinambungan seluruh komponen pendukung prestasi. Komponen pendukung tercapainya prestasi optimal satu diantaranya adalah dilaksanakannya kompetisi yang berkualitas.
Kualitas kompetisi yang rendah menyebabkan prestasi optimal yang menjadi tujuan organisasi atau klub belum dapat terwujud. Konflik pengelolaan klub dan kompetisi yang terjadi dalam tubuh PSSI selama tahun 2010-2011 sangat mempengaruhi kualitas kompetisi di Indonesia. Prestasi tim nasional dalam berbagai kejuaraan masih belum membanggakan, kinerja pengurus PSSI dan klub anggota dalam melaksanakan kompetisi teryata belum mampu membawa pengelolaan kompetisi sepakbola Indonesia berada di standar profesional (versi AFC).
Selain itu, pemutus otoritas sepakbola negeri ini harus bisa menjamin hadirnya sebuah kompetisi yang dipelopori masayarakat dalam sebuah ajang tanding antar kampung (tarkam). Jika ini semua sudah hadir pemerintah daerah tinggal mendukung melalui program-program penguatan sehingga akan muncul bibit-bibit muda terbaik nusantara melalui sebuah kompetisi dari level akar rumput.
Industri Sepakbola Indonesia
Dalam sebuah kesempatan mantan Ketua PSSI Nurdin Halid di era kepemimpinannya pernah mengatakan bahwa arah industri sepakbola dunia adalah masuk ke dalam arus sepakbola modern yang mengglobal. Sepakbola Indonesia harus terlibat dalam panggung raksasa persepakbolaan dunia yang semakin mengglobal dan kompetitif. Strategi dan tahapan untuk mencapai visi sepakbola industri dijabarkan lagi dalam berbagai program strategis yang tertuang di dalam blueprint sepakbola Indonesia 2007-2020, melaui kompetisi yang dikemas dalam industri PSSI berharap lahirnya prestasi tim nasional Indonesia.
Industri sepakbola selain bermanfaat bagi seluruh komponen yang terlibat langsung dalam kegiatan sepakbola juga sangat membantu program pemerintah untuk meningkatkan roda perekonomian. Firmansyah yang dikutip kompas (2009: 1) dalam iklim otonomi daerah diharapkan setiap pemerintah daerah dapat menggali potensi olahraga daerahnya. Olahraga tidak bisa dilihat sebagai alat pengembang sumber daya manusia saja, juga dilihat sebagai peluang dan sumber potensi ekonomi daerah.
Tanda-tanda atau indikator industrialisasi sepakbola atau pengelolaan klub dan kompetisi yang profesional di Indonesia menurut Subardi (2010: 4) sudah mulai terlihat. Kompetisi ISL (Indonesia Super League) atau LSI (Liga Super Indonesia) yang merupakan kompetisi sepakbola profesional di Indonesia pada musim kompetisi 2009-2010 dikuiti 18 tim. Pertandingan LSI berjumlah 306 selama satu musim, live TV: 113 pertandingan, melibatkan jumlah penonton sebanyak: 2.067.500 orang, rata-rata penonton tiap pertandingan: 10.712 orang dengan durasi selama 8 bulan. Liga Super Indonesia berhasil bekerja sama dengan PT. Djarum sebagai sponsor Utama. Perputaran uang dari industri sepakbola di Indonesia diperkirakan bisa menembus Rp. 3 triliun (Kompas, 2010: 29). Kompetisi Djarum LSI dan Liga Ti-phone Divisi Utama 2010 yang dikemas secara profesional diharapkan menjadi pendorong dan penarik terciptanya industri dengan nilai ekonomi tinggi. Klub peserta ISL jika selama 1 musim mengeluarkan rata-rata 20 miliar rupiah untuk menjalani kompetisi maka uang 360 milyar rupiah telah beredar untuk kegiatan sepakbola.
Edisi terakhir persepakbolaan Indonesia sebelum dibekukan FIFA juga menunjukkan geliat industri yang sama. Hal ini ditandai dengan hadirnya QNB perusahaan asing asal Qatar sebagai sponsor utama perputaran kompetisi sepakbola tertinggi negeri ini. selain itu, mengenai hak siarpun sudah ditangani dengan serius televisi berbayar asing. Hal ini semua menunjukkan telah berjalan dengan baik industrialisasi persepakbolaan Indonesia.
Pada akhirnya, kita semua berharap carut marut tata kelola serta tarik menarik kepentigan politis adalam persepakbolaan Indonesia segara berakhir. Kita semua merindukan hadirnya sepakbola Indonesia yang sehat, indah serta membanggakan dengan hadirnya prestasi-prestasi baik level klub maupun tim nasional di level regional asia maupun dunia. Majulah sepakbola Indonesia. (*)

Read More ->>

Senin, 26 November 2018

Hubungan teori Pembangunan dalam perspektif Teori Modernisasi dan Teori Dependensia (Ketergantungan)



a)      Pengertian Pembangunan

Dalam pemahaman sederhana pembangunan diartikan sebagai proses perubahan kearah yang lebih baik, melalui upaya yang dilakukan secara terencana. Pembangunan dalam sebuah negara sering dikaitkan dengan pembangunan ekonomi (economic development). Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya peningkatan jumlah dan produktifitas sumber daya, termasuk pertambahan penduduk, disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara serta pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sumitro dalam Deliarnov (2006:89), bahwa proses pembangunan ekonomi harus merupakan proses pembebasan, yaitu pembebasan rakyat banyak dari belenggu kekuatan-kekuatan ekonomi, dan pembebasan negara-negara berkembang dari belenggu tata kekuatan ekonomi dunia.
Secara terminologis, di Indonesia pembangunan identik dengan istilah development, modernization, westernization, empowering, industrialization, economic growth, europanization, bahkan istilah tersebut juga sering disamakan dengan term political change. Identifikasi pembangunan dengan beberapa term tersebut lahir karena pembangunan memiliki makna yang multi-interpretable, sehingga kerap kali istilah tersebut disamakan dengan beberapa term lain yang berlainan arti (Moeljarto Tjokrowinoto, 2004). Makna dasar dari development adalah pembangunan. Artinya, serangkaian upaya atau langkah untuk memajukan kondisi masyarakat sebuah kawasan atau negara dengan konsep pembangunan tertentu.

b)      Lahirnya Pembangunan
Dalam perkembangan sejarahnya, terlihat bahwa kapitalisme lahir lebih kurang tiga abad sebelum teori-teori pembangunan muncul. Sehingga, berbagai perdebatan terhadap teori maupun praktek pembangunan sudah berada di dalam alam kapitalisme. Karena itu, tidak mengherankan jika kapitalisme sangat mewarnai teori-teori pembangunan.
Motivasi teori modernisasi untuk merubah cara produksi masyarakat berkembang sesungguhnya adalah usaha merubah cara produksi pra-kapitalis ke kapitalis, sebagaimana negara-negara maju sudah menerapkannya untuk ditiru. Selanjutnya dalam teori dependensi yang bertolak dari analisa Marxis, dapat diakatakan hanyalah mengangkat kritik terhadap kapitalisme dari skala pabrik (majikan dan buruh) ke tingkat antar negara (sentarl dan pinggiran), dengan analisis  utama yang sama yaitu eksploitasi. Demikian halnya dengan teori sistem dunia yang didasari teori dependensi, menganalisis persoalan kapitalisme dengan satuan analisis dunia sebagai hanya satu sistem, yaitu sistem ekonomi kapitalis.

c)      Pendekatan Dalam Pembangunan

1.    Teori Modernisasi
a. Sejarah Singkat
Tanggal 20 Januari 1949, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman kali pertama menyitir istilah “developmentalism”. Untuk selanjutnya, ia mempropagandakan istilah under-development bagi negara-negara bekas jajahan agar mampu meredam pengaruh Komunisme-Sosialisme sebagai tawaran ideologi pembangunan, (Stephen Gill, 1993:248)
Teori Modernisasi lahir sekitar tahun 1950-an di Amerika Serikat sebagai wujud respon kaum intelektual atas Perang Dunia II yang telah menyebabkan munculnya negara-negara Dunia Ketiga. Kelompok negara miskin yang ada dalam istilah Dunia Ketiga adalah negara bekas jajahan perang yang menjadi bahan rebutan pelaku Perang Dunia II. Sebagai negara yang telah mendapatkan pengalaman sekian waktu sebagai negara jajahan, kelompok Dunia Ketiga berupaya melakukan pembangunan untuk menjawab pekerjaan rumah mereka yaitu kemiskinan, pengangguran, gangguan kesehatan, pendidikan rendah, rusaknya lingkungan, kebodohan, dan beberapa problem lain.
Oleh karena adanya kepentingan tersebut, maka negara adidaya, khususnya Amerika Serikat mendorong kepada ilmuwan sosial untuk mempelajari permasalahan-permasalahan yang terjadi di negara dunia ke tiga tersebut. Maka muncullah beberapa teori-teori pembangunan dengan berbagai istilahnya dan berbagai alirannya dalam perspektif beberapa ahli yang mengemukakannnya. Permasalahan di dunia ketiga tersebut salah satunya di kaji melalui Teori Modernisasi. Teori modernisasi di bahas oleh beberapa sosiolog dengan perspektif yang berbeda-berbeda. Yang termasuk teori modernisasi klasik antara lain:
-          Teori Evolusi yang menggambarkan perkembangan masyarakat (perubahan social) sebagai gerakan searah seperti garis lurus. Masyarakat berkembang dari masyarakat primitive menuju masyarakat modern. Dalam pandangan teori evolusi, masyarakat modern merupakan bentuk masyarakat yang tidak bisa dihindarkan dan merupakan bentuk masyarakat yang “dicita-citakan”.
-          Teori Fungsionalisme dari Talcon Parson, yang bernaggapan bahwa masyarakat tidak ubahnya seperti organ tubuh manusia yang memiliki berbagai bagian yang saling bergantung. Dan setiap organ tersebut memilki fungsi yang jelas dan khas. Demikian pula dalam kelembagaan masyarakat, setiap elemen masyarakat (lembaga) melaksanakan tugas tertentu untuk stabilitas dan pertumbuhan msayarakat tersebut.
-          Teori Diferensiasi Struktural dari Smelser yang beranggapan bahwa modernisasi akan selalu melibatkan diferensiasi structural. Dengan proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus.
-          Teori Tahapan Pertumbuhan Ekonomi dari Rostow yang menyatakan bahwa ada lima tahapan pembangunan ekonomi, yaitu dari mulai tahap masyarakat tradisional sampai pada tahap konsumsi masa tinggi. Rostow menekankan adanya tahapan kritis dari pertumbuhan ekonomi masyakarat, yaitu adanya tahap tinggal landas.
Pandangan (asumsi) teori modernisasi klasik terhadap modernisasi antara lain:
1)      Modernisasi merupakan proses bertahap
2)      Modernisasi juga merupakan proses homogenisasi.
3)      Dalam wujudnya, modernisasi terkadang dianggap sebagai proses Eropanisasi atau Amereikanisasi, atau yang lebih populer werternisasi (modernisasi sama dengan dunia Barat).
4)      Modernisasi dilihat sebagai proses yang tidak bergerak mundur.
5)      Modernisasi merupakan perubahan progresif.
6)      Modernisasi memerlukan waktu panjang.

Teori Modernisasi: Pembangunan sebagai masalah internal.
Teori ini menjelaskan bahwa kemiskinan lebih disebabkan oleh faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negara yang bersangkutan.
Ada banyak variasi dan teori yang tergabung dalam kelompok teori ini antara lain adalah:
1.Teori yang menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal dan investasi. Teori ini biasanya dikembangkan oleh para ekonom. Pelopor teori antara lain Roy Harrod dan Evsay Domar yang secara terpisah berkarya namun menghasilkan kesimpulan sama yakni: pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi.
2.Teori yang menekankan aspek psikologi individu. Tokohnya adalah McClelaw dengan konsepnya The Need For Achievment dengan symbol n. ach, yakni kebutuhan atau dorongan berprestasi, dimana mendorong proses pembangunan berarti membentuk manusia wiraswasta dengan n.ach yang tinggi. Cara pembentukanya melalui pendidikan individu ketika seseorang masih kanak-kanak di lingkungan keluarga.
3.Teori yang menekankan nilai-nilai budaya mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.  Satu masalah pembangunan bagi Max Weber (tokoh teori ini) adalah tentang peranan agaman sebagai faktor penyebab munculnya kapitalisme di Eropa barat dan Amerika Serikat. Bagi Weber penyebab utama dari semua itu adalah etika protestan yang dikembangkan oleh Calvin.
4.Teori yang menekankan adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan sebelum lepas landas dimulai. Bagi W.W Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus dari masyarakat terbelakang ke masyarakat niaga. Tahap-tahapanya adalah sbb:
Masarakat tradisional=belum banyak menguasai ilmu pengetahuan.
Pra-kondisi untuk lepas landas= masyarakat tradisional terus bergerak walaupun sangat lambat dan pada suatu titik akan mencapai posisi pra-kondisi untuk lepas landas.
Lepas landas : ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.
Jaman konsumsi massal yang tinggi. Pada titik ini pembangunan merupakan proses berkesinambungan yang bisa menopang kemajuan secara terus-menerus.
5.Teori yang menekankan lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan. Tokohnya Bert E Hoselitz yang membahas faktor-faktor non-ekonomi yang ditinggalkan oleh W.W Rostow. Hoselitz menekankan lembaga-lembaga kongkrit. Baginya, lembaga-lembaga politik dan sosial ini diperlukan untuk menghimpun modal yang besar, serta memasok tenaga teknis, tenaga swasta dan tenaga teknologi.
6.Teori ini menekankan lingkungan material. Dalam hal ini lingkungan pekerjaan sebagai salah satu cara terbaik untuk membentuk manusia modern yang bisa membangun. Tokohnya adalah Alex Inkeler dan David H. Smith.
b. Asumsi Dasar Modernisasi
Secara etimologis, ada beberapa tokoh yang mengajukan pendapat tentang makna modernisasi. Everett M. Rogers dalam “Modernization Among Peasants: The 10 Impact of Communication” menyatakan bahwa modernisasi merupakan proses dimana individu berubah dari cara hidup tradisional menuju gaya hidup lebih kompleks dan maju secara teknologis serta cepat berubah.
Cyril E. Black dalam “Dinamics of Modernization” berpendapat bahwa secara historis modernisasi adalah proses perkembangan lembaga-lembaga secara perlahan disesuaikan dengan perubahan fungsi secara cepat dan menimbulkan peningkatan yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam hal pengetahuan manusia. Dengan pengetahuan tersebut, akan memungkinkan manusia untuk menguasai lingkungannya dan melakukan revolusi ilmiah.
Daniel Lerner dalam “The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East” menyatakan bahwa modernisasi merupakan suatu trend unilateral yang sekuler dalam mengarahkan cara-cara hidup dari tradisional menjadi partisipan. Marion Ievy dalam “Modernization and the Structure of Societies” juga menyatakan bahwa modernisasi adalah adanya penggunaan ukuran rasio sumberdaya kekuasaan, jika makin tinggi rasio tersebut, maka modernisasi akan semakin mungkin terjadi.
Dari beberapa definisi tersebut, modernisasi dapat dipahami sebagai sebuah upaya tindakan menuju perbaikan dari kondisi sebelumnya. Selain upaya, modernisasi juga berarti proses yang memiliki tahapan dan waktu tertentu dan terukur.
Sebagaimana sebuah teori, Modernisasi memiliki asumsi dasar yang menjadi pangkal hipotesisnya dalam menawarkan rekayasa pembangunan. Pertama, kemiskinan dipandang oleh Modernisasi sebagai masalah internal dalam sebuah negara (Arief Budiman, 2000:18).
Kemiskinan dan problem pembangunan yang ada lebih merupakan akibat dari keterbelakangan dan kebodohan internal yang berada dalam sebuah negara, bukan merupakan problem yang dibawa oleh faktor dari luar negara. Jika ada seorang warga yang miskin sehingga ia tidak mampu mencukupi kebutuhan gizinya, maka penyebab utama dari fakta tersebut adalah orang itu sendiri dan negara dimana orang tersebut berada, bukan disebabkan orang atau negara lain. Artinya, yang paling pantas dan layak melakukan penyelesaian masalah atas kasus tersebut adalah orang dan negara dimana orang itu berada, bukan negara lain.
Kedua, dari segala problem adalah kemiskinan, pembangunan berarti perang terhadap kemiskinan. Jika pembangunan ingin berhasil, maka yang kali pertama harus dilakukan adalah menghilangkan kemiskinan dari sebuah negara. Cara paling tepat menurut Modernisasi untuk menghilangkan kemiskinan adalah dengan ketersediaan modal untuk melakukan investasi. Semakin tinggi tingkat investasi di sebuah negara, maka secara otomatis, pembangunan telah berhasil, (Mansour Fakih, 2002:44-47).
Teori Modernisasi adalah teori pembangunan yang menyatakan bahwa pembangunan dapat dicapai melalui mengikuti proses pengembangan yang digunakan oleh negara-negara berkembang saat ini. Teori tindakan Talcott Parsons 'mendefinisikan kualitas yang membedakan "modern" dan "tradisional" masyarakat. Pendidikan dilihat sebagai kunci untuk menciptakan individu modern. Teknologi memainkan peran kunci dalam teori pembangunan karena diyakini bahwa teknologi ini dikembangkan dan diperkenalkan kepada negara-negara maju yang lebih rendah akan memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor kunci dalam Teori Modernisasi adalah keyakinan bahwa pembangunan memerlukan bantuan dari negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang untuk belajar dari perkembangan mereka. Dengan demikian, teori ini dibangun di atas teori bahwa ada kemungkinan untuk pengembangan yang sama dicapai antara negara maju dan dikembangkan lebih rendah.

2.    Teori Dependensia (Ketergantungan).
Pendekatan terhadap dependensia pertama kali muncul di Amerika Latin. Pendekatan teori dependensia atau pendekatan keterbelakangan lahir sebagai hasil “revolusi intelektual” secara umum pada pertengahan tahun 1960-an. Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan lahirnya teori ini. Pertama, teori ini muncul sebagai perlawanan (tantangan) ilmuwan Amerika Latin terhadap paradigma pembangunan yang didengungkan oleh Barat sampai tahun 1960-an (Nasution, 2002:44). Perlawanan pemikiran ini lebih ditujukan sebagai kritik para ilmuwan terhadap teori modernisasi yang selama itu mereka anggap hanya manisfestasi dari Eropanisasi dan Amerikanisasi. Kedua, teori dependensia muncul sebagai jawaban atas kegagalan program yang dijalankan oleh Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin yang dikenal ECLA atau KEPBAL (So, 2000:89). Pada waktu itu (tahun 1950-an), banyak negara Amerika Latin mencoba menerapkan strategi pembangunan yang diprogramkan oleh ECLA melalui program industrialisasi yang berbasis impor. Harapannya adalah, dari program tersebut diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan dan mendorong pembanguan politik yang demokratis. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, terjadi ekspansi ekonomi, pengangguran, inflasi, devaluasi, penurunan nilai tukar mata uang, dan akibat yang lebih buruk adalah pergolakan politik melalui perlawanan-perlawanan rakyat.
Tidak disangka, program ECLA yang tidak lain merupakan penerapan dari teori modernisasi tersebut telah menimbulkan pergolakan. Tumbangnya pemerintahan dan diganti oleh pemerintahan otoriter yang didukung militer telah membangkitkan pemikir-pemikir Amerika Latin untuk mencari paradigma baru yang lebih menitikberatkan pada faktor-faktor dalam negeri, bukan mengharapkan penuh dari luar.
Di sisi lain, keberhasilan revolusi Kuba dan Chili (tahun 1960-an) sebagai negara yang menganut faham sosialisme telah membuka jalan bagi pemikir-pemikir Amerika Latin untuk menata kembali perekonomian negara-negara di dunia ketiga melalui paradigma pembangunan yang tidak berkiblat ke barat dengan teori modernisasinya, melainkan melalui pendekatan baru dengan teori dependensia-nya.
Teori dependensia telah dikembangkan sebagian besar oleh ilmuwan Amerika Latin antara lain: Celso Furtado, Theotonio Dos Santos, Fernando Henrique Cardoso, Oswaldo Sunkel, Enzo Faletto, Marini, dan Andre Gundre Frank serta Paul Baran. Kedua orang terakhir adalah ilmuwan non Amerika Latin yang sama-sama mengembangkan teori dependensia.
Tokoh-tokoh Penganut Teori Dependensia dan Beberapa Pemikirannya
1)      Furtado dan Sunkel (Dipengaruhi oleh ECLA, dan dianggap sebagai pelopor Teori Dependensia)
Penganut teori dependensia yang dianggap paling radikal adalah ekonom Brasil yang bernama Celco Furtado. Pada awalnya ia adalah ekonom yang menganur faham modernisasi yang percaya bahwa masalah utama negara berkembang adalah karena kurangnya modal. Asumsi ini yang mulanya berkembang bagi ekonom yang tergabung dalam program ECLA. Atas dasar itu, umumnya untuk memecahkan masalah negara berkembang adalah dengan satu usulan yaitu yang biasa disebut substitusi impor. Setelah pertumbuhan industri di Brasil pada taun 1950-an, Furtado merasa optimis. Akan tetapi, ternyata pembangunan telah membawa kudeta militer [ada tahun 1964 di Brasil, dimana pada waktu itu definisi pembangunan terlalu menitik beratkan pada pertumbuhan industri. Akibat dari itu, Furtado menjadi kecewa dan pesimis. Ternyata strategi industrialisasi ECLA telah menciptakan ketergantungan negara ketiga pada pihak asing. Menurut Furtado, negara maju ditandai dengan dengan adanya saling tergantung antara “negara” yang kuasa dalam membeli dan investasi yang mengakibatkan naiknya standar hidup tersebut. Dalam hal ini akan tercipta dasar demokrasi industri, yaitu berbagi kekuatan politik akan mampu membatasi kekuasaan para pemilik modal.
Sejak peristiwa kudeta di Brasil itu, Furtado meninggalkan Brasil dan pindah ke Paris untuk menerukan analisis terhadap pertumbuhan ekonomi (pembangunan) di negara Amerika Latin. Hasil pemikirannya membawa usulan bahwa negara berkembang harus mengambil sikap berdikari. Pemerintah hrus berani berjuang merestrukturisasi seluruh ekonomi sehingga teknologi modern harus disebarluaskan ke seluruh lapisan sector produksi. Sebab menurut Furtado, hal itulah yang akan menjamin pemertaan distribusi pendapatan dan akhinya akan mengakhiri marjinalisasi rakyat. (Fakih, 2003:125).

2)      Cardoso dan Faletto (Dipengaruhi Marxist)
Ekonom negara Brasil yang turut pindah dari negerinya adalah Fernando Cordosa. Berbeda dengan Furtado, Cordosa lebih memilih pindah ke Chili dan bersama ilmuwan Chile bernama Enzo Faletto melakukan studi sosiologis dan histories tentang berbagai kasus ketergantungan suatu negara berkembang. Mereke memfokuskan studinya pada aspek sosio ppolitik. Mereka melihat pembangunan ekonomi sebagai campuran berbagai interes kelas dari waktu ke waktu. Keadaan ketergantungan ekonomi terhadap pasar dunia sangatlah krusial. Oleh sebab itu, situasi ketergantutngan terjadi dalam pola yang secara historis berubah.
Dalam pandangan Cardoso dan Faletto, negara-negara Amerika Latin setelah merdeka dari Spanyol dan Portugal, kekuasan politik telah dibiaskan oleh aliansi antara kekuasaan politik modern, sector agraris komersial, dan ekonomi old hacienda (Fakih, 2003:127). Selanjtunya, bagi Cardoso persoalan pembangunan yang ada di dunia sekarang tidak dapat dibatasi hanya pada pembahasan industri substitusi impor, atau hanya sejedar memperdebatkan strategi pertumbuihan dalam bentuk pilohan antara orientasi ekspor atau impor, pasar domestic atau pasar dunia. Persoalannya justru terletak pada ada atau tidaknya gerakan kerakyatan dan kesadaran kepentingan politik rakyat. Oleh karena itu, dalam pandangan Cardoso, yang perlu diperhatikan adalah justru usaha-usaha untuk membangkitkan gerakan kerakyatan, perjuangan kelas, perumusan kembali kepentingan politik, dan pembanguan aliansi politik yang diperlukan untuk menjaga struktur masyarakat, tetapi sekaligus juga membuka peluang adanya transformasi social (So, 2000:135).
Aliran ketergantungan muncul dari pertemuan dua kecenderungan intelektual utama: satu berlatarbelakang tradisi Marxis, yang selanjutnya mengandung beberapa orientasi teoretis: Marxisme klasik, Marxisme-Leninisme, neo-Marxisme; yang lainnya berakar pada diskusi pemikiran strukturalis Amerika Latin tentang pembangunan, yang akhirnya membentuk tradisi CEPAL. Konsep neo-Marxisme mencerminkan tranformasi pemikiran Marxis dari pendekatan tradisional, yang menekankan konsep pembangunan dan pada dasarnya berpandangan Eropasentris, ke pendekatan baru, yang menekankan konsep keterbelakangan dan mencerminkan pandangan Dunia Ketiga.
• Marxisme (seperti yang ditafsirkan oleh Lenin), memandang imperialisme dalam perspektif pusat; neoMarxisme, sebaliknya, memandang imperialisme dari sudut pandang pinggiran.
• Analisis Marxis tentang kelas secara spesifik didasarkan pada pengalaman Eropa dan menekankan misi emansipatoris kaum proletariat industri, sementara kelompok neo-Marxis memiliki pandangan yang jauh lebih terbuka mengenai potensi revolusioner kelompok-kelompok lain, misalnya petani.
• Kubu Marxis mempertahankan penekanan yang deterministik pada kondisi-kondisi obyektif Kaum neo-Marxis melihat kemungkinan memulai sebuah revolusi dengan optimisme yang lebih besar dan menekankan peranan faktor subyektif.
• Marxisme masih menampakkan jejak-jejak optimisme pembangunan abad ke-19 dan menganggap konsep kelangkaan sebagai suatu rekaan borjuis yang bertujuan mengabsahkan ketimpangan ekonomi. Kaum neo-Marxis mengintegrasikan kesadaran ekologi yang sedang berkembang dengan pandangan pembangunannya.
3) Dos Santos dan Marini (Dipengaruhi Neo-Marxisme)
Dos Santos adalah adalah ekonom yang turut pindah ke Santiago, Chili. Bersama Marini dia melakukan analisis dan mengenalkan istilah baru terhadap pemikiran pebanguan ekonomi pada saat itu. Istilah yang dia keluarkan adalah “the new dependence” sebagai bentuk kritik terhadap kesalahan kebijakan substitusi impor. Menurut Dos Santos, rakyat Amerika Latin pada dasarnya menjadi bagian dari system kapitalis dunia. Dari segi sejarah perkembangan, Dos Santos menganalisis tiga macam bentuk dependensia. Pertama, ketergantungan colonial yang ditandai oleh monopoli perdagangan yang dilengkapi denfan monopoli tanahm tambang, dan tenaga kerja di negara jajahan. Kedua, ketergantungan finasial yang ditandai dengan konsentrasi keuangan di centre dan investasi modal di negara periphery. Dan ketiga, adalah ketergantungan industri teknologi yang ditandai dengan munculnya perusahaan multinasional (Fakih, 2003:129). Bagi Dos Santos, hubungan antara negara dominant dengan negara tergantung merupakan hubungan yang tidak sederajat, karena pembangunan di negara dominant terjadi atas biaya yang dibebankan pada negara tergantung (So, 2000:98).
4) Gundre Frank (Penggerak Teori Dependensia)
Andre Gundre Frank bergabung dengan lingkaran penganut teori dependensia pada tahun 1960-an, dan dialah yang menjadi motor penggerak perkembangan teori ini. Karena, dia menjadi terkenal secara internasioal setelah berhasil menyebarluaskan teori tersebut di kalangan akademis negara-negara berbahasa Inggris. Analisis Frank menekankan pada penggunaan surplus ekonomi yang menjadi sebab dari underdevelopment (keterbelakangan). Bagi Frank, system kapitalis dunia ditandai oleh struktur monopolis-satelite dimana metropolis mengeksploitasi satellite. Satelite cenderung semakin didominasi oleh metropolis dan semakin tergantung (Fakih, 2003:130). Bagi Frank, proses pengambilan surplus ekonomi secara nasional dan global serta terarah dapat menyebabkan keterbelakangan di negara dunia ketiga. Frank telah memberikan empat rumusan untuk menguji pembangunan di negara dunia ke tiga, yaitu:
Pertama, berlawanan dengan perkembangan yang terjadi pada metropolis dunia, yang tidak memiliki kota satellite sama sekali, pembangunan yang terjadi di metropolis nasional dan kota-kota yang lebih kecil dibawahnya akan dibatasi oleh status kesatelitannya. Kedua, negara satellite akan mengalami pembangunan ekonomi yang pesat apabila ketika mereka memiliki ubungan dan keterkaitan yang terendah intensitasnya dengan metropolis di Barat. Ketiga, ketika metropolis bangkit dari krisisnya dan membangun kembali hubungan perdagangan dan investasinya, yang kemudian mengakibatkan adanya proses inkoporasi kembali dunia ketiga ke dalam system hubungan kapitalis internasional, proses industrialisasi yang telah terjadi pada negara-negara satellite ini akan di tarik dan diekspolitir kembali ke dalam hubungan global tersebut. Keempat, daerah-daerah paling terbelakang dan paling feudal sekarang ini adalah daeragh-daerah yang memiliki derajat hubungan dan keterkaitan sangan dekat dengan metropolis di masa lampau (So, 2000:97).
Esensi Teori Dependensia
      Secara garis besar yang dimaksud dengan dependensia adalah suatu keadaan dimana kepututsan-keputusan utama yang mempengaruhi kemajuan ekonomi di negara berkembang seperti keputusan mengenai harga komoditi, pola investasi, hubungan moneter, dibuat oleh individu atau lembaga di luar negara yang bersangkutan (Nasution, 2002:44).
      Secara filosofis, teori dependensia menghendaki untuk meninjau kembali pengertian pembangunan. Pembangunan tidak harus dan tidak tepat untuk diartikan sebagai sekedar proses industrialisasi, peningkatan keluaran (output), dan peningkatan produktifitas. Dalam pandangan teori dependensia, pembangunan lebih tepat diartikan sebagai peningkatan standar hidup bagi setiap penduduk di negara dunia ketiga. Oleh karenanya, pembangunan tidak sekedar pelaksanaan program yang melayani kepentingan elite dan penduduk perkotaan, tetapi lebih merupakan program yang dialksanakan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk pedesaan, pencari kerja, dan sebagian besar kelas sosial lain yang memerlukan bantuan. Setiap program pembangunan yang hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat dan membebani mayoritas, menurut teori depensia tidaklah dapat dikatakan sebagai program pembangunan yang sebenarnya (So, 2000:104).
      Setidaknya ada lima asumsi dasar sebagai esensi dari teori dependensi ini, yaitu:
1)      Keadaaan ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruh negara dunia ketita. Teori dependensi berusaha menggambarkan watak-watak umum keadaan ketergantungan di dunia ketiga sepanjang sejarah perkembangan kapitalisme dari abad ke 16 sampai sekarang.
2)      Ketergantungan dilihat sebagai sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor luar. Sebab terpenting yang menghambat pembangunan karenanya tidak terletak pada personal kekurangan modal atau kekurangan tenaga dan semangat berwiraswasta, melainkan terletak pada diluar jangkauan politik ekonomi dalam negeri suatu negara. Warisan sejarah kolonial dan pembagian kerja internasional yang timpang bertanggung jawa terhadap kemandegan pembangunan di Negara dunia ketiga.
3)      Permasalahan ketergantungan lebih dilihatnya sebagai masalah ekonomi, yang terjadi akibat mengalirnya surplus ekonomi daru negara dunia ketiga ke negara maju. Ini diperburuk lagi karena negara dunia ketiga mengalami kemerosotan nilai tukar perdagangan relatifnya.
4)      Situasi ketergantungasn merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses polarisasi regional ekonomi global. Di satu pihak, mengalirnya surplus ekonomi dari dunia ketiga menyebabkan keterbelakangannya, sementara hal yang sama merupakan salah satu faktor yang mendorong lajunya pembangunan di negara maju.
5)      Keadaan ketergantungan dilihatnya sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan pembangunan. Bagi teori dependensia, pembanguan di negara pinggiran mustahil terlaksana. Sekalipun sedikit proses perkembangan dapat saja terjadi di negara pinggiran ketika misalnya sedang terhadi depresi ekonomi dunia atau perang dunia. Dalam pandangan teori dependensia, pembanguna yang otonom dan berkelanjutan hampir dapat dikatakan tidak mungkin dalam situasi yang terus menerus terjadi perpindahan surplus ekonomi ke negara maju (So, 2000:103).
Jenis-jenis Pendekatan Ketergantungan
Mengingat asal-usul intelektual yang kompleks dari gagasan ketergantungan, termasuk Marxisme (atau lebih tepatnya Marxisme-Leninisme), neo-Marxisme dan strukturalisme Amerika Latin, tentu saja ada beberapa konseptualisasi yang bisa dipilih. Semua pendekatan tersebut berbeda dalam gaya, penekanan, orientasi disiplin, dan preferensi ideologis, namun mereka sama-sama memiliki gagasan dasar mengenai pembangunan dan keterbelakangan sebagai proses yang saling terkait. Perspektif ini, yang benar-benar keluar dari paradigma modernisasi, cukup jelas dalam definisi yang dibuat oleh Dos Santos berikut ini.
Ketergantungan merupakan situasi "yang mengkondisikan", yang di dalamnya ekonomi sekelompok negara ditentukan oleh pembangunan dan perkembangan kelompok lain. Hubungan saling ketergantungan antara dua atau lebih sistem perekonomian, atau antara perekonomian itu dan sistem perdagangan dunia, menjadi hubungan ketergantungan bila beberapa negara dapat berkembang hanya sebagal bayangan perkembangan negara dominan, yang mungkin memiliki pengaruh positif atau negatif pada pembangunan mereka berikutnya. (Dos Santos, dikutip Hettne, 2001:157)
Cardoso membandingkan posisi ini dengan narodniks Rusia, yang menyatakan bahwa kapitalisme di akhir abad ke-19 merupakan hal yang mustahil karena pasar dalarn negeri yang terbatas. Bertolak-belakang dengan posisi ini, Lenin berpendapat bahwa pernbangunan kapitalis merupakan proses yang kontradiktif, ditandai dengan ketegangan sosial dan perusakan. Namun, ini tidak mernbuat kapitalisme mustahil di Rusia. Menurut Cardoso, pun pernbangunan kapitalis (kendati dalam bentuk yang bergantung) bukan hal yang mustahil di Arnerika Latin.
      Selanjutnya Hettne memberikan beberapa jenis pendekatan dependensia yang ia simpulkan dari beberapa tokoh penggagas teori dependensia yang sudah disingung di atas. Pendekatan-pendekatan itu adalah:
Holisme versus partikularisme. Pada dimensi ini, dipertentangkan dua kubu pemikiran: mereka yang bekerja dengan model global, dinamika yang ditentukan oleh sistem keseluruhan; dan mereka yang membangun perspektif menyeluruh mulai dari unsur pembentuknya. Misalnya, model kapitalisme transnasional Sunkel memiliki ambisi holistik, sedangkan pandangan Cardoso mengenai ketergantungan sebagai sebuah metode analisis konkret bagi kawasan pinggiran lebih bersifat partikularistik.
Faktor kausal eksternal versus faktor kausal internal. Kenyataan bahwa keduanya sulit dibedakan, bukan merupakan persoalan kita di sini. Persoalannya adalah, faktor manakah yang lebih penting? Tentu saja, dependentista tidak akan mengaku bahwa mereka mengabaikan faktor internal, namun demikian seluruh pendekatan mereka memiliki bias eksternalis (seperti digambarkan oleh model metropolis-satelit Frank). Bagaimanapun, hal ini merupakan keberatan utama terhadap teori modernisasi.
Analisis sosial-politik versus analisis ekonomi. Beberapa ilmuwan bekerja secara eksklusif dengan analisis ekonomi; yang lain menekankan kondisi sosial dan politik. Kendati hal ini dapat dijelaskan berdasarkan asal usul ilmu, namun perbedaannya penting untuk model analisis. Pada dasarnya tradisi CEPAL lebih ekonomistis, sedangkan banyak dependentista, seperti yang dicatat di atas, berasal dari ilmu sosial lainnya, misalkan sosiologi.
Kontradiksi sektoral regional versus kontradiksi kelas. Beberapa penulis menekankan kenyataan bahwa polarisasi regional atau sektoral terjadi dalam sistem yang menyeluruh, baik pada tingkat internasional maupun tingkat nasional; yang lainnya mendasarkan analisis mereka pada. asumsi bahwa konflik yang mendasar niscaya ditemukan dalam pertentangan kelas. Dengan kata lain, pandangan kedua mencari dinamika di dalam perjuangan kelas. Misalnya, dalam model dualisme globalnya, Sunkel menekankan pernilahan antara kawasan marjinal dan pusat transnasional (bagian kawasan pusat yang menyatukan, bagian dari pinggiran). Pemilahan ini menembus kelas-kelas, dengan demikian menentang kesadaran kelas dan perjuangan kelas. Sebaliknya, Cardoso lebih memberikan penekanan pada kelas, namun analisisnya cukup tajam, jauh melampaui dikotomi sederhana majikan buruh dan posisi resmi komunis. Namun, secara keseluruhan, sangat sedikit analisis kelas pada hampir semua tulisan aliran ketergantungan.
Keterbelakangan versus pembangunan yang tergantung. Argumen utama aliran ketergantungan adalah bahwa situasi ketergantungan menghasilkan proses keterbelakangan. Namun, sebagian mengambil sikap yang lebih berhati-hati, dengan mengklaim bahwa kecenderungan stagnasi merupakan persoalan yang berulang, dan bahwa pembangunan kapitalisme sepenuhnya sesuai dengan posisi ketergantungan. Posisi ketergantungan yang kuat dirumuskan oleh Frank dengan ungkapan "pembangunan keterbelakangan” (development of underdevelopment). Posisi yang lebih berhati-hati adalah gagasan Cordoso tentang "pembangunan yang terkait dan tergantung" (associated-dependent development).
Voluntarisme versus determinisme. Mayoritas besar ilmuwan ketergantungan beranggapan bahwa secara politis penelitian mereka relevan. Namun, dapat dibedakan antara mereka yang menganggap perangkat politik dibatasi oleh situasi obyektif, dan mereka yang menekankan kemungkinan mengatasi batasan ini melalui aksi politik langsung. Sikap yang terakhir jelas terkait dengan gagasan bahwa Amerika Latin (dan Dunia Ketiga) ditakdirkan terbelakang dan bahwa aktivitas politik merupakan satu-satunya jawaban atas situasi tersebut. Aktivisme ini mengambil bentuk perjuangan gerilya dan modelnya diambil dari revolusi Kuba. Akibatnya, mereka yang mengakui adanya kemungkinan pembangunan, kendati mengikuti jalur kapitalis, mengambil posisi di tengah-tengah antara cara pandang komunis resmi dan voluntaris ekstrem.

Read More ->>

Kamis, 22 November 2018

Media Internal dan Hubungannya dengan PR--- FDK UINAM



________________________________________
TUGAS PUBLIC RELATION

“MEDIA INTERNAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN PR”

Description: jdnjn,a.jpg
OLEH :
NISWAR KULLAH
(50500116004)



JURUSAN JURNALISTIK
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR







Media internal merupakan suatu sarana penyampaian dan penerimaan informasi di kalangan publik internal perusahaan, dan biasanya bersifat non komersial. Penerima maupun pengirim informasi adalah orang dalam atau orang dalam atau public internal, terdiri atas pimpinan, angota, pegawai, maupun unit-unit kerja yang ada di dalam perusahaan tersebut.

Hubungan antara perusahaan dengan publiknya baik publik internal maupun publik eksternal adalah hal yang perlu dijaga karena perusahaan seringkali melakukan hubungan yang lebih luas dan sifatnya kompleks. Oleh karena hal itu, keberadaan suatu media sangat dibutuhkan oleh sebuah perusahaan untuk membantu dalam menjangkau publiknya. Dengan adanya media, pesan dan informasi bisa disebar secara efektif dan merata kepada seluruh stakeholder dan shareholder perusahaan. Salah satu upaya menjembatani komunikasi antara pihak manajemen dengan karyawan, sebuah perusahaan dapat memfasilitasi dirinya dengan sebuah media internal. Dengan adanya media internal ini diharapkan terbentuk suasana kondusif dan harmonis sehingga seluruh aktivitas perusahaan dapat berjalan dengan optimal.

Untuk lebih jelasnya bagaimana itu media internal berfungsi dan apa strategi yang dibuat untuk mengoptimalkan kinerja media internal, mari kita simak. Semoga membantu.



    A. Hubungan Media Internal dengan PR

            Salah satu fungsi dari Public Relations adalah mengurusi berbagai kegiatan yang sifatnya hubungan internal. Dalam fungsi tersebut PR bertanggungjawab atas upaya yang dilakukan agar tujuan dari hubungan internal ini berjalan. Seperti yang diketahui, kondisi iklim kerja yang baik dan produktif adalah iklim yang nyaman dan kondusif. Salah satu poin penting agar hal itu tercapai adalah adanya arus komunikasi yang lancar.

            Menciptakan hubungan baik antara pihak manajemen dan karyawan dengan cara sederhana bukanlah tidak mungkin, tapi sangat sulit untuk diwujudkan. Oleh karena itu, penggunaan media dimana media memiliki kekuatan untuk menyebar pesan dan informasi dengan cepat, merata dan real time bisa dijadikan sebagai salah satu sarana memnciptakan hubungan internal yang baik.; Untuk itulah mengapa Media Internal erat kaitannya dengan PR dan kondisi lingkungan kerja yang baik. Pada umumnya kegiatan media internal berada di bawah pertanggungjawaban bagian PR.






       B. Pengelola Media Internal
           Media Internal berjalan dalam pertanggungjawaban bagian PR di suatu perusahaan pada umumnya. Meskipun demikian, bukan berarti media internal bisa dibentuk dengan asal-asalan. Proses kerja yang profesional juga sangat diperlukan dalam pembuatan media internal seperti layaknya proses pembuatan media massa pada umumnya. Untuk perusahaan yang besar, biasanya dalam bagian PR atau corporate communications-nya memiliki bagian khusus yang memegang jalannya media internal ini. Orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang yang memiliki latarbelakang media atau orang yang sudah berpengalaman dalam membuat sebuah media massa seperti sebuah redaksi pada umumnya.

         Untuk perusahaan yang lebih kecil, misalkan untuk perusahaan menengah dan kecil.media internal berada pada bagian PR dan di-handle oleh orang-orang di dalamnya tanpa membaginya ke dalam bagian khusus. Tapi tetap saja, dalam pemilihan tim yang akan menjalankan media internal, akan lebih baik jika orang tersebut memiliki latarbelakang media yang baik.

          Untuk mengelola media internal, kalangan pengelola (jajaran redaksi) harus menguasai keterampilan jurnalistik yang mencukupi, yakni keterampilan meliput, menulis, dan mengedit. Pola kerja wartawan media internal tidak berbeda dengan wartawan pada umumnya. Karenanya, jurnalis media internal pun mesti (a) menguasai keterampilan jurnalistik, (b) menaati kode etik jurnalistik, dan (c) menguasai bidang liputan atau masalah yang ditulis.

             Kelemahan mendasar yang selama ini muncul, selain soal keterampilan jurnalistik, adalah penguasaan “bahasa media” (language of mass media), yakni bahasa jurnalistik. Kelemahan dalam hal bahasa jurnalistik selama ini menjadi “jurang pembeda utama” antara media internal dan media komersil. Tulisan di media internal cenderung kaku.  Inilah yang menyebabkan kecendrungan media internal tampil kurang atau tidak menarik bagi yang membaca.


      C. Fungsi dan Tujuan Media Internal

   1. Fungsi Media Internal
            Menurut Rosady Ruslan, Media internal berfungsi sebagai media hubungan komunikasi dengan publik internal dan eksternal dalam upaya pencapaian pesan-pesan perusahaan kepada pemilik (shareholder), khalayak terkait (stakeholder) mengenai aktivitas perusahaan, manfaat produk, barang dan jasa. Selain itu, media internal, menurutnya bisa dijadikan sebagai ajang komunikasi antar karyawan. Misalnya kegiatan usaha, wisata, dan kegiatan karyawan.

          Media internal juga bisa dijadikan sarana bagi staf PR dalam hal tulis-menulis, karena hal itu kan menjadi nilai tambah bagi PR untuk menerbitkan in-house journal yang bermutu, terbit berkala dan teratur dengan penampilan yang profesional, lay-uot dan isi yang ditata secara apik dan cover yang menarik.






    2. Tujuan Media Internal
            Dari sisi tujuan, media internal berguna untuk menciptakan hubungan yang kondusif dan harmonis di lingkungan kerja antara sesama publik internal dalam perusahaan. Media internal berperan dengan melancarkan arus informasi ke seluruh publik internal perusahaan secara merata dan serempak. Jika semua orang terjangkau informasi dalam media internal, maka mereka akan merasa lebih diperhatikan oleh perusahaan dan berujung pada kondisi pekerjaan yang lebih baik untuk produktif.


        D. Jenis-Jenis dan Perbedaan Media Internal Beserta Kontennya


     1. In-House Journal

a. Newsletter 
             Sebaran dalam bentuk lembaran yang membuat berita untuk kalangan terbatas. Biasanya, jumlah halaman sedikit, sekitar 2-8 halaman dan berukuran A4. Sebagian besar isinya adalah tulisan-tulisan singkat dengan atau tanpa gambar. Percetakannya menggunakan teknik lithografi atau dapat diproduksi menggunakan mesin fotokopi kantor.

b. Surat
             Sarana dan bukti komunikasi yang sifatnya tertulis.

c. Sisipan & lampiran
            sesuatu yang di sisipkan atau pun dilampirkan dalam in-house journal sebagai informasi tambahan.

d. Internal magazine
           Jurnal internal dengan format majalah dan biasanya berukuran A4. Sebagian besar isinya adalah tulisan fitur dan ilustrasi yang bersangkutan dengan perusahaan. Adapun isi dari majalah internal adalah:


v  Masthead
v  Daftar isi majalah
v  Kolom pembuka
v  Mempunyai sampul muka dan belakang
v  Editorial / tajuk rencana
v  Majalah perusahaan diperpolehkan memasang iklan, tetapi dibatasi sekitar 10% dari jumlah halaman seluruhnya.
v  Menggunakan bahasa Indonesia-Jurnalistik yang benar





e. Company profile
         Profil/riwayat sebuah perusahaan, yang lebih banyak menampilkan aspek historis perusahaan, susunan komisaris, jajaran direksi, sistem/struktur organisasi dan manajemen, jumlah kantor cabang yang sudah ada, jenis produk atau jasa yang dikelola, hingga nilai-nilai filosofis perusahaan yang menjadi acuannya dan dikemas dalam bentuk suatu format majalah yang mewah dan menarik dan hanya diterbitkan satu kali dalam satu periode.

         Edisi berikutnya akan berisi perubahan susunan personel Komisaris atau Direksi, serta perkembangan produk barang dan jasa yang baru pada perusahaan bersangkutan. Atau pun bisa disajikan dalam format presentasi lainnya, seperti power point dan sejenisnya.

Daftar isi Company Profile, biasanya berisi sebagai berikut :


·         Introduksi
·         Kata pengantar atau sambutan dari dewan komisaris/ direktur utama
·         Sejarah, strukutr organisasi perusahaan
·         Produk barang atau jasa yang ditampilkan
·         Kinerja dan manajemen perusahaan
·         Nilai aset dan kekayaan perusahaan
·         Pengembangan perusahaan, bisnis, dan sumber daya manusia
·         Prospek dan tantangan yang dihadapi perusahaan pada saat sekarang dan di masa-masa mendatang dengan menggunakan analisis SWOT
·         Daftar kantor cabang, Alamat, Telepon, dan lainnya.

   
     2. Printed Materials

a. Brosur
        adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi
brosur adalah terbitan tidak berkala yang tidak dijilid keras, lengkap (dalam satu kali terbitan), memiliki paling sedikit 5 halaman tetapi tidak lebih dari 48 halaman, di luar perhitungan sampul.Informasi dalam brosur ditulis dalam bahasa yang ringkas, dan dimaksudkan mudah dipahami dalam waktu singkat. Brosur juga didesain agar menarik perhatian, dan dicetak di atas kertas yang baik dalam usaha membangun citra yang baik terhadap layanan atau produk tersebut.




b. Leaflet
       Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Selebaran, yaitu lembaran kertas berukuran kecil mengandung pesan tercetak untuk disebarkan kepada umum sebagai informasi mengenai suatu hal atau peristiwa.

c. Booklet
        Buklet sering memiliki sampul, halaman judul, dijilid (bisa dengan kawat sadel atau pun jahitan seperti majalah, dan ditutup dengan kertas yang sama yang digunakan untuk halaman dalam), dan memiliki jumlah halaman lebih banyak dari brosur. Bentuknya sering

          terlihat seperti buku berukuran kecil. Berbeda dengan brosur atau pamflet, buklet bukan merupakan sarana beriklan secara langsung.  Sejumlah produk konsumen seperti barang elektronik, sering menyertakan buklet berisi spesifikasi produk atau penjelasan cara penggunaan. Buklet yang menyertai barang elektronik kadang-kadang memiliki jumlah halaman yang banyak dan tidak untuk habis dibaca dalam satu kali kesempatan.

d. Poster
          Media pengumuman untuk memberitahukan sesuatu atau untuk mempromosikan produk perdagangan, yang dipasang ditempat terbuka, berbentuk lembaran kertas atau karton, papan kayu atau logam tipis.

e. Folder
        Selebaran informasi yang ditata dalam lembaran kertas yang dilipat.


      3. Face to Face
a. Lobbying
         Suatu upaya pendekatan yang dilakukan oleh satu pihak yang memiliki kepentingan tertentu untuk memperoleh dukungan dari pihak lain yang dianggap memiliki pengaruh atau wewenang dalam upaya pencapaian tujuan yang ingin dicapai. Lobbying merupakan awal dari sebuah negosiasi.

b. Negosiasi


1.       Proses tawar menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain
2.       Penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak-pihak yang bersangkutan

c. Pidato
           Ucapan yang disusun secara baik dan ditujukan kepada sejumlah orang yang hadir di suatu tempat atau ditujukan kepada umum melalui media massa radio atau televisi. Pidato dilakukan untuk berorasi, untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan orasi-orasi, dan pernyataan tentang suatu hal/peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan. Pidato biasanya digunakan oleh seorang pemimpin untuk memimpin dan berorasi di depan banyak anak buahnya atau khalayak ramai.


d. Rapat & Telekonferensi

·         Rapat : Pertemuan antara sejumlah orang yang mempunyai kepentingan yang sama.
·         Telekonferensi : suatu perundingan jarak jauh yang dilakukan dengan menggunakan perangkat televisi, baik dalam taraf nasional maupun internasional. Setiap peserta yang berada di kota ataupun Negara masing-masing dilengkapi mikrofon, kamera, dan pesawat penerima serta pemancar televisi, sehingga di satu pihak dapat berbicara kepada para peserta, dilain pihak dapat melihat dan mendengarkan suara para peserta tersebut yang berada di tempat lain.

      4. Media Sarana

a. Logo
           Huruf tunggal atau gabungan huruf atau gambar yang dilukis secara khusus, yang mengandung makna tertentu  sebagai lambang dari perusahaan, lembaga, badan, atau organisasi lainnya.

b. Brand name
          Merk atau nama yang mewakili sebuah perusahaan sebagai penanda atau pengenal (identitas) suatu perusahaan, yang telah diakui dan dilindungi secara hukum atas kepemilikannya.

c. Colour Standard
         Warna yang menjadi identitas perusahaan secara non-verbal, yang juga dilindungi kepemilikannya.

d. Uniform
        Seragam perusahaan yang dikenakan oleh para publik internal-nya. Seragam tersebut dikenakan sebagai pengenal dan pembeda dengan perusahaan lainnya dan juga dijadikan sebagai simbol kebersamaan.

e. Corporate Culture
          Budaya perusahaan bisa menjadi ciri khas yang membedakan antara suatu perusahaan dengan yang lain. Budaya perusahaan biasanya dibentuk untuk mengikat sense of belonging antar anggota perusahaan.


     5. Media elektronik
a. Internet
        dapat diartikan sebagai jaringan komputer luas yang menghubungkan pemakai komputer satu komputer dengan komputer lainnya dan dapat berhubungan dengan komputer dari suatu Negara ke Negara di seluruh dunia ,dimana didalamnya terdapat berbagai aneka ragam informasi Fasilitas layanan internet Browsing atau surfing Yaitu kegiatan “berselancar” di internet.

b. E-Mail
        E-mail adalah surat melalui media elektronik. Sebenarnya email merupakan singkatan dari “Electronic mail”. Melalui email kita dapat mengirim surat elektronik baik berupa teks maupun gabungan dengan gambar, yang dikirimkan dari satu alamat email ke alamat lain di jaringan internet.

c. E-Bussiness
          E-Business merupakan kegiatan berbisnis di Internet yang tidak saja meliputi pembelian, penjualan dan jasa, tapi juga meliputi pelayanan pelanggan dan kerja sama dengan rekan bisnis (baik individual maupun instansi). Fungsi E- Bussiness yaitu untuk mensupport bagian dari marketing, produksi, accounting, finance, dan human resource management. Proses transaksi online memegang peranan yang sangat penting pada e-business

d. E-publications
         Kegiatan mentebarluaskan informasi kepada khalayak dengan menggunakan media internet.

e. E-Commerce
          semua bentuk transaksi komersial yang menyangkut organisasi dan individu yang didasarkan pada pemrosesan dan transmisi data yang didigitalisasikan, termasuk suara, teks dan gambar. idefinisikan sebagai proses pembelian dan penjualan produk, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan komputer.


Jenis-Jenis Khalayak Media Internal
Berikut ini adalah khalayak dari media internal secara umum:


·         Pegawai/anggota
·         Pensiunan
·         Distributor
·         Pemasok/mitra usaha
·         Investor
·         Konsumen
·         Pemerintah
·         Masyarakat
·         Tokoh berpengaruh

Untuk media seperti majalah, Willcox mengkalisifikasikan khalayak media internalnya menjadi empat bagian:


1.       Majalah untuk Karyawan dan Pensiunan (Magazines for employees and retiress)
2.       Majalah untuk Shareholders dan Karyawan (Magazines for shareholders dan karyawan)
3.       Majalah untuk Staf Pemasaran dan Agen (Magazines for marketing staff and wholesalers of company)
4.       Majalah untuk Pembeli dan Anggota Asosiasi (Magazines for customers and association members)

              E. Strategi dalam Membuat Media Internal

1. Mengenali Profil Peruahaan
            Perusahaan berdiri di atas nilai-nilai keutamaan tertentu. Dalam hal ini, perusahaan mengutamakan etos efisiensi, kedisiplinan, kerja keras, dan kualitas terbaik.  Dengan demikian, Tim redaksi mesti mengemas setiap artikel dalam kerangka itu. Sebagian atas keseluruhan etos itu mesti tampak dalam setiap artikel. Dalam teori pemasaran, brand yang abstrak sekalipun mesti bisa terbaca riil dalam cuilan-cuilan cerita yang melekat pada perusahaan tersebut. Dengan menyebut salah satu aspek saja, setiap artikel mesti mampu mengantarkan asosiasi pembaca kepada brand perusahaan tersebut.

2. Membaca Segmen Pembaca
            Sebagai majalah internal perusahaan, target khalayak media internal ada pada jajaran eksekutif perusahaan, karyawan, dan rekanan perusahaan. Pembaca seperti ini diandaikan sudah tahu tentang budaya perusahaan sekaligus perlu terus diingatkan akan budaya tersebut. Mereka orang di dalam lingkaran. Ada yang berada di lingkaran pengambil kebijakan, pelaksana kebijakan, hingga objek kebijakan. Oleh karena itu, tulisan-tulisan yang hadir mesti secara jelas menjangkau kesemua lapis lingkaran tersebut. Bagi pengambil kebijakan, tulisan yang tersaji mesti tepat mewakili apa yang mereka maksud.

3. Memastikan terminologi
              Jika media internal berada dalam perusahaan otomotif, maka Motor, injeksi, mekanik, rotasi, dan centimeter cubic (cc) adalah contoh-contoh istilah yang khas dan kerap berseliweran di ruang komunikasi perusahaan. Tim redaksi dituntut belajar cepat mengenali dan memahami istilah-istilah tersebut. Saat menulis, kami juga mesti memastikan bahwa istilah-istilah yang kami hadirkan benar-benar tepat penggunaannya. Sebagaimana otomotif adalah dunia yang syarat dengan presisi, menulis pun sebaiknya demikian. Penggunaan istilah yang tepat sangat membantu mewujudkan komunikasi yang bisa dimengerti. Jika komunikasi mengandung perintah, maka perintah tersebut mesti diterima dan dilaksanakan sesuai dengan maksudnya.

4. Memastikan Target Misi 
            Tujuan sebuah perusahaan menerbitkan majalah internal bermacam-macam. Ada yang sekadar ingin menghadirkan beragam informasi tentang peristiwa apa saja yang berlangsung di perusahaan.  Ada yang lebih dari itu hendak menekankan nilai-nilai perusahaan. Untuk perusahaan yang ingin menyugestikan budaya perusahaan “corporate values” kepada pembaca majalah yang notabene adalah orang-orang di lingkaran dekat perusahaan. tentang kerja keras mereka tunjukkan lewat artikel yang memberitakan pencapaian omset dan jumlah unit yang terjual dalam periode tertentu. Tentang kompetensi dan profesionalitas mereka paparkan lewat informasi tentang pelatihan bagi mekanik dan staf bengkel. Tentang kerapian mereka sajikan lewat angka-angka dalam laporan keuangan. Tentang kepekaan sosial mereka resapkan lewat pemberian bantuan bagi usaha-usaha kecil yang tak selalu berkait dengan bisnis perusahaan. Tugas Tim redaksi adalah memastikan bahwa setiap artikel yang kelak naik cetak mengusung pesan tersebut.



5. Ketepatan Waktu 
            Aspek ini memang tidak berkait langsung dengan teknis pekerjaan tulis-menulis. Meski demikian, pekerjaan yang selesai tepat waktu akan berdampak positif bagi keseluruhan nilai pekerjaan. Rantai pekerjaan ke tahap berikutnya menjadi lancar. Majalah hadir tepat waktu ketika pembaca sedang merindukannya. Proses pekerja pun sebangun dengan isi pekerjaan.
























Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages