Senin, 16 Desember 2019

Entah apa yg merasuki mu kwkwwk

Mise maafin pia ya, selama kita menjalin hubungan sejauh ini aku belom memberikan yang terbaik dari segala hal baik dari sikapku dan sifatku.

Maafin untuk semua kesalahan yang pernah aku perbuat ,maafkan keegoisan aku,maafkan sifat kekanak kanakan aku,maafin aku kalo suka ga dengerin ,maafin kalo suka kasar,maafin kalo mau menang sendiri,maafin suka cemburu berlebihan,maafin suka membuat perdebatan,maafin suka bikin naik darah dan semua kesalahan kesalahanku

Aku masih perlu banyak belajar semoga kamu tetep mau bersamaku

Terimakasih kamu suka ngalah walaupun suka ga mau ngalah juga, terimakasih lebih sabar dibanding aku.

Meskipun kamu suka ga peduli sama aku,suka ga perhatiin aku,suka ga dengerin aku ,suka bodoamatan sama aku,suka ga ngabarin aku,sejujurnya aku sayang kamu meskipun kamu sungguh nyebelin dengan sikapmu yang begitu.

Aku tau tulisanku ini ga mungkin dibaca pasti cuma diread atau mungkin bakalan dibilang lebay tapi gapapa sore ini pia cuma pengen ngetik kayak begini aja😊

Oke terimakasih masih bersamaku semoga sampai selanjutnya dan selanjutnya
Aamiin

Loveyoumise❤️

Read More ->>

Selasa, 03 Desember 2019

KKN desa Moncong Komba

Takalar adalah kabupaten yang memiliki beragam budaya mulai dari cara mereka berinteraksi dengan orang baru sampai kebiasaan unik mereka ketika habis menggarap sawahnya.

Hari ini Selasa, 3 Desember 2019 kami mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar angkatan 61 menjalankan Proker yang baru kami rencanakan di desa Moncongkomba, kec. Polongbangkeng Selatan, kab Takalar. Walaupun kami belum melaksanakan Seminar Proker, namun kami sudah menjalankan salah satu rencana Program Kerja kami, bukan karena semangat kami yang menginginkan semua nya berjalan cepat, namun ada kesempatan yang datang disaat kami malas berpikir dan bergerak.

Pasti kalian berpikir kesempatan apa yang membuat kaum rebahan seperti kami cepat melaksanakan Proker sebelum seminar, Yaps colabs bersama anak UNM (Universitas Negeri Makassar) yang kebetulan sedang melaksanakan Proker dan sama dengan Proker yang kami usung sehingga kami bisa sama-sama menjalankan Proker pertama kami yaitu menge Cat pos kamling di setiap dusun di desa Moncongkomba ini.

Pos Kamling ini menjadi icon di desa Moncongkomba, karena halaman yang didirikan pos ini merupakan kediaman setiap Kepala dusun, sehingga bagi kalian yang sedang mencari rumah Kepala dusun, cukup melihat pos Kamling di setiap dusun yang memiliki warna dominan hijau dengan tambahan warna orange hasil colab mahasiswa UIN dan UNM.

KKN UINAM di kecamatan Polongbangkeng Selatan ini dibagi ke 10 desa atau kelurahan.
Dan Alhamdulillah kami di tempatkan di posko 4. Walaupun awal kami di tempatkan di posko ini sedikit membuat sedikit goncangan bagi saya sebagai seorang Kordinator Desa dan tentunya pemilik tempat posko ini yaitu kepala desa sendiri. Kenapa TDK!! kami harus menahan lapar di bekas tempat mes*m tanpa sambutan dari desa dan sebagainya, ditambah suasana yang mencekam, gelap, sunyi, dan cerita yang tidak baik di tempat ini sontak membuat shock teman perempuan kami, sampai2 mereka ingin mengundurkan diri dan mendaftar KKN lagi di bulan Dua. Namun kondisi bisa terkendali setelah pembimbing dan utusan LP2M memberi kami semangat untuk tetap tegar untuk kehidupan kami selama 45 hari.

Adalagi yang menarik slurr !! dari awal kami KKN di tempat ini, what is that. You know kami diundang ke sekret dusun Pattiro, tempatnya sih tidak jauh dari posko kami, dan yang paling menarik perhatian kami yaitu saat masuk dalam ruangan tersebut kami sudah di sambut oleh gelas2 dan isinya khas Desa ini. ( Pasti yg pernah berkunjung ke desa ini tau maksud saya). Tapi yang paling luar biasa Kepala desa yang kebetulan hadir di tempat itu. Memberi kami banyak masukan dan nasehat bagaimana kami bertindak selama kurang lebih sebulan. Dan suasana yang kami dapatkan di ruangan itu mengingatkan saya pada kampung halaman yang membesarkan saya.

Mau makan slurr.. jadi sampai di sini dlu com... sebenarnya saya masih punya segudang kata2 untuk saya sampaikan di blog ini..
Ketemu lagi di tulisan saya selanjutnya

NISWAR KHOELLAH
3 Desember 2019

Read More ->>

Minggu, 22 September 2019

Cara Cepat Tidur

Tidak semua orang memiliki waktu tidur berkualitas. Beberapa orang seringkali sulit tidur atau insomnia, bahkan untuk bisa tidur terkadang mereka harus meminum obat tidur.

Seorang profesor bernama Dr. Andrew Weil dari Harvard telah menemukan solusi untuk mengatasi hal tersebut. Metode yang ditemukannya tersebut bahkan bisa membuat seseorang terlelap hanya dalam waktu satu menit.

Metode tersebut bernama teknik pernapasan 4-7-8. Cara mempraktikkan metode ini pun cukup mudah. Berikut caranya:

1. Kamu bisa melakukannya dalam posisi tidur, kemudian tutup mata dan tarik napas dari hidung dalam hitungan waktu empat detik

2. Kemudian, tahan napas selama tujuh detik

3. Setelah itu, buang napas melalui hidung secara perlahan dalam hitungan waktu delapan detik

4. Kamu bisa melakukan metode ini secara berulang kali sampai kamu tertidur. Metode ini dianjurkan dilakukan empat kali.

[Baca berita dan informasi menarik lainnya hanya di www.indozone.id]

Follow, like, komentar dan tag temanmu untuk ikut bersama kita guys!

Read More ->>

Selasa, 23 Juli 2019

the master mp40 FREE FIRE indonesia MICE

『ᴾˢᴮ』MICEcr7࿐
pasti nama itu sudah tidak asing lagi di telinga para player freefire, yah, dia adalah player freefire yang dijuliki "the master mp40 indonesia" ia adalah salah satu player freefire dari tim Psb Squad,  dia lahir di Sinjai namun ia dibesarkan di Makassar. asal muasal dia suka bermain game online sejak usia 5 tahun dengan memainkan game perang, di usia yang sangat belia ia telah menorehkan berbagai penghargaan game online di kanca nasional.
Sebelum gabung di tim PSB, ia sebelumnya suka bermain solo vs squad dan mengekill musuh sebanyak mungkin alhasil dengan kemampuannya yg sangat hebat, ia langsung di rekrut oleh kapten PSB Squad.
Sebelumnya sangat banyak Squad yang tertarik merekrut MICE seperti Squad AURA dan Squad MK (mantapkali) tetapi karena kapten psb Squad sangat mengemis dan sangat menginginkan MICE masuk di Timnya akhirnya ia mau bergabung ke dalam Psb Squad, alhasil dengan bergabungnya NISWAR nama asli dari MICE, ke dalam Psb Squad ia berhasil membawa Squadnya melaju ke turnamen kanca internasional dengan melawan Squad EVOS di partai Final...
Karena kemampuan mp40 yang ia miliki maka di teamnya ia di tempatkan sebagai Rusher. Dengan usaha yg sangat keras ia sangat berharap teamnya bisa melaju hingga ke turnamen internasional lainnya dan menantang seluruh Squad yang ada di dunia.
Demi mewujudkan mimpinya ia selalu meminta dukungan kepada seluruh player Freefire khususnya di Sulawesi Selatan tak terlepas dari doa kedua orangtuanya yang selalu mendoakan kesuksesan nya di segala turnamen Free Fire.
Read More ->>

Sabtu, 13 Juli 2019

Yuk, Kenalan Dengan Guild PSB SQUAD FREE FIRE asal Sul-Sel



Berbicara tentang turnamen Free Fire, kita tentunya tidak dapat melupakan tim-tim yang berkompetisi di dalamnya. Di Indonesia, terdapat sederet tim yang berkompetisi di ajang lokal maupun nasional dan internasional, beberapa bahkan memenangkannya. Salah satu organisasi / guild yang memiliki sejarah dan andil dalam membentuk tim tim pengharum nama Sul-Sel adalah PSB SQUAD. Yuk, kenalan dengan PSB SQUAD.

Apa itu PSB SQUAD?

PSB adalah sebuah Guild multidivisi yang didirikan oleh Niswar MICE pada Agustus 2017. PSB berbasis di Sinjai, Sulawesi Selatan. PSB memiliki misi untuk membentuk SQUAD atau tim profesional di game Free Fire , dan saat ini disponsori oleh Adidas dan Honda


Player PSB SQUAD berasal dari berbagai daerah di Indonesia, ada yang dari Palembang, Jakarta, Medan, Enrekang, Bulukumba, dan Sinjai. Guild yang masuk top 10 besar global ini telah menorehkan berbagai penghargaan domestik. Seperti di turnamen di Bulukumba, PSB SQUAD keluar sebagai juara setelah mengalahkan Squad MK yg dipimpin oleh kemas pake z tak hanya itu PSB SQUAD menggila saat terbang ke Jakarta mengalahkan berbagai Squad dari berbagai daerah. Meskipun hanya menjadi Runner up atau juara dua namun PSB SQUAD menjadi juara di hati penonton setelah membantai Squad AURA dan EVOS setiap match.





Read More ->>

Kamis, 16 Mei 2019

Asal Mula Sifat Perempuan ( Suka menampar-menendang-menanduk-penuh kasih sayang)

 NAISE-NK


Nabi Nuh a.s. nama aslinya adalah Syakirin bin Malik bin Manuskah bin Idris. Beliau hidup setelah 1056 tahun wafatnya Nabi Adam Dinamai Nuh karena sangat seringnya ia menangis menyaksikan kaumnya yang menyembah berhala dan penolakannya terhadap ajaran-ajaran Allah SWT yang dibawanya. Berhala-berhala sesembahan itu ada yang bernama Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr. Pada umur empat puluh tahun, ia dikaruniai nubuat (kenabian) Selama beberapa tahun hanya seratus laki-laki dan perempuan yang mau mengikuti seruannya untuk masuk agama Islam.

Nabi Nuh a.s. diperintahkan oleh Allah SWT agar pada setiap pagi selalu menyeru kepada kaumnya di Kufah. "Hai kaumku yang lalai dengan dunia dan permainan, katakan olehmu ‘Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah”, Tidak ada Tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi Dia’," demikian ucap sang Nabi. “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui" (Q.S. 71: 2-4).

Namun dakwah Nabi Nuh a.s. tersebut malah menimbulkan keheranan di kalangan kaumnya, sebab selama ini mereka hanya mengikuti keyakinan yang diterimanya secara turun-temurun dalam menyembah berhala. Ketika Nabi Nuh a.s. tengah berdakwah, sebagian dari kaumnya malah menutup telinganya, sebagian dari mereka menutupi kepalanya dengan kain, dan sebagian yang lainnya berlarian menghindari ajakan dakwah sang Nabi. Bahkan pernah di satu kesempatan dakwahnya, Nabi Nuh a.s. dihantam dengan palu oleh salah seorang kaumnya.

Tatkala sadar, ia pun berucap, "Hai seluruh manusia yang durhaka, ucapkanlah oleh kamu sekalian bahwasanya Allah Ta’ala Tuhan Yang Esa yang tiada sekutu baginya dan bahwasanya aku dijadikan oleh Alah Ta’ala sebagai nabi yang memberi tahu kamu terhadap siksa neraka. Dan kenikmatan sorga bagi seluruh manusia yang mengikuti seruanku, dan disiksa oleh Allah Ta’ala terhadap kamu yang tidak mengikutiku. Dan bahwa namaku Nuh bin Malik."
Perkataannya itu ternyata ditanggapi oleh kaumnya dengan hantaman palu lagi. Nabi Nuh a.s. pun jatuh pingsan, sehari semalam lamanya.


Setelah sadar, ia pulang ke rumahnya. "Ya Tuhanku, bahwasanya Engkau juga yang lebih mengetahui terhadap keadaan hambamu. Di mana setiap hari kusuruh kepada mereka untuk percaya padaku dengan mengerjakan pengabdian kepada-Mu, supaya Kau ampuni segala dosa mereka. Mereka (malah) menutup telinganya dengan jarinya, karena tidak mau mendengarkan perkataanku. Dan sebagian dari mereka berlari menghindariku. Kemudian kusuruh kepada mereka dengan perlahan-lahan, namun mereka memalingkan mukanya dariku, katanya, engkau ya Allah, bukanlah sebenarnya Tuhanku. Di lain kesempatan kukatakan kepada mereka bawa imanlah kamu kepada Tuhan Yang Esa. dan kepada nabi kamu supaya diampuni oleh Allah Ta’ala dosa kamu, maka mereka menutupi telinganya dengan jarinya. Dan sebagian lagi menutup mukanya dengan kainnya. Hambamu pun pada malam hari telah menyerukan kepada mereka dengan kubukakan rahasianya bagi mereka mengenai perkataanku bahwa percayalah kamu kepada Tuhan kamu yang bernama Allah Ta’ala. Dialah Tuhan yang sebaik-baiknya memelihara kamu sekalian. Maka larilah mereka dariku dengan keluarga mereka."


Firman Allah SWT kepada Nabi Nuh, "Sesungguhnya Tuhan kamu (mengetahui) bahwa seluruh kaum itu tidaklah akan membawa iman kepadamu, melainkan segala yang ada yang menyertaimu itulah yang mendengar perkataanmu."

Pada suatu hari, Nabi Nuh a.s. melihat kaumnya yang tengah mengadakan jamuan di suatu tempat. Nabi Nuh a.s pun mengingatkan kepada mereka bahwa itu semua merupakan anugerah Allah SWT kepada mereka. "Namun kalian tidaklah bersyukur terhadap Tuhan kamu yang menganugerahkan seluruh makanan itu kepadamu Katakanlah olehmu bahwa Allah Ta’ala juga Tuhan kamu yang Esa yang tidak ada sekutu bagi- Nya. Dan bahwasanya aku ini nabi kamu yang menceritakan kepada kamu mengenai pahala sorga, dan akan disiksa di dalam neraka jika kamu tidak percaya terhadap Dia. Dan jika kamu bersyukur akan nikmat-Nya dan kamu beribadah kepada Dia, niscaya akan dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kamu di dunia ini dengan kenikmatan selama hidupmu. Dan di akhirat,,diampuni oleh Allah segala dosamu dan kamu akan dimasukkan ke dalam sorga; kenikmatannya itu kekal; tidak lagi berkesudahan. Ya kaumku, tidak kupinta kepadamu upah atau sesuatu manfaat terhadap diriku dalam menyampaikan perintah Allah Ta’ala, melainkan kepada Allah yang amat tahu terhadap keadaanku. Bahwasanya aku ceritakan kepada kamu siksaan yang amat pedih, juga akan didatangkan kepada kamu jika tidak percaya kepada Dia," tutur Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya.
Kemudian, setelah kaum kafir mendengarkan penuturan Nabi Nuh itu, mereka menghantam sang Nabi dengan palu, dan memerintahkan budak-budaknya untuk melempari Nabi dengan batu.

Untungnya, pada saat insiden itu, isteri Nabi Nuh datang dan berusaha menolong suaminya. "Jangan kamu palu dia, karena ia itu orang gila, apakah akan didengarkan kata-katanya?" katanya.
Orang-orang kaya dari kaum Nuh berkata, "Jika Engkau kasihan terhadap suamimu, enyahkanlah ia dari pertemuan ini, dan bencilah ia apabila mendengarkan kata-katanya yang tidak berguna itu." Dan salah seorang dari mereka berkata. "Sesungguhnya dia itu orang gila. Ingkarilah oleh kalian terhadap dia."

Nabi Nuh as. sedih terhadap perkataan isterinya yang mengatakannya gila. Nabi Nuh pun mengadu kepada Allah SWT, "Ya Tuhanku, bahwasanya Engkau juga Tuhan yang amat mengetahui terhadap keadaan hamba-Mu yang teraniaya oleh kaumku, maka aku meminta pertolongan kepada-Mu. Engkau juga Tuhan yang sebaik-baik pemberi pertolongan."

Nabi Nuh a.s. kemudian didatangi oleh Jibril a.s., katanya kepada sang Nabi, "Hai Nabi Nuh, kembalilah engkau dari mereka; pulanglah ke rumahmu bahwa Tuhan semesta alam menyampaikan salam kepadamu. Yang dipinta oleh hamba-Nya itu telah diperkenankan. Inilah anugerah Tuhanmu kepada kamu. Biji pohon di dalam sorga ini tanamlah olehmu. Sebelah cabangnya nanti adalah zamrud."

Nabi Nuh a.s. pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Malaikat Jibril itu. Dan memang, sebagian dari cabang pohon yang telah ditanamnya tumbuh zamrud yang hijau warnanya,
Selama empat puluh tahun Nabi Nuh a.s. selalu berada di dalam rumahnya; tidak lagi berdakwah terhadap kaumnya. Lalu setelah itu, pohon itu pun tumbuh sekitar seratus gaz’ panjangnya dan besar pohon itu pun hampir sama panjangnya. Tumbuhnya pohon unik itu menjadi buah bibir di kalangan kaum Nuh a.s.
Mereka pun bertanya kepada Nabi Nuh a.s., "Dari mana engkau peroleh benih pohon ini".

Nabi pun menyahut, "Pohon inilah yang akan melepaskan kami dari siksaan Allah Ta’ala yang akan diturunkan terhadap kamu sekalian, karena karnu tidak percaya terhadap Dia." Mereka pun tertawa-tawa mendengar penjelasan dan Nabi Nuh a.s. ini.

Sementara itu, di muka bumi komunitas orang-orang kafir semakin meluas; di belahan bumi barat dan timur. Sang Nabi mengadu kepada Allah SWT, "Ya Tuhanku, telah penuhlah atas bumi ini dari orang-orang kafir, kemudian mereka memainkan ajaran yang aku diberikan, dan tidaklah mereka menuruti seruanku. Makin bertambah saja kekafiran mereka kepada-Mu. Dan setelah ia melalaikan dari jalan kebenaran, maka janganlah Kau tinggalkan di bumi ini seorang juga dari orang-orang kafir itu. Ya Tuhanku, Engkau juga Tuhan yang menyiksa orang-orang kafir dan melepaskan orang-orang mukmin dari siksaan. Dan ampuni oleh-Mu dan seluruh hamba-Mu yang percaya kepada-Mu dan aku sebagai nabi."

Jibril kemudian mendatangi Nabi Nuh a.s., dan mengatakan, "Salamullah atasmu ya Nuh, firman-Nya kepadamu, yaitu buatlah olehmu sebuah bahtera".
"Siapakah yang akan membuatnya, dan bagaimana cara membuatnya?" tanya Nabi Nuh.
"Tuan carilah orang yang tahu mengenai pelayaran. Maka pohon kayu yang Tuan tanam itulah yang akan Tuan buat sebagai bahan. Dan cabangnya yang dari zamrud itu jadikanlah sebagal tiang-tiangnya," ujar Jibril.

Allah SWT mendatangkan tukang-tukang pembuat perahu yang berjumlah empat orang kepada Nabi Nuh. Keempat orang ini sanggup mengerjakan pembuatan bahtera. Namun, mereka mensyaratkannya agar dinikahkan terlebih dahulu. Nabi Nuh menyanggupi permintaan mereka. Di lain pihak, sang Nabi cukup bingung untuk mencarikan calon isteri-isteri mereka, karena Nabi Nuh hanya memiliki seorang anak perempuan saja. Sebagai tanda persahabatan, keempat orang tukang itu dijamu oleh Nabi untuk makan terlebih dahulu sebelum dipersilakan pulang. Dan beliau meminta kepada mereka untuk datang lagi dua hari kemudian. Setelah beres acara makan-makan itu, pulanglah tamu-tamu Nabi Nuh a.s. ke rumahnya masing-masing. Nabi mengantar mereka hingga ke luar rumah.

Aneh, Nabi masuk kembali ke dalam, dilihat di dalam rumahnya ada empat orang wanita muda yang sangat cantik, dan semua wajahnya mirip wajah anak perempuan Nabi Nuh. Beliau sendiri tidak tahu yang mana anak perempuannya yang sebenarnya. Semuanya mengaku sebagai anak Nabi Nuh as. Sementara itu, hewan-hewan peliharaannya, seekor keledai, kuda dan kucing, lenyap entah ke mana.

Pada hari yang dijanjikan, keempat tukang pembuat perahu datang ke rumah Nabi Nuh. Mereka senang sekali permintaannya untuk dapat menikah dapat terlaksana. Setelah masuk agama Islam, Nabi Nuh a.s. menikahkan mereka. "Kita akan membuat bahtera yang tidak pernah ada orang yang membuat sebelumnya baik dahulu maupun di masa datang. Adakah kalian dapat merencanakannya?" ucap Nabi a.s. memulai pembahasan perencanaan bahtera. Para tukang itu pun menyanggupinya.

Pembuatan bahtera pun mulai dilakukan. Jibril sendiri yang memberikan arahan-arahan kepada Nabi Nuh mengenai bentuk bahtera yang akan dibuat. Pada tiap-tiap papannya dinamakan dengan nama-nama Nabi hingga ada empat ribu tiga ratus empat puluh nabi. Tinggi bahtera itu adalah seribu gaz, lebarnya empat ratus gaz, tujuh tingkat tingginya, dan pintunya ada seratus buah. sedangkan layarnya berjumlah lima puluh buah.

Akhirnya, selesailah pembuatan bahtera tersebut. Bahtera yang masih terhampar di daratan itu menjadi tontonan kaum Nabi Nuh.
Allah SWT berfirman kepada Nabi, "Hai Nuh, katakan kepada mereka bahwa kalian permainkanlah Kami nanti pada waktunya, akan datang kepada kalian bencana yang amat besar dari Tuhan kamu."
Kaumnya menyahut, "Hai Nuh. kau buat bahtera ini sebagai tempat menetapmukah di sini, ataukah kau bawa terbang ke udara?"
"Sesungguhnya Tuhanku yang menyuruhku membuat bahtera ini, dan bahwasanya janji Tuhanku akan menenggelamkan kamu sekalian. Sebentar lagi akan datang siksaan itu kepada kamu," ujar Nabi Nuh a.s.. Mereka pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari sang Nabi itu.

Waktu berlalu, hingga tibalah masanya persiapan untuk menaiki bahtera. Namun, ternyata masih ada beberapa bagian dari bahtera itu yang belum dilengkapi. Dan harus ditambah persediaan kayu lagi, akan tetapi bahannya sudah habis.
Nabi Nuh pun mengadukan kepada Allah SWT mengenai hal tersebut. "Ya Nuh, suruhlah dari anak cucumu pergi mengambil (kayu) untuk membuat papan itu. Ada sebuah pohon yang sangat besar di tepi Sungai Nil. Tumbangkanlah, kemudian olehmu perintahkan (supaya) dibawa untuk menarik bahtera itu," jawab Allah SWT.

Nabi Nuh lalu menawarkan kepada anak cucunya, siapa yang sanggup menebang pohon itu. "Siapa di antara kamu yang dapat membawakan kemari pohon, kayu yang berada di tepi Sungai Nil?".
Namun tidak ada seorang pun yang menyanggupinya. Seorang di antara mereka mengatakan kepada Nabi bahwa cobalah menyuruh Ajal untuk menebang pohon itu. Ketika ditanyakan kepada Ajal, oleh Nabi Nuh, ia pun menyanggupinya. Meskipun ia akan diberi upah, namun Ajal hanya meminta barang sekadar makanan saja. Nabi Nuh pun memberinya tiga buah kue (semacam) apem sebagai bekal.

Diberi kue sebanyak itu, Ajal malah tertawa, katanya, "Ya Nabi Allah, makanan hamba untuk sehari lima puluh buah apem banyaknya, maka apa jadinya tiga buah apem yang akan diberikannya itu padaku. Tentunya tidak akan mengenyangkan perutku."
"Hai Ajal, jangan engkau ringankan mengenai apem ini yang kekuatannya lebih dari tiga ratus apem, makanlah olehmu apem itu, tetapi hendaklah engkau sebut terlebih dahulu ‘BismiIlahir-Rahmaanir-Rahiim’," Nabi Nuh meyakinkan. Benar saja, baru saja sebuah kue yang dimakan oleh Ajal, ia pun langsung kenyang. Lalu pergilah ia untuk mengemban tugas dari Nabi Nuh ini.

Di pinggir Sungai Nil, Ajal mulai menebang kayu. Hasil tebangannya, ia bawa sendiri ke hadapan Nabi Nuh. Dalam perjalanan normal, perjalanan itu dapat ditempuh selama sebulan, namun Ajal bisa menempuhnya hanya dalam waktu lima hari.

Selesailah sudah dengan sempurna bahtera raksasa Nabi Nuh. Orang-orang kafir tidak hanya menertawakan bahtera tersebut, bahkan mereka membuang kotorannya di atas bahtera. Nabi Nuh tidak kuasa melarang mereka, karena sangat banyaknya mereka yang membuang hajat di situ.
Suatu hari, ada seorang yang cacat dan berpenyakit yang hendak membuang hajat di atas bahtera Nuh. Sambil merangkak, ia menaiki bahtera. Ketika sudah sampai di atas bahtera,, ia terjatuh, dan terjerembab tepat di atas kotoran tinja. Atas kehendak Allah SWT, orang itu sembuh. Kini ia dapat berjalan normal kembali, dan kulitnya pun menjadi bersih
.
Setelah kejadian itu, gemparlah negeri Nabi Nuh dengan munculnya isu mengenai ‘khasiat’ dari kotoran manusia yang berada di atas bahtera Nabi Nuh. Berbondong-bondonglah orang mendatangi bahtera itu untuk mengambil kotoran manusia bagi penyembuhan penyakit-penyakit mereka.
Di satu hari, empat orang tukang pembuat bahtera datang bertamu ke rumah. Nabi Nuh a.s..
Nabi menanyakan mengenai perangai isteri- isteri mereka. "Ya Nabi Allah, adapun anak Tuan itu sangat indah parasnya, tetapi tingkahnya seperti keledai," jawab salah seorang di antara mereka.
"Ya Nabi Allah, anak Tuan itu terlalu indah rupanya, tetapi kalau marah tingkahnya seperti tingkah kucing, hendak menampar dan menggigit," jawab seorang yang lain.

"Ya Nabi Allah, anak Tuan itu terlalu baik parasnya, lagi amat bijaksana, namun ketika ia marah, ia akan menendang dan menggigit seperti perangai kuda," jawab yang lainnya.

"Ya Nabi Allah, anak Nabi itu sempurna akalnya lagi sabar dan murah. Satu pun tidak tercela," kata yang terakhir
"Jika demikian, yang terakhir itulah anakku, dan yang tiga orang lainnya itu dengan kudrat Allah Ta’ala-lah yang menjadikannya sebagai seorang manusia," ucap Nabi Nuh a.s.
Beberapa bulan kemudian, turunlah firman Allah SWT kepada Nabi Nuh a.s. yang berisi perintah kepadanya untuk mengunjungi Baitul Makmur. Disebabkan, Allah akan mengangkat Baitul Makmur tersebut ke langit untuk menghindarkannya dari terendam banjir.
Di tempat ibadah ini, Nabi dan kaumnya menangis pilu kepada Allah SWT. Jibril mendatangi Nuh a.s. untuk menyampaikan firman Allah SWT, Katanya, "Salamullah atasmu ya Nabi Allah, firman-Nya, rawatlah oleh Tuan sakinah Adam, dan bawalah ke bahteramu, yaitu pakaian Nabi Adam, Hawa, Nabi Syis dan Nabi Idris serta seluruh bekas perkakas rumahnya yang masih ada. Itu semua ditaruh di dalam suatu peti besar yang dinamakan tabut sakinah. Ya Nuh, himpunkan olehmu segala bibit pohon yang ada di bumi, binatang liar, dan binatang jinak, naikkaniah ke atas bahteramu."

Pada lantai pertama dari bahtera Nuh, disediakan untuk rerumputan, lantai kedua untuk manusia, binatang jinak pada lantai ketiga, binatang liar pada lantai keempat, binatang buas pada lantai kelima, dan biji-bijian disimpan di lantai ketujuh. Persiapan pelayaran terus dilakukan. Nabi Nuh memasak makanan apem sebagai bekal di perjalanan. Saat makanan tengah dimasak, terdengar bunyi mendidihnya yang keras, konon, itulah pertanda bencana banjir yang akan segera datang

Kini seluruh binatang, biji-bijian, rerumputan, seluruhnya amat sangat banyaknya, dan orang-orang mukmin siap menaiki bahtera Nuh. Ada satu binatang yang tidak naik, yaitu Khar. Binatang ini sebenarnya adalah Iblis. Namun nabi Nuh menyuruhnya untuk naik juga, ia pun bersedia naik ke bahtera. Isteri Nabi Nuh, Wafilah, dan anaknya, Kan’an, juga disuruh untuk menaiki bahtera, namun sayang, mereka enggan pergi bersama ayahnya dan orang-orang mukmin.
Keduanya menyahut, "Tidaklah kami akan menaiki bahtera beserta Anda , kami akan naik ke atas bukit, niscaya terpeliharalah kami dari terendam air."
Hujan yang sangat deras mulai mengguyur bumi. Bumi terbelah mengeluarkan air yang begitu derasnya pula. Saat itu adalah tanggal 9 Rajab. Dan pada waktu Nabi Nuh berumur 600 tahun.

"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dan papan dan kayu.” (Q.S. 54: 11-13).

Dalam Surat yang lain dinyatakan: "Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.” (Q.S. 71:25).

Ajakan dari Nabi Nuh itu tetap ditolak oleh anaknya Kan’an. "Aku akan naik dengan mereka ke atas bukit, maka terhindarkanlah aku dan terendam air," kata Kan’an.
Gelombang besar telah memisahkan mereka. Akhirnya, air sudah mencapai puncak bukit dan kemudian menenggelamkannya Menyaksikan kejadian itu, Nabi Nuh menyesali diri.

Munajatnya kepada Allah SWT, “Ya Tuhanku, sesungguhnya janji Mu-lah yang sebenarnya. Telah menyesallah hatiku menyaksikan keadaan anak cucuku yang telah tenggelam. Maka tidaklah dapat bersabar hamba-Mu, ya Tuhanku. Ya Tuhanku, jika kiranya Engkau kembalikan penghuni rumahku, dan isteriku, dan anak cucuku kepadaku maka sesungguhnya janji-Mu juga yang sebenarnya dan Engkau juga yang Maha Benar dan Engkau Tuhan vang Maha Pemberi Hukuman dan segala yang menghukum yakni yang Maha Tahu dari segala yang mengetahui."

Allah SWT menjawab, "Hai Nuh, bahwasanya mereka itu adalah bukan dari penghuni rumahmu, sesungguhnya mereka melakukan pekerjaan yang tidak baik, maka bukanlah ia dari anak cucumu. Adapun mereka yang percaya terhadap Aku itulah, yang merupakan termasuk anak cucumu. Maka janganlah kautanyai kepada-Ku terhadap apa-apa yang tidak engkau ketahui tentang hal itu. Dan Kuciptakan engkau, (maka) hendaklah engkau jangan termasuk orang yang bodoh”.

Nabi Nuh a.s. merasa bersalah atas munajatnya tersebut, ia pun memohon ampunan. “Bismillaahi majreha wa mursaha inna Rabbi laghafuururrohiim”.
Riwayat Lahirnya Babi, Tikus, dan Kucing
Bahtera yang membawa orang-orang mukmin dan makhluk-makhluk lainnya berlayar dengan tempat tujuan yang belum pasti. Sementara itu disebabkan oleh banyaknya makhluk hidup di atas bahtera, dan pengaturan pembuangan kotoran manusia dan binatang yang tidak memadai, akhirnya di atas bahtera dipenuhi oleh kotoran para penumpangnya. Nabi Nuh pun memohon kepada Allah SWT untuk menghilangkan kotoran yang menumpuk itu.
Melalui Jibril, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk menyapu dahi seekor gajah. Setelah diikuti perintah itu, keluarlah dari belalai tersebut sepasang babi. Oleh binatang itu, kotoran-kotoran di dalam bahtera dimakannya. Para pengikut Nabi Nuh keheranan menyaksikan takdir Allah yang demikian. Namun oleh Iblis, yang ikut di dalam bahtera itu, bagian belakang dari babi itu disapunya. Lalu muncullah dari hidung babi tersebut sepasang tikus Tikus-tikus itu ternyata menggerogoti papan-papan bahtera dan barang-barang yang ada. "Dari mana sebab datangnya semua ini dihabisi seluruh isi bahtera ini," ujar Nabi Nuh heran.

Jibril mendatangi beliau, dan mengatakan, "Iblislah yang empunya kerjaan itu. Disapunya bagian belakang babi, kemudian keluarlah binatang itu, ya Nuh. Sapulah oleh Tuan bagian belakang harimau itu, niscaya dikeluarkan oleh Allah Ta’ala binatang yang membunuh tikus itu”.

Benarlah, tatkala Nabi mengusap bagian belakang harimau, maka keluarlah sepasang kucing yang kemudian segera memburu tikus-tikus sebagai makanannya. Demikianlah, sejak kejadian itu, tikus dengan kucing menjadi bermusuhan.
Nabi Nuh a.s. penasaran terhadap perbuatan Iblis, maka ia pun bertanya kepadanya, "Apa sebabnya engkau sapu bagian belakang babi itu, adakah firman Allah terhadap hal yang demikian itu?"
Iblis menyahut, "Kulihat Tuan menyapu belalai gajah, maka dikeluarkan oleh Allah Ta’ala sepasang babi. Maka kusapu pula bagian belakang babi, maka Allah mengeluarkan tikus. Bahwa kehendak Tuan pun dikabulkan, dan kehendak aku pun dikabulkan juga oleh Allah Ta’ala."

"Siapa yang menyuruh engkau naik ke atas bahtera ini beserta kami?" tanya Nabi Nuh kepada Iblis.
"Bahwasanya yang menyuruhku itu keinginan diriku sendiri juga. Telah berpuluh-puluh laksa2 kaumu hingga tidak terbilang banyaknya, dan mereka, menurutku, mereka dibinasakan oleh Allah Ta’ala karena sebab Tuan. Maka keinginan hamba hendak membinasakan seluruh isi bahtera ini., padahal hamba mengetahui tidaklah dapat melewati takdir Allah Ta’ala," jawab Iblis.

Nabi Nuh marah dan mengusir iblis ketika mendengar pengakuannya. "Mengapa sekarang Tuan mengusir, sedangkan dahulu Tuan suruh naik kepada binatang khar itu?" sergah iblis.
Nabi Nuh berada di dalam bahtera dimulai tanggal 9 Rajab hingga 10 Muharam. Di bulan Muharam itu, datanglah Jibril kepada Nabi Nuh, dan mengatakan, “Salamullah atasmu ya Nuh, telah jauhlah engkau dari orang- orang kafir, dan telah sejahteralah engkau terhadap kebinasaan seperti firman Allah Ta’ala: ‘Hai Bumi telanlah olehmu air itu. Dan, hai langit, tahanlah olehmu air itu’."

Maka redalah air hujan. Kemudian bahtera bertawaf, tujuh keliling di Ka’bah. Setelah selesai, rombongan melaju ke arah wilayah Syam. Daerah-daerah perbukitan yang ada di bumi telah dilaluinya. Bahtera kini berada di atas bukit Yudiy (Yudiy adalah salah satu bukit yang terletak di wilayah Armenia bagian selatan, berbatasan dengan Mesopotamia). Perlahan-lahan air pun mulai surut.

Firman Allah kepada Jibril, “Hai Jibril, belahlah olehmu bumi supaya cepat surut airnya, karena hamba-Ku, Nuh, dengan orang-orang yang menyertainya itu bertahan di dalam bahtera”.
Jibril pun menuruti apa yang Allah perintahkan itu. Dengan sayapnya ia membelah bumi sehingga terbentuklah tujuh samudera lautan yang sangat dalam hingga ke lapisan ketujuh dari bumi. Kemudian sampai kepada tempatnya ikan Nun yang bernama Bahrul Qudrat. Beberapa hari kemudian air pun mulai surut. Ketika air sudah, surut, Bahtera Nuh berlabuh di atas bukit Yudiy.
Mengapa Itik Tidak Bisa Terbang dan Burung Merpati Jinak?
Nabi Nuh menyuruh hewan itik agar melihat keadaan surutnya air. Sang itik sangat senang mendapat perintah demikian. Namun ia hanya terbang kesana-kemari tidak karuan, sehingga si itik melupakan perintah dari Nabi Nuh a.s. Sementara itu, Nabi tetap bersabar menanti kedatangan itik, namun hewan ini tidak juga datang. Kemudian Nabi pun menyuruh burung merpati untuk memeriksa surutnya air.
Tatkala merpati melihat merah kakinya yang direndam di air, barulah ia dapat mengetahui bahwa air sudah surut. Lalu dilaporkanlah apa yang sudah diperiksanya itu.

Nabi senang atas kerja dari burung merpati, ia pun memanjatkan do’a kepada Allah "Ya Tuhanku, kiranya Kaujinakan burung itu kepada manusia, dan manusia pun mengasihi kepadanya, dan peliharalah burung itu oleh mereka."
Sementara itu, beberapa hari kemudian datanglah itik kepada Nabi Nuh. Nabi cukup marah melihat kedatangan itik, ucapnya, "Hai hewan itik, kiranya akan diambil oleh Allah kekuatan sayapmu untuk terbang dan adalah engkau mencari kehidupanmu pada tempat-tempat yang kotor di tempat bawah manusia."
Oleh karena itu, sejak saat itulah itik tidak lagi bisa terbang tinggi, sedangkan burung merpati menjadi jinak.

Pembuatan Khamar Pertama oleh Iblis

Dengan surutnya air, rombongan Nabi Nuh mulai turun dari bahtera. Kemudian Jibril datang, dan berujar, "Ya Nabi Allah, keluarkanlah oleh Tuan segala benih pohon buah-buahan itu, kemudian tanamlah oleh tuan."
Seluruh biji pohon sudah dikumpulkan, namun Nabi Nuh tidak mendapati biji anggur. Ketika ditanyakan kepada Jibril mengenai kehilangan itu, dijawabnya bahwa biji tersebut telah dicuri oleh iblis, dan Nabi Nuh disuruh mengambilnya kembali.

Nabi Nuh pun menemui Iblis dan memintanya kembali biji anggur yang telah dicurinya. Namun Iblis mengelak dari tuduhan itu. Nabi sendiri bersikukuh bahwa iblislah yang mencuri anggur, karena Allah-lah yang memberitahunya Akhirnya Iblis pun mengakuinya.
Setelah minta perjanjian kepada Nabi Nuh agar ia ikut menyiram (memanen)-nya setelah Nabi menyiramnya dua kali, maka ia akan mengembalikan barang curian itu. Nabi pun menyanggupinya. Nabi Nuh menanam benih anggur yang sudah dikembalikan oleh iblis, dan menyiramnya (memanen) dua kali.

Giliran Iblis yang mengurusi pohon anggur selanjutnya. Namun iblis menyirami pohon anggur itu dengan air kencingnya sebelum tumbuh, dan dengan darah babi dan anjing setelah mulai tumbuh tinggi. Oleh karenanya, orang yang meminum anggur yang memabukkan, maka perangainya seperti babi dan anjing. Sehingga orang yang meminum arak, dirinya akan menjadi sombong dan menjadi jahat. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan meminum arak.

Setelah selesai keinginan Iblis untuk memanen anggur dengan ‘gayanya’ sendiri, ia menghadap kepada Nabi Nuh. Nabi Nuh mengajukan pertanyaan, "Ya Iblis, dengan air apa kausiramkan pohon anggur itu?" Iblis menyahut,
"Ya Nabi Allah, telah kusiramkan dengan darah babi dan anjing. Bahwasanya keinginan Nabi Allah pun dilaksanakan, dan kehendakku pun terlaksana, yaitu dengan dikabulkannya seperti sekarang, dan tiadalah dapat berdusta hamba kepada tuan. Maka tanyalah kepada hamba apapun yang Tuan inginkan, dan tidak dapat tidak hamba akan katakan apapun yang sebenarnya”.

Iblis Membuka Rahasianya

"Hai Laknatullah, apa kesalahanku kepadamu maka engkau mendengki kepadaku, dan kepada anak cucu Nabi Adam, karena kulihat engkau ini lain dari apa yang diucapkan, dan hendak menimpakan kejahatan seperti orang yang mendengki," kata Nabi Nuh.
Iblis menyahut, "Bahwasanya aku tidak dapat durhaka kepada engkau, dan tidak berhasil tipu dayaku terhadap engkau dan para nabi Allah. Hanya saja, selain dari itu, dapat kuceritakan bahwa orang yang tidak berhasil terpedaya olehku adalah orang yang sangat ikhlas dan takut hatinya kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya telah kupinta do’a kepada Allah Ta’ala, dan telah dikabulkan Allah Ta’ala permohonanku itu hingga hari kiamat, dan telah berapa ratus ribu dari makhluk-makhluk yang dimatikan oleh Allah Ta’ala tetap dalam kekafirannya agar penuh neraka dengan mereka ini. Demikian itulah yang dikehendaki olehku."
Nabi Nuh a.s. menangis ketika diceritakan hal itu. Beliau menangisi nasib umatnya kelak yang akan banyak dijerumuskan oleh iblis ke dalam neraka. Iblis kembali berkata, "Hai Nuh, engkau bernama Syakirin yang artinya pandai bersyukur, itulah maka tidaklah dapat aku mendekatimu dan tidak dapat aku berdusta kepadamu, karena engkau bapak dari segala anbiya ‘alaihimussalaam."

Nabi Nuh menanggapinya, “Hai laknatullah Ta’ala atas kepalamu, kutukannya kepadamu oleh karena apa? Sehingga engkau bekerja membuat bencana terhadap anak cucu Nabi Allah Adam ‘alaihissalam, dan karena apa engkau mengajak kepada Nabi Adam a.s. sedangkan tidak seorang nabi pun yang berbuat jahat kepadamu. Kemudian kau tipu Nabi Adam, dan kau suruh ia memakan buah pohon yang dilarang untuk memakannya oleh Allah Ta’ala. Sehingga menjadi turunlah ia ke bumi dari tempat sebelumnya yang mulia.”

Iblis menyahut, "Tidakkah Tuan mengetahui bahwa oleh sebab Adamlah maka aku terkena laknat Allah. Oleh sebab itulah maka kuminta kepada Allah Ta’ala empat perkara yang kukenakan kepada anak cucu Adam. Pertama, saling mendengki di antara mereka. Kedua, tamak dan mengambil harta sesamanya dengan cara yang tidak benar. Ketiga, membesarkan dirinya, dan mengangkat dirinya dengari sikap takabur dan dusta. Keempat, kikir; karena sikap inilah yang terbanyak akan memenuhi api neraka."

Nabi Nuh berujar, "Hai Iblis, sesungguhnya engkau dimurkai Allah Ta’ala itu dikarenakan engkau mengabaikan perintah Tuhanmu Yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan tidak karena perbuatan Nabi Adam atau perintahnya, sedemikian sehingga engkau menjadi kena laknat. Jika ada yang lain sebelumnya dari hal ini, katakan olehmu kepadaku supaya dapat kuketahui."
Iblis menjawab, "Ketahuilah olehmu Nuh, beberapa ratus tahun aku berbakti kepada Allah Ta’ala hingga kemudian aku sampai ke langit lapisan ketujuh. Kemudian aku bermohon pula kepada Allah Ta’ala untuk turun ke bumi untuk berbuat kebaktian bersama malaikat yang menyertaiku”.

"Beberapa ratus tahun aku sujud kepada Allah Ta’ala dengan segenap pengabdianku dan sikap takutku kepada Dia. Kemudian aku beserta para malaikat yang menyertaiku, diperintahkanlah oleh Ta’ala untuk sujud kepada Adam. Kemudian datang bencana bagiku bahwa di dalam hatiku tidak mau sujud kepada Adam. Maka dimurkailah aku oleh Allah Ta’ala dengan turunnya laknat. Akulah yang pertama yang mendengki dan akulah yang pertama kalinya pula menyombongkan diri terhadap Adam. Sehingga kulalaikan perintah Allah Ta’ala dengan tidak mau sujud kepada Adam disebabkan oleh sikap takaburku. Kukatakan terhadap diriku bahwa aku melebihi daripada Adam. Maka sejak hari itulah jatuh laknat atas kepalaku, disebabkan oleh perkataanku kepada Tuhanku, ‘Kauciptakan aku dari cahaya api, dan Kauciptakan Adam dari tanah. Sehingga tidaklah harus cahaya bersujud kepada yang kelam itu!”.

"Dalam perkataanku menyatakan bahwa akulah yang terbaik daripada Adam, kemudian tiba-tiba jadilah aku lebih jahat darinya dengan memperoleh murka dan laknat, sebab menyombongkan diriku kepadanya dan mendengki terhadap dia. Oleh sebab itulah, maka aku dikeluarkan oleh Allah dari kelompok para malaikat yang banyak itu. Demikianlah, tidak ada dosaku satu pun kepada Allah Ta’ala yang lain kecuali itu. Selanjutnya kuperbuat bencana kepada Adam dengan kutipu dia. Kusuruh memakan buah khuldi pohon yang dilarang oleh Allah Ta’ala kepada Adam untuk memakannya. Kataku kepada Adam bahwa jika engkau memakan buah pohon ini, niscaya kekallah engkau di dalam sorga ini, kemudian diturutinya perkataanku itu”.

"Setelah dimakan buah itu oleh Adam dan Hawa, disebabkan oleh rakusnya untuk mengharapkan tidak mati sekalipun, maka keluarlah ia dari dalam sorga. Kemudian ditemui oleh mereka duka cita dan kejahatan serta kematian di dalam dunia ini. Dan telah diturunkan ketetapan terhadap aku bahwa neraka sebagai tempatku selama-lamanya”.
"Ketika Allah Ta’ala menciptakan sorga Jannatul Firdaus dengan segala tanaman dan sungainya dan berbuahlah seluruh pepohonan itu dengan tidak berkesudahan. Maka firman Allah Ta’ala kepada sorga, ‘Sesungguhnya Kudapatkan engkau haram atas semua orang yang kikir dan takabur masuk kepadamu, dan enggan (merindukan) kepadamu’. Oleh karena itulah yang terbanyak masuk ke dalam neraka itu orang yang kikir dan takabur’.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Nabi Nuh itu, Iblis pun memberi salam dan pergi meninggalkan Nabi.
Mendengar pengakuan dari Iblis itu, semakin mendalamlah kesedihan Nabi Nuh. Kemudian turun firman Allah kepadanya, melalui Jibril, "Hai Nuh, turunlah engkau dari bahteramu penuh dengan kesejahteraan, dan Kami beri berkah atasmu dan umat yang menyertaimu, dan seluruh umat yang kemudian dari golonganmu akan Kami anugerahi mereka kesenangan. Kemudian, akan Kami rasakan kepada mereka siksaan yang amat pedih di negeri akhirat (jika mereka durhaka). Hai Nuh, buatlah olehmu sebuah mesjid sebagai tempatmu beribadah kepada Aliah Ta’ala dari kayu bahteramu itu".
Mesjid pun segera dibuat oleh Nabi dan delapan puluh orang laki-laki yang menyertainya. Diceritakan bahwa tiga orang putra Nabi Nuh. Yafiah menurunkan anak cucunya menjadi bangsa Habsyah dan Hindustan; Syam menjadi bangsa ‘Azam, Masqulan, dan Turki; sedangkan Ham menjadi bangsa Romawi dan Arab.
Pada umur 1000 tahun, Nabi Nuh wafat. Sebelum wafatnya, beliau berwasiat kepada anak cucunya, "Hai seluruh anak cucuku, bahwasanya kulihat dunia ini seperti suatu rumah juga, kita masuk dari satu pintu, kemudian kita akan keluar dari satu pintu (lainnya). Hanya saja, janganlah engkau ubah janji Allah Ta’ala yang telah mengikat janji dengan kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengubah janji-Nya dengan kamu."
Setelah kepergiannya ke Rahmatullah, semakin menyebarlah anak cucunya ke penjuru dunia. Beberapa lama kemudian, banyak dari mereka yang berbuat durhaka kepada Allah Ta’ala.
-FIKIH-
Read More ->>

Jumat, 25 Januari 2019

KEKAYAAN SEBENARNYA - NISWAR KULLAH

"Kalau untuk menunjukkan bahwa Anda
orang kaya lantas anda mengatakannya
kepada orang-orang, berarti Anda belumlah
benar-benar kaya."
-Niswar Kullah (mahasiswa UINAM)



Apa yang dimaksud dengan kaya?
Maksud saya adalah kaya dalam arti
yang sesungguhnya, yakni benar-benar
kaya? Tentunya kata kaya ini bisa kita
artikan dengan cara yang berlainan,
bergantung pada interpretasi dari setiap
orang. Akan tetapi, bagi saya sendiri,
yang dimaksud dengan kaya bukanlah
hanya karena kita bisa membeli semua
yang diinginkan (meskipun harus diakui,
alangkah senangnya kalau kita bisa seperti itu!). Untuk saya, kaya yang sesungguhnya
adalah kalau kita memiliki kebebasan
Untuk jelasnya, berikut ini adalah
definisi saya pribadi mengenai apa yang
dimaksud dengan kaya. Dalam definisi
saya ini sudah tercakup semua hal paling positif yang akan kita peroleh kalau kita berhasil menjadi orang yang benar-benar
kaya



"Yang dimaksud dengan kaya adalah kalau
kita memiliki cukup uang dan cukup waktu
untuk melakukan apa yang kita inginkan kapan pun kita mau."
Nah! Sekarang, apa pendapat Anda?
Apakah menurut Anda Bill Gates, yang sudah
jelas-jelas adalah orang yang superkaya
raya, mempertahankan profesinya sebaga
pemilik dan pucuk pimpinan Microsoft
karena dia terpaksa atau karena memang
dia menginginkannya? Yang jelas, Bill
Gates memiliki cukup uang dan cukup
waktu untuk melakukan apa saja yang dia
inginkan, kapan saja dia mau, karena ia
sudah berhasil menjadikan dirinya sebagai
seorang kaya sejati. Oleh karena itu, dia
tidak hanya menjadikan dirinya orang yang
berpenghasilan besar saja. Dengan demikian
kita baru bisa dikatakan kaya sejati kalau
kita bisa mendapatkan kebebasan
Kekayaan Berarti Memiliki
Kebebasan untuk Memilih
Chuck Feeney adalah juga orang kaya
raya seperti halnya Bill Gates. Sebagai
pendiri ratusan buah toko bebas pajak di
bandara-bandara seluruh dunia, Feeney
adalah jelas orang yang superkaya raya
Lebih tepatnya dia adalah mantan orang
superkaya raya. Hal ini karena pada tahun
1984, ia telah menyumbangkan 99,5%
dari kekayaannya yang berjumlah 3,5
milyar dolar kepada sebuah yayasan sosial
Sekarang ini, dia giat menyumbangkan
waktu dan uangnya untuk tujuan-tujuarn
sosial di seluruh dunia.
Baik Bill Gates maupun Chuck
dengan kaya yang sejati itu adalah kalau
kita memiliki kebebasan sepenuhnya untu
memilih cara kita meluangkan waktu dan
uang kita. Sementara Gates memilih untuk
meluangkan waktunya dengan menciptakan
lebih banyak lagi kekayaan, Feeney memilih
meluangkan waktunya dengan jalan
menyumbangkan kekayaannya. Hal yang
memungkinkan kedua orang tersebut bisa
memilih jalan hidupnya masing-masing
adalah karena keduanya memang sama-
memahami benar bahwa yang dimak
' sama benar-benar kaya.
Luangkahlah Waktu Anda dengan Bijak
Kebanyakan orang mengira bahwa
yang dimaksud kekayaan sejati adalah
jika memiliki banyak uang sehingga bisa
membeli segala yang diinginkan. Akan
tetapi, orang yang bijak memahami betul
bahwa kaya yang sejati bukan hanya berarti
kita bisa lebih banyak membeli sesuatu
Menurut mereka, kaya sejati itu juga
jika kita bisa lebih banyak waktu untuk
melakukan apa yang ingin kita lakukan
Coba Anda renungkan sejenak
Bayangkan kalau kita sudah tua nanti
Rambut kita sudah mulai beruban dan
kita sedang duduk di depan rumah jompo
Saat itu, kita sedang berpikir ke belakang,
tentang waktu-waktu yang telah kita
lewatkan dalam hidup ini. Menurut Anda
hal-hal apa saja yang lebih kita sesali?
Apakah kita lebih menyesal karena kita
tidak bisa membeli rumah yang lebih
baqus? Atau, kita lebih menyesal karena
kita tidak bisa meluangkan lebih banyak
waktu dengan anak-anak ketika mereka
masih kecil?
Lalu, hal mana yang lebih anda sesali?
Tidak bekerja sungguh-sungguh di kantor
ehingga karir kita kurang maju? Atau
menyesal karena tidak bisa meluangkan
cukup waktu untuk orang tua kita, atau
untuk teman-teman kita pada saat mereka
Membutuhkan kita?
Waktu adalah suatu komoditas yang
sangat berharga, bahkan jauh lebih
berharga daripada emas sekalipun. Karena,
setelah waktu berlalu maka waktu itu tidak
pernah akan kembali lagi! Contohnya, jika
mobil kita rusak, kita bisa saja membeli
mobil yang baru. Kalau Anda kehilangan
pekerjaan, Anda bisa mencari pekerjaan
lainnya. Kalau Anda kehilangan uang karena
bisnis Anda gagal, Anda bisa mencari uang
dengan cara lain. Akan tetapi, Anda tidak
akan pernah mendapatkan waktu Anda
kembali kalau sudah telanjur Anda lewatkan
dengan sia-sia. Betul, kan? Jadi, jelasnya,
kalau waktu sudah berlalu maka waktu itu
akan hilang selamanya
Sebuah peribahasa Cina mengatakan
adalah lebih baik membuang semua
kekayaan kita dalam sumur yang dalam,
daripada membuang sia-sia sedikit waktu:
yang kita miliki
Oleh karena itu, kaya sejati adalah kalau
kita bisa memiliki cukup uang dan cukup
waktu untuk melakukan apa saja yang kita
inginkan, kapan pun kita menginginkannya
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keuntungan
terbesar kalau kita bisa menjadi orang kaya
sejati adalah bahwa kita akan memiliki
kekayaan kita dalam sumur yang dalam,
h yang kita miliki
kebebasan untuk memilih dengan cara apa
kita meluangkan waktu kita,
Menciptakan Penghasilan
Merupakan Jebakan bagi Waktu Kita
Mungkin Anda pernah mendengar
tentang para dokter atau pengacara yang
penghasilannya mencapai $150.000 dolar
per tahun. Akan tetapi, ironisnya, mereka
sering merasa terjebak dalam menjalani
kehidupan ini. Kalau begitu, apakah
menurut Anda mereka itu adalah orang
orang yang sedang menciptakan kekayaan
sejati? Kalau kita membandingkan dengan
definisi yang saya berikan di atas tentang
arti kata "kaya", jawabannya tentu "tidak
Mengapa demikian? Walaupun banyak
rofesional berpenghasilan besar dan
mempunyai uang untuk membeli
melakukan apa yang diinginkan, kebanyaka
dari mereka tidak punya cukup waktu
Wajar saja sebab mereka harus bekerja
habis-habisan. Mereka harus bekerja
keras untuk mendapatkan penghasilan
agar mereka bisa mempertahankan gaya
hidup mereka. Mereka-yang terperangkap
dalam pekerjaan, baik pekerjaan yang
berpenghasilan rendah maupun yang
tinggi-adalah korban-korban dari penciptaan
penghasilan, bukan penciptaan kekayaan
sejati
Dengan menciptakan penghasilan,
berarti Anda melakukan barter antara
waktu Anda dengan uang yang Anda
peroleh. Oleh karena itu, Anda tidak akan
mendapatkan uang kalau tidak bekerja
Baik untuk seorang pengumpul sampah
yang berpenghasilan hanya $5,15 per jam
maupun seorang dokter ahli bedah jantung
yang bisa berpenghasilan $5.000 per jam,
penciptaan penghasilan itu sama-sama
menggunakan sistem barter antara waktu
dan uang tadi. Kalau kita bekerja 10 jam,
berarti kita akan menerima bayaran sesuai
dengan 10 jam kerja kita.
Hanya sayangnya, penciptaan peng-
hasilan itu bagaikan lingkaran setan. Oleh
karena itulah, saya menyebut penciptaan
penghasilan ini seperti jebakan barter uang
dan waktu. Lebih memprihatinkan lagi, Jika
lingkaran setan ini akan berhenti berputar
pada saat penghasilan Anda juga berhenti.
Artinya, jika pekerja itu sakit, cacat, atau
diberhentikan, mereka tidak berpenghasilan
lagi
Kalau Pengeluaran Sama dengan
Pemasukan
Sekarang, marilah kita melihat
gambaran tentang profesional-profesional
yang dianggap "kaya". Ambil saja contoh
John Smith, M.D., yang penghasilan
tahunannya sebesar $150.000. Kalau
dibandingkan dengan penghasilan standar
kebanyakan orang, jumlah $150.000
pertahun ini sudah sangat besar. Akan
tetapi, orang-orang profesional seperti ini
lama-kelamaan menjadi begitu bergantung
pada penghasilannya demi mempertahankan
gaya hidupnya. Mereka ini sudah masuk ke
dalam perangkap barter waktu dan uang
tadi
Read More ->>

Minggu, 20 Januari 2019

Makkarappo_Petani_Batuleppa





Membajak kebun atau dalam bahasa bugisnya Makkarappo adalah kegiatan yang rutin di lakukan oleh para petani saat memasuki musim hujan. Kegiatan ini bertujuan agar pemberian pupuk dalam tanaman tertentu bisa bekerja dengan efektif dan membuat tanaman lebih subur.

Prosesnya terbilang gampang gampang susah, disamping mencabut semua rumput yang berada disekitar tenaman lalu dikumpulkan, nantinya tanaman seperti merica ini bakal di pangkas guna memudahkan cahaya matahari menerpa tanaman (berfotosintesis).

Di daerah Sinjai tepatnya di Desa Talle Dusun Batuleppa, setelah menyelesaikan penanaman padi di sawah, petani akan beralih ke kebun untuk memeriksa apakah dalam 8 bulan tersebut ada tanaman yang mati atau membutuhkan inang (simbiosis komensalisme). Biasanya tanaman yang mati akan diCarikan tanaman baru, tapi sebelum mengganti, terlebih dahulu dilakukan penggalian (ma'gandong). Cara ini dilakukan agar tanaman baru bisa menyerap air saat turun hujan.
.
. Salam Petani Desa
Read More ->>


Penulis Bang Adian 🤗🤗

Menjadi jurnalis buat sebagian orang adalah panggilan jiwa. Talenta mereportase dan menulis sebagai basis, menjadikan seseorang terpanggil untuk menjadi wartawan. Tapi, ada pula yang memilih pekerjaan ini lantaran belum diterima di profesi lain.
Meski demikian, ketika seseorang sudah menyandang predikat wartawan, ia dipaku dengan sejumlah aturan. Kalangan jurnalis akrab menyebutnya dengan Kode Etik Jurnalistik.
Selain itu, ada banyak hal yang berkenaan dengan profesi wartawan yang tidak terangkum dalam Kode Etik. Tiap perusahaan kemudian memberikan panduan. Sejumlah organisasi profesi pers, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) misalnya, juga memberikan panduan.
Pengalaman beberapa jurnalis senior juga menjadi bahan pegangan. Dari semua itu, poin-poin ini saya jabarkan. Sejujurnya ini banyak diambil dari pengalaman di lapangan, mengikuti rapat keredaksian, dan saling bertukar pendapat dengan sesama wartawan. Rata-rata semua sepakat dengan kesepuluh poin ini. Ada memang beberapa lainnya, tapi saya fokuskan saja menjadi sepuluh. Ini niatnya sekadar memudahkan saja. Sumpah, Gan! Mau dibikin lebih panjang pun tak masalah. Ibarat merangkum senarai teks panjang, demikian pula di noktah ini. Oke, kita mulai.


Pertama, tidak boleh menolak tugas. Para bos media acap mempersamakan jurnalis dengan polisi atau tentara. Begitu ada perintah untuk turun ke lapangan, saat itu juga berangkat. Entah dalam kondisi apa kita saat itu, wajib berangkat. Ada tidaknya kendaraan menuju lokasi kejadian, tidak boleh menjadi alasan. Begitu ada tugas yang harus dikerjakan, ya dilakoni. Menolak tugas, itu sama saja mencari "mati". Di militer disertir namanya. Dalam konteks jurnalis juga begitu. Bahkan, beberapa aturan perusahaan menuliskan "jurnalis yang menolak tugas sama artinya mengundurkan diri". Bisa mampus kan? Kalau tentara dan polisi punya jadwal piket, demikian juga wartawan. Ia mesti bersiaga jika ada kejadian yang mesti direportase.
Kalau pemimpin redaksi memerintahkan mesti berangkat meliput, jawab dengan satu kata saja. Diksinya pilih yang enak diucap di mulut. Bisa "baik", "oke", "siap", meluncur", "OTW". Intinya, jangan pernah menolak tugas. Kecuali reporter yang bersangkutan masih cuti menikah. Kalau si pemimpin redaksi memerintah, ya keterlaluan namanya. Namun, kalau kejadiannya adalah tetangga wartawan yang sedang cuti dan tidak ada jurnalis lain, mesti siap turun. Ibarat ada peluang menangkap koruptor, penyidik KPK yang sedang cuti pun mesti bertindak. Maka itu, andai kepingin jadi jurnalis, bersiap-siagalah.

Kedua, tidak boleh tidak dapat.
Ada banyak reporter yang gagap saat menerima telepon dari pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau redakturnya. Kalau sudah melihat nama bos di layar ponsel, hakulyakin, yang ada di pikiran mereka "aduh, disuruh apa lagi gua ini", "salah apa lagi sampai ditelepon", atau "apa lagi kerjaan ini". Meski begitu, tetap saja diangkat dan menerima titah berikutnya. Dan dalam konteks ini, berita atau komentar narasumber yang diminta, wajib didapat. Tidak boleh tidak dapat. Harus dapat. Yang berabe kalau narasumber tidak bisa ditemui, SMS pun tidak dibalas, dan narasumber alternatif tidak bisa dicari. Kalau mentok seperti itu, berkonsultasilah dengan redaktur karena dia adalah orang yang secara garis komando paling dekat dengan reporter. Barangkali dia bisa memberikan masukan dan alternatif narasumber.
Sewaktu konflik di Mesir antara demonstran dan rezim Hosni Mubarak, seorang reporter Lampung Post, Rizki Elinda Sary namanya, diminta mencari mahasiswa Indonesia di negeri Sphinx itu untuk diwawancara. Dia berusaha keras agar dapat akses ke sana. Ujung-ujungnya dapat dengan melakukan wawancara via Facebook dengan mahasiswa asal Lampung yang masih terjebak di Mesir. Jurnalis memang dituntut kreatif. Tidak bisa wawancara langsung, interviu tertulis tak masalah. Itu juga tidak bisa, via SMS, BlackBerry Messenger, atau Facebook pun boleh. Otak mesti diputar agar tugas dari pimpinan bisa dilaksanakan.

Ketiga, tidak boleh mematikan ponsel.
Karena mesti bersiaga 24 jam, ponsel adalah alat komunikasi mahautama buat jurnalis. Sebab itu, mematikan ponsel dalam masa bekerja adalah kekeliruan besar. Kita bisa dimaki redaktur dan pemimpin redaksi jika ponsel mati terus saat dihubungi. Meski sekarang setiap reporter mengirim berita via internet, bertanya kepadanya soal beberapa hal adalah penting. Barangkali redaktur mau memverifikasi nama dan kejadian. Ia menelepon tak semata memerintahkan reporter mencari berita lain. Bisa jadi sekadar menyapa atau si redaktur hendak curhat. Jadi, buang jauh-jauh sikap skeptis kepada redaktur atau pemred. Skeptis hanya boleh kepada narasumber. Jangan pula menyesal jika ternyata telepon yang masuk ke ponsel kita yang mati mengabarkan ada bonus dari kantor. Kalau itu yang terjadi, siap-siap saja gigit jari.
Sedapat mungkin ponsel dalam kondisi siaga. Kalaupun hendak mengecas, lakukan malam hari sepulang kerja dan segera hidupkan di pagi hari. Namanya juga tugas, kadang seharian tak ada yang menelepon, tapi ada kalanya berdering terus setiap jam.

Keempat, tidak boleh libur.
Ini ungkapan hiperbola tentu saja. Sebab, setiap reporter umumnya punya waktu libur satu hari dalam sepekan. Di media lain ada yang liburnya sehari dalam dua minggu. Tapi, kembali ke kesiapsiagaan tadi, sejatinya jurnalis tak ada libur. Ia mesti dalam kondisi siap setiap hari. Setiap ada panggilan tugas, ia mesti siap. Sebab, ada kalanya, kemampuan seorang jurnalis diperlukan saat ia sedang rehat. Misalnya, kantor kedatangan duta besar Amerika Serikat. Ia belum piawai berbahasa Indonesia. Rumah kita dekat dengan kantor. Sedangkan reporter piket belum ada. Karena kita yang paling piawai berbahasa Inggris, kantor meminta kita datang. Ya dalam situasi model begitu, kita mesti siap ambil tanggung jawab. Ketimbang si dubes tidak ada yang menerima dan mendapat kesan kurang bagus, kita yang menerima dan mewawancarai.

Kelima, tidak boleh menggerutu.
Kadang tulisan kita tidak ditayangkan oleh penanggung jawab halaman atau redaktur. Dan kita pun tidak bertanya langsung kepadanya. Kita cuma menggerutu. Kadang tulisan yang tidak turun itu karena berkaitan dengan kebijakan redaksi.
Misalnya, kita menulis soal penyitaan aset negara oleh kejaksaan setempat. Celakanya, penyitaan aset negara itu berujung ricuh. Mereka yang disita asetnya tidak menerima kemudian berkeras tidak menerima. Kita pun mereportase apa yang sedang terjadi. Kita berharap tulisan itu menjadi berita utama. Paling tidak menjadi berita utama di halaman dalam. Namun, saat besok kita lihat, berita kita tidak masuk. Dan kelanjutan dari berita itu juga tak pernah dimuat. Dalam kondisi semacam inilah reporter diminta legawa. Itu pasti kebijakan redaksi. Mungkin berkaitan dengan sikap redaksi soal itu itu. Kalau kita penasaran, kita tanya saja dengan redaktur atau pemred. Mereka akan menjelaskan. Meski demikian, tanpa bertanya saja kita sudah bisa menduga bahwa berita itu tidak tayang karena kebijakan redaksi. Kalaupun kita bertanya, sudah bisa diduga jawaban bos media kita ialah "ini kebijakan redaksi". Tugas kita selaku reporter memang sebatas melaporkan. Soal tulisan itu turun atau tidak, jadi berita utama atau biasa, itu wewenang redaktur dan unsur pimpinan. Tapi, alangkah bijak jika manajemen memberi tahu reporter bahwa berita semacam itu tidak bisa turun. Manajemen redaksi punya trek dan tren tersendiri terhadap berita yang mau diturunkan. Maka itu, janganlah menggerutu. Lebih baik tanyakan. Kalau sudah jadi kebijakan, lebih baik menurut. Namun, kalau dalam kacamata kita itu layak diberitakan dan menganggap media kita salah, serta kita sangat tidak nyaman lagi, pilihan cuma satu: keluar. Toh itu pilihan. Itu bentuk idealisme juga. Cuma ada baiknya kita mengukur kembali niat itu. Apakah dengan keluar kita bisa menolong lebih banyak korban tertindas dengan berita yang kita bikin. Atau malah kita tak bisa berkontribusi lagi buat masyarakat. Akan tetapi, pilihan sadar adalah yang terbaik: bertahan atau keluar.

Keenam, tidak boleh dihalangi.
Kalau Anda kedatangan jurnalis dan dia datang baik-baik, terima saja dengan terbuka. Jurnalis yang seperti itu hampir bisa dipastikan datang dari media arus utama dan niatnya cuma cari informasi. Meski informasi yang mau ia gali soal korupsi, penyelewengan anggaran atau tindak pidana, umumnya ia akan bekerja dengan baik. Misalnya seorang wartawan datang mau mengonfirmasi soal dugaan pungli di sekolah. Ia pasti menemui narasumber utama: kepala sekolah. Meskipun ada resistensi dari sekolah, jurnalis yang baik tetap sopan selama mereportase. Ia tidak bakalan merasa gagah karena dirinya wartawan. Kalaupun ia tak mendapat narasumber resmi, obrolan beberapa guru dan siswa yang tak mau ditulis namanya, sudah cukup menjadi dasar untuk menulis. Apalagi kalau ada dokumen yang sudah ia pegang.
Kalau pihak yang terduga menyeleweng memang tak bersalah, ia pun tidak takut menghadapi wartawan. Meski isi wawancara adalah bantahan terhadap kabar itu, wartawan tetap mencatatanya sebagai bagian dari pekerjaan reportasenya. Ia tinggal menyinkronkan antara data yang ia pegang dengan konfirmasi ke sekolah yang bersangkutan.
Jurnalis tidak boleh diintimidasi selama ia melakukan reportase. Ia dilindungi Undang-Undang tentang Pers. Kalaupun narasumber merasa jurnalis yang mendatanginya malah memeras, segera laporkan ke polisi. Sudah banyak wartawan gadungan yang masuk bui karena polahnya yang memuakkan. Buat yang model begini, jangan diberi ampun. Penjara adalah tempat yang pantas buat para pemeras yang berlindung dengan selembar kartu pers.

Ketujuh, tidak boleh digaji kecil.
Wartawan juga punya hak untuk hidup layak. Punya rumah, dapur tetap mengepul, ada asuransi jiwa, kesehatan, punya tunjangan, dan bisa menyekolahkan anak sampai strata paling tinggi. Dengan begitu, jurnalis butuh gaji yang layak. Besar-kecil jelas ratif karena setiap orang punya pandangan berbeda soal itu. Tapi, standarnya tetap saja ada. Kalau gaji jurnalis cuma cukup buat makan, itu tidak ideal. Maka itu, manajemen wajib memberikan gaji yang layak buat wartawan. Di Bandar Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung pernah menyurvei berapa gaji yang layak buat seorang reporter lajang/gadis. Ketemu angka Rp 2,3 juta. Angka ini jelas bertambah jika wartawan sudah memiliki istri dan anak. Filosofi pendiri Kompas, PK Ojong soal gaji, saya sepakat sekali. Kata Ojong, gaji itu jangan cuma melihat karyawan seorang. Tapi, penghasilan itu mesti cukup untuk istri dan anak. Tidak salah kalau jurnalis dalam grup Kompas termasuk yang paling baik penggajiannya.
Media lain seharusnya juga demikian. Apalagi yang sudah berdiri lama. Harus ada penyesuaian setiap tahun karena harga barang pasti terkerek setiap bulan. Kalau gaji tak naik-naik, mana cukup untuk menghidupi keluarga jurnalis.
Kalau gaji wartawan rendah, sedikit banyak berpengaruh terhadap kinerja.
Bos media jangan cuma mau berita eksklusif saja, tapi tidak memikirkan kesejahteraan wartawan. Mau berita bagus, tapi gaji wartawan digencet. Mau artikel yang menarik tetapi tak dipikirkan keluarga si jurnalis. Berimbang saja.
Kalau pemimpin redaksi ketat terhadap wartwan, ia wajib memperjuangkan gaji penggawanya ke pemilik modal juga dengan gagah. Kalau ia sanggup berceloteh tentang jurnalisme, begitu juga seharusnya saat ia berhadapan dengan bos medianya. Sangat naif kalau wartawan sakit saja pengobatan dari kocek sendiri. Besok-besok, jangan harap jurnalis mau bekerja serius kalau itu kejadiannya. Jangan harap wartawan mau mengaktifkan ponselnya kalau perhatian kantor kecil.
Wartawan wajib digaji layak. Ia juga buruh. Tapi ia bekerja dengan profesionalitas dan intelektualitas. Maka itu, ia berhak dihargai dengan gaji yang manusiawi.
Kedelapan, tidak boleh menerima suap.
Jurnalis wajib mengedepankan independensi dari semua narasumber. Dan media semestinya bisa serupa itu dengan pemasang iklan. Artinya, skeptisme media dan jurnalis sebaiknya sama dan sebangun.
Dalam konteks itu, jurnalis dilarang menerima pemberian apa pun dari narasumber. Hampir semua media sepakat dengan ini. Sebab, di boks redaksi acap ditemukan kalimat "wartawan kami dilarang menerima apa pun, dari siapa pun, dan atas kepentingan apa pun." Ini menyiratkan media juga melarang keras jurnalisnya menerima duit atau yang dalam bahasa keseharian disebut "amplop". Sayangnya tidak setiap media tegas dengan wartawan yang menerima duit amplop. Bahkan, media yang tak bisa menggaji wartawannya, malah permisif dengan itu.
Kadang ada jurnalis yang bilang "kalau tidak menyangkut pemberitaan dan sekadar menjaga hubungan, amplop tidak apa diterima". Ada juga yang bilang, "Kalau tidak minta dan dikasih, itu kan rezeki, terima saja."
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tegas melarang anggotanya menerima amplop. Yang ketahuan dan tercium gelagat itu, pasti dipecat. Di Bandar Lampung, sudah ada kejadian semacam itu. Sayangnya organisasi profesi pers lain masih permisif. Ditanya soal sikap organisasi soal amplop, malah mengelak dengan mengatakan itu urusan pribadi wartawan dan medianya. Aneh, bikin organisasi pers kok tidak punya aturan tegas soal itu. Pantas dunia jurnalisme terpuruk karena mayoritas masyarakat berpikir wartawan itu otaknya duit melulu. Sedih!
Kenapa sih kok sampai menerima amplop itu dilarang? Jurnalis tak pernah tahu kapan seseorang itu menjadi narasumber. Maka, harus dijaga independensi. Salah satu cara, menolak semua pemberian. Manfaatnya, menjaga independensi dan tak punya utang moral. Kalau sudah permisif, mana bisa skeptis. Kalau sudah keseringan menerima duit dari gubernur, mana mungkin kritis. Seorang teman lama pernah mengatakan, "tangan di bawah takkan pernah sanggup melawan tangan di atas." Sudah sering menerima, pasti sungkan menulis kritis. Tegasnya, kalau mau jadi jurnalis yang baik, tolak amplop. Semaksimal yang kita bisa. Mantan Ketua AJI Bandar Lampung yang sekarang jadi Redaktur Pelaksana Tribun Lampung, Juwendra Asdiansyah, mengatakan, "hidup lebih bermakna dengan idealisme di dada". Subhanallah.
Kalau merasa tak kuat godaan amplop, pilihannya seperti yang pernah disinggung di pon sebelumnya: mundur saja. Berhenti jadi wartawan. Ketimbang melacurkan diri dan menambah ruwet persoalan jurnalisme di masyarakat, lebih baik cari kerja lain. Kasihan kepada jurnalis yang independen dan idealis, disangka sama dengan jurnalis permisif amplop.
Menolak amplop dalam banyak kasus, mendatangkan banyak keuntungan buat jurnalis. Tidak percaya? Ini buktinya. Seorang kepala depot Pertamina yang baru dilantik, tiba-tiba didatangi wartawan. Ada beberapa orang. Wajahnya tidak bersahabat. Lebih menyerupai pemeras ketimbang wartawan. Kepala depot lalu dimintai uang. Rutin lagi. Sebulan sekali. Kata para jurnalis gadungan itu, ini tradisi, di mana korporasi harus menyiapkan uang untuk keperluan publikasi.
Sang kepala depot stres. Ia sedikit depresi. Otaknya menstigma bahwa semua wartawan serupa itu. Ia pun menurut. Setiap konferensi pers, ia siapkan duit. Wartawan media utama dan abal-abal dikasih duit. Semua menerima. Tanpa terkecuali. Sampai suatu waktu ada dua wartawan muda anggota AJI meliput di sana. Saat membagi amplop, dua wartawan muda itu "kabur". Sang kepala depot heran. Kok ada menolak duit. Ia kejar dua jurnalis muda itu. Bayangkan, seorang kepala depot Pertamina sampai mengejar wartawan supaya menerima uang amplop. Dua jurnalis menolak keras. Sekian alasan dilontarkan sampai ujung argumentasinya begini, "Kami anggota AJI, kami tidak bisa menerima. Kami bisa dipecat kantor kalau menerima ini."
Sang kepala depot tertegun. Ia heran sekaligus senang. Ia masygul sekaligus bangga. Ia lalu bilang, "Kalau semua wartawan seperti adik-adik, aman dunia ini." Sang kepala depot kemudian berubah perspektifnya soal wartawan. Sekarang, kalau ada informasi ekskusif soal bahan bakar, soal dugaan penggelapan bahan bakar, dua wartawan itu yang pertama diajak. Sebab, sang kepala depot tahu, yang dibutuhkan jurnalis adalah informasi, bukan duit. Narasumber sangat menghargai jurnalis yang profesional. Bahasa ekstremnya, jurnalis yang permisif dengan amplop, harga dirinya sudah bisa ditakar. Paling setara seratus atau dua ratus ribu rupiah! Miris!
Kesembilan, tidak berpolitik praktis.
Menjadi jurnalis bukan berarti hak politiknya tercabut. Ia boleh menyalurkan hak pilihnya pada calon legislator partai tertentu. Yang tidak diperbolehkan ialah merangkap menjadi pengurus partai. Kalau sudah mau berpolitik praktis, jelas urusannya. Ia mesti menanggalkan baju jurnalisnya. Mengapa? Sebab, kalau sampai ia masih menjadi jurnalis akan ada konflik kepentingan. Sebagai aktivis partai, ia pasti memberitakan keharuman partainya. Padahal partai berorientasi kekuasaan. Dan saat berkuasa, mengutip Lord Acton, cenderung korup atau menyeleweng. Apakah mungkin ia masih mau menulis kebobrokan partainya sendiri? Maka, di beberapa media, aturannya tegas. Pilih aktif di partai atau terus sebagai jurnalis. Meski demikian, yang sembunyi-sembunyi pun ada. Kalau ditanya aktif tidak di partai, ia cuma menjawab "cuma fans saja, bantu-bantu sedikit".
Soal jurnalis alih profesi jadi politikus, tidak ada masalah. Di DPR ada banyak legislator yang bermula dari jurnalis. Ada Ramadhan Pohan dari Demokrat yang bekas Pemred Jurnal Nasional (Jurnas), ada Effendi Choirie dari PKB, Teguh Juwarno asal PAN adalah bekas jurnalis televisi, Meuthia Hafid dari Golkar adalah jurnalis andalan Metro TV. Di skop daerah juga bertebaran anggota dewan yang mengawali kiprah di masyarakat dari jurnalis. Bahkan, beberapa kepala daerah juga awalnya wartawan. Di Lampung, bekas Wakil Bupati Lampung Timur Noverisman Subing adalah koresponden salah satu harian di Jakarta.


Kesepuluh, tidak boleh sombong.
Poin terakhir dari sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan "nabi jurnalisme" Bill Kovach dan Tom Rosensteil ialah rendah hati. Wartawan harus rendah hati. Ia harus mengakui kesalahan jika bersalah. Ia harus sopan dalam mereportase. Ia tidak boleh sombong. Sikapnya yang sopan dalam mewawancarai, harus sama kepada setiap narasumber. Kalau ia ramah saat mewawancarai gubernur, ia juga mesti begitu saat berhadapan dengan maling atau pembunuh. Kalau ia bersikap manis saat mewawancarai kepala dinas, sama dan sebangun saat menginterviu pelacur. Sebab, buat jurnalis, semua narasumber punya kedudukan yang sama. Mereka sumber informasi. Tak lebih, tak kurang.
Wartawan yang sudah puluhan tahun bekerja tetap harus memperbaiki cara bekerja, cara mewawancarai, dan cara menulis berita. Tak jadi jaminan, sudah puluhan tahun jadi wartawan, pasti hebat. Belum tentu, Bro! Jangan sombong!
Kenapa ini penting? Sebab, rendah hati akan sangat berharga saat jurnalis bekerja.
Wartawan itu manusia biasa yang bekerja dengan banyak keterbatasan. Boleh jadi ia salah menulis nama narasumber, keliru menulis kronologi kejadian, salah menginterpretasikan ujaran narasumber, dan sebagainya. Pada saat itulah ia dituntut rendah hati, meminta maaf atas kekeliruan yang dibuat. Dan itu bukan sesuatu yang hina. Bahkan, keluasan pandang jurnalis yang seperti itu yang disukai. Kita senang dengan teman yang acap meminta maaf saat ia bersalah. Kita pasti jengkel dengan karib yang ngotot benar padahal jelas-jelas keliru.
Meralat berita, membetulkan artikel yang khilaf, meminta maaf atas kekeliruan interpretasi adalah beberapa contoh rendah hati dari seorang jurnalis. Namun, bukan berarti ia permisif dengan kesalahan narasumber dan mengikis skeptisismenya terhadap sumber berita.
Saat Bondan Winarno menyusun buku soal kematian geolog Bre-X, de Guzman, ia juga bersikap rendah hati. Bahkan, meski karya Pak Bondan "Mak Nyus" itu terkategori investigasi soal kecurangan Bre-X dalam kasus emas Busang, Pak Bondan tetap rendah hati dalam mereportase. Ia bahkan mengaku secara terang-terangan bahwa ia wartawan dan akan meliput soal kematian de Guzman yang menurut dia janggal. Linda Christanty, jurnalis Aceh Feature, yang menceritakan itu kepada saya dalam sebuah kesempatan.
Tegasnya, jadi jurnalis wajib rendah hati. Rendah hati takkan mengakibatkan martabat kita hilang. Justru dengan rendah hati, marwah kita sebagai wartawan tetap terjaga. Wallahualam bissawab.
Read More ->>

Rabu, 09 Januari 2019

Membaca Kenangan



Aku berasal dari sebuah desa yang berada di salah satu kecamatan yang ada di Bulukumba Sulawesi Selatan. Aku terlahir dari pasangan suami istri yang sangat menyayangi anak-anaknya dan mendidik  anaknya dengan baik. Ibuku bernama Sukmawati  berasal dari suku konjo, suatu suku yang berada di Kecamatan Herlang, dimana desa itu sangat makmur dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Di sini ibu menghabiskan masa kecilnya dan menyisakan banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan.
Perihal tentang ayahku, ia bernama Kamaruddin asli suku bugis. Di masa kecil, ayahku menghabiskan waktu di ladang. Meskipun demikian ayahku tidak pernah lepas dari buku. Kemana saja pergi pasti membawa sebuah buku di tangannya. Mendengar cerita  dari banyak orang ayahku terbilang orang yang sangat pintar bahkan sejak kelas 4 SD (Sekolah Dasar), sesekali ia diberi amanah mengajar di kelas 6. Hingga menempuh  tingkat SMAN  peringkat ayahku tidak pernah turun bahkan Cuma bertahan di antara peringkat 1 dan 2 tapi meskipun demikian ia tidak bisa melanjutkan kuliah sebab karena kurangnya biaya sehingga harapan untuk bisa melanjutkan kuliah terputus.
Dari kedua suku antara konjo dengan suku bugis melahirkan suatu semboyang Mali Siparappe Tallang Sipahua” dari semboyang itu masyarakat Bulukumba menjadi kuat dengan adanya persatuan. Dari persatuan akan melahirkan kebersamaan hingga tidak akan ada  yang goyang sampai kapanpun. Mendengar kata “Bulukumba” berasal dari perang mulut antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah mereka masing-masing. Dari perebutan wilayah itu pihak kerajaan bone mengatakan “bulu’ku mupa” yang artinya masih gunung saya. Kata itulah yang kemudian dipakai sebagai daerah sengketa antara kerajaan gowa dan bone, “bulu’ku mupa” inilah yang kemudian mengalami perubahan menjadi bulukumpa dan bulukumba, sejarah singkat nama daerahku.
Sebagai masyarakat biasa aku bermukim di suatu desa, Desa Batupangkaitulah orang menyebutnya, jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari pusat ibu kota Bulukumba Sulawesi Selatan. Sebagai desa yang cukup dekat dari pusat kota, didesa itu sudah sangat modern. Transportasi yang mudah dijangkau, perbaikan jalan yang semakin pesat dan tidak ada lagi kubangan lumpur seperti desa-desa lain yang terisolir. Listrik pun sudah tidak menggunakan lampu pelita lagi seperti tahun-tahun kemarin, yang hanya penggunakan lampu sumbu dengan bahan bakar minyak tanah.
Bulukumba memiliki beberapa kecamatan, tempat yang kugambarkan situasinya sekarang sudah sangat modern dan sudah bisa di akses oleh orang banyak bernama kecamatan Rilau Ale. Sebagai kota besar, Bulukumba terkenal dengan tempat wisata yang sangat banyak dengan daya Tarik yang mengagumkan. Daya Tarik itulah yang mengundang banyak wisatawan berkunjung di Bulukumba, perkebunan karet itulah daya Tarik yang ada di daerahku. Bahkan tidak sedikit yang rela meluangkan waktunya hanya untuk mengambil gambar dan berfoto di sana.
Dari alam seseorang bisa mengenal jati diri mereka masing-masing dan dari alam seseorang bisa tahu arti syukur kepada tuhan atas pemberian yang telah ia berikan terkhusus pemberian tuhan di  “butta panrita lopi” Bulukumba. Sebagai masyarakat yang makmur dan damai suatu kebanggan terlahir di desa itu,  meski desaku sudah tidak terisolir lagi dan jalan sudah tidak berlumpur tetapi masih banyak pula sapi yang lalu lalang melintas sebab di desaku mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan banyak pula yang menghabiskan hari untuk mengembala ternak seperti sapi. Dampak dari itu jalan raya kotor dengan kotoran ternak tersebut. Selain binatang ternak sesekali ada angkutan umum yang masuk di desaku yang mengangkut para pedagang yang dari berjualan di pasar tradisional yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah.
Masa kecil aku menempuh pendidikan pertama di SDN 82 Palampang yang jaraknya sangat dekat dari rumah, tidak memerlukan kendaraan untuk menjangkaunya tapi Cuma butuh tenaga sedikit sampailah kesekolah itu. Aku di kenal sebagai anak yang nakal dimana kerjaku hanya berkelahi dan mengganggu anak-anak lain yang sedang bermain. Meskipun demikian aku tidak pernah kekurangan teman sedikitpun, ibaratkan boss ada bawahan yang selalu mengikut kemanapun aku pergi, sungguh kesenangan sangat aku dapatkan dimasa itu. Sebagai anak nakal pernah sekali aku mencelakai teman dengan membenturkan kepalanya ke tembok sampai berhari-hari tidak masuk sekolah, layaknya anak yang tidak tahu apa-apa aku tidak sedikitpun merasa bersalah dengan apa yang telah ku perbuat, sampai pada hari jumat orang tua anak itu datang lalu marah-marah di kantor sekolah seolah-olah sangat ingin menemuiku.
Aku seakan belum tahu apa-apa dan akhirnya seorang guru dengan penampilan yang lumayan galak dengan muka yang di penuh janggut di dagu memanggilku dengan perlahan, di kala itu aku sedang berada diruang kelas dengan berharap cemas. Pergilah aku menemui orang tua anak tadi dengan perasaan hati yang takut aku tidak berani memandang wajahnya karena aku tahu hatinya sedang dengan perasaan marah terhadapku. Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan dengan nada keras.
Sungguh hal yang paling tidak bisa aku lupakan di masa sekolah dasar yang membuat aku menjadi faham bahwa kenakalan tidak akan membuat seseorang selamanya akan merasakan kesenangan tetapi akan berujung pada tingkat penyesalah. Setelah lulus aku melanjutkan sekolah di tingkat smp yang sedikit lebih jauh dari tempat tinggalku. SMPN 39 BULUKUMBA tujuan pendidikan selanjutnya, belajar dari pengalaman kemarin, kesalahan yang sama tidak akan terulang kembali. Sikap sabar dan pergaulan yang baik sudah aku terapkan kepada teman-teman baruku. Kelas baru pengalaman baru serta wajah-wajah baru nampak jauh beda dari teman-teman sebelumnya, banyak dari mereka pandai dalam menguasai mata pelajaran meskipun tidak sedikit dari mereka bersikap bodoh tapi selalu ada persaingan dalam itu semua dimana yang paling cerdas yang akan mendapat predikat juara kelas.
Tidak banyak yang menarik dimasa SMP bahkan semua seakan biasa saja, tidak banyak kenangan yang bisa di ingat, kalau saja aku merenungkan kembali dan mengingat kenangan masa smp itu Cuma sedikit yang terjanggal dalam ingatan sebab kontrol dan komunikasi menurutku masih monoton dan tidak seseru masa kecilku.
Singkat cerita tibalah saat dimana semua siswa sibuk dengan urusan mereka, dimana pendaftaran untuk ketingkat selanjutnya akan di mulai. Seperti halnya aku yang sibuk bahkan pusing akan melanjutkan SMAN dimana. Banyak pilihan memang, tapi sebagai  seorang yang terpelajar aku lebih memilih sekolah yang lebih terkenal dengan akreditasi a di banding  sekolah-sekolah lain yang berakreditasi B bahkan C. SMAN 10 BULUKUMBA tujuan utama selanjutnya, disini persaingan untuk masuk didalamnya sangat sulit dan berat karena siswa diseleksi menurut kemampuan mereka masing-masing dan tidak sedikit dari mereka kalah sebelum berjuang. Apa yang salah dari mereka? Kurang percaya diri memang membuat seseorang bisa putus asa.
Akhirnya aku diterima di sekolah itu  yang bertanda bahwa akan ada perubahan baru dari hidupku, pembentukan karakter dan sifat pendewasaan diri untuk lebih mengenal pribadi diri sendiri. Hari pertama, hari dimana semua sibuk mencari ruangan kelas mereka. Langkah kaki semakin jauh menelusuri setiap ruang, setelah lama lama dan lama akhirnya kutemukan namaku tertempel disebuah ruang kelas mipa 3. Namaku berada di urutan ke 15 dari nama-nama temanku. Mulailah aku masuk didalam kelas itu, dengan perasaan malu aku mencari tempat yang strategis yang mampu di lihat oleh banyak orang. Bukan untuk cari perhatian tapi begitulah caraku memahami setiap mata pelajaran.
Di kelas ini teman-teman sangat bersahabat bahkan sangat membantu dalam setiap masalah, akhirnya kami sebut kelas kami dengan sebutan MA3YA. Dengan nama ini kelas mipa 3 menjadi di kenal di sekolah dan tidak di pandang rendah oleh kelas-kelas lain apalagi begitu banyak orang pintar yang bergabung di dalamnya sampai-sampai setiap ada lomba MA3YA selalu mewakilkan anggotanya di dalam lomba tersebut. Mengingat kembali kenangan yang ada didalamnya terasa sangat ingin kembali dimasa itu, masa dimana semua seakan hanya milik kami dan bukan milik siapa-siapa.
Aku kembali merenung dan membuka mata menggambarkan kenangan 3 tahun silam, dikala itu aku masih berada di kelas 2 SMA. Tanpa sengaja dari jauh terlihat seorang wanita yang entah siapa namanya dan sebelumnya tidak pernah aku lihat. Wanita yang menarik dan bisa di  bilang cantik tapi itu Cuma dari kejauhan, belum terlihat dari dekat. Tidak butuh waktu lama akhirnya   aku bisa kenal dekat dengan wanita itu tapi ada batasan  diantara itu semua. Sebagai wanita harusnya lebih menjaga diri dari sesuatu yang merusak termasuk dari laki-laki moduss.
Kelas 3 masa dimana semua telah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional, aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk itu karena anggapanku semua sama saja belajar tidak belajar, nilainya tetap sama karena ujung-ujungnya akan ada kunci jawaban yang beredar. Nyatanya benar di ujian nasional setiap pagi siswa sibuk mencatat kunci jawaban makanya ada yang datang pagi sebelum gerbang terbuka, ada yang datang subuh, bahkan sampai meminta langsung sama guru yang bersangkutan! Jawaban itu bukan dari guru tetapi sumbangan dari sekolah lain yang di kirim lewat media social.
Dengan kunci jawaban banyak siswa yang mendapat nilai yang baik meski tidak dengan kejujuran sama halnya aku yang mendapat nilai bagus tapi ujungnya nama ku tidak terdaftar di formulir pendaftaran SNMPTN.
Jadi korban SNMPTN sangat menyedihkan bahkan ada rasa putus asa untuk melanjutkan kuliah di tingkat Universitas. Mimpi pertama tiap siswa itu pastinya di UNHAS (universitas hasanuddin) tapi mimpi itu sudah terkubur dalam, meski banyak orang yang mengatakan katanya lapangan kerja  sangat menjanjikan dan menjamin masa depan jika lulus di Universitas tersebut.
Waktunya pendaftaran jalur span terbuka, tanpa terkecuali semua siswa berhak mendaftar. Dengan modal uang 20.000 aku daftarkan diriku melalui guru pembimbing yang katanya 20.000 adalah uang jaringan, Bukan  Cuma aku banyak juga siswa yang melakukan hal tersebut. Dengan pilihan jurnalistik pilihan pertama dan KPI (komunikasi penyiaran islam) di pilihan ke dua. jalur span menurutku tidak menjanjikan sebab ada rasa tidak yakin bisa lulus di jurusan itu.akhirnyaaku percayakan diri daftar kembali di jalur sbmptn dengan mengambil jurusan teknologi pertanian pilihan pertama dan manajemen pilihan kedua masing-masing di UNM. Suatu keyakinan besar lulus sbmptn.
Tidak lama kemudian pengumuman kelulusan span tiba, rasa penasaran dan rasa takut akan kekecewaan bercampur baur dalam hati. Jam 3 tepat sudah banyak kabar gembira dari teman-teman yang ternyata lulus di jurusan favorit tapi banyak pula yang harus menanggung kekecewaan berita kabar “tidak lulus”.  Datang kabar gembira dari sahabatku yang ternyata lulus jurusan “metematika uin alauddin makassar”. Sebagai juara umum pantas ia mendapatkan hadiah itu.
Aku masih belum berani melihat hasilku. Apakah akan mengalami kekecewan seperti gagal snmptn! Di temani 5 orang teman, aku berangkat kesalah satu rumah teman yang dekat dari sekolah. Disana mulailah kami cek kelulusan satu-persatu, akan kah ada yang menyusul langkah temanku tadi ke Uin alauddin Makassar? Kabar buruk menimpa ketiga temanku yang ternyata tidak lulus yang menyebabkan rasa tidak percaya diri pada hatiku untuk lulus. Tibalah giliranku untuk cek kelulusan dan nyatanya aku lulus di  pilihan pertama “jurnalistik”. Rasanya tidak percaya tapi ini fakta.
Hari mulai sore mulailah aku kembali kerumah dengan ucap syukur ku temui kedua orang tuaku sambil memeluk dan berterima kasih. Sebelum pendaftaran mereka tidak suka dengan jurusanku sebab katanya jurnalistik Cuma sekedar menjadi seorang wartawan bukan siapa-siapa tapi setelah ku kabarkan kabar gembira ini akhirnya mereka setuju dan mau menerima pilihanku. Kata ayahku “itu semua tergantung kemauan dan keinginan dan saya tidak memaksa kehendak asal bisa benar-benar dan yakin dengan apa yang telah di pilih”
Di Makassar saya tinggal di rumah om. Banyak rintangan dalam pendaftaran ulang seperti jarak rumah tempat saya tinggal di Makassar jauh dari kampus dan kendaraan yang sulit, meski dirumah itu ada 4 motor tapi semuanya di pakai untuk om bekerja dan anak-anaknya kesekolah.
Hari berlalu dengan cepat, semua pengurusan berkas telah selesai. Dengan jadwal masuk kampus yang telah di tetapkan, pagi itu aku bergegas menuju kampus yang di kenal dengan kampus peradaban. Membingungkan untuk mencari kelas karena tidak sama dengan waktu SMA, di bangku kuliah nama tidak di temple di dinding jadi untuk mencarinya cukup susah. Di temani teman yang sudah kenal waktu opak kami mencari ruangan tempat kami akan menuntut ilmu.  Sayangnya kami tidak sekelas, ia di kelas B sedangkan aku di kls A
Wajah-wajah baru yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai baik itu di media sosial maupun secara langsung. Sikap dan karakter yang berbeda serta tata bahasa yang unik membentuk perbedaan di antara kami dan dari perbedaan itu akan timbul kebersamaan maupun kesatuaan antar perantau di tanah Makassar. Teman laki-laki pertama, orang Kalimantan dengan bahasa yang cukup sopan aku cukup merasa nyaman dengannya. Jauh dari perantauan ia memilih kuliah di Makassar sementara di Kalimantan banyak universitas yang cukup baik dan megah, mungkin takdirnya sudah di Uin alauddin Makassar, Sekilas tentang teman baruku.
Ada yang menarik dari dalam kelas itu dimana tidak satupun anggotanya yang asli Makassar. Kemana orang Makassar di jurnalistik? Yang ada hanya anak rantau dari daerah yang memiliki jarak tempuh puluhan kilometer demi menuntut ilmu di kota Makassar. Meski demikian selalu ada keselarasan dalam perbedaan itu yang membuat kami berarti tanpa memandang asal, adat, dan bahasa, Sekilas  tentang kelasku.  
Penulis bernama Hendra Gunawan mahasiswa jurusan jurnalistik, semester 5 tahun 2019, fakultas dakwah dan komunikasi, uin alauddin Makassar.



Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages