Rabu, 09 Januari 2019

Membaca Kenangan



Aku berasal dari sebuah desa yang berada di salah satu kecamatan yang ada di Bulukumba Sulawesi Selatan. Aku terlahir dari pasangan suami istri yang sangat menyayangi anak-anaknya dan mendidik  anaknya dengan baik. Ibuku bernama Sukmawati  berasal dari suku konjo, suatu suku yang berada di Kecamatan Herlang, dimana desa itu sangat makmur dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Di sini ibu menghabiskan masa kecilnya dan menyisakan banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan.
Perihal tentang ayahku, ia bernama Kamaruddin asli suku bugis. Di masa kecil, ayahku menghabiskan waktu di ladang. Meskipun demikian ayahku tidak pernah lepas dari buku. Kemana saja pergi pasti membawa sebuah buku di tangannya. Mendengar cerita  dari banyak orang ayahku terbilang orang yang sangat pintar bahkan sejak kelas 4 SD (Sekolah Dasar), sesekali ia diberi amanah mengajar di kelas 6. Hingga menempuh  tingkat SMAN  peringkat ayahku tidak pernah turun bahkan Cuma bertahan di antara peringkat 1 dan 2 tapi meskipun demikian ia tidak bisa melanjutkan kuliah sebab karena kurangnya biaya sehingga harapan untuk bisa melanjutkan kuliah terputus.
Dari kedua suku antara konjo dengan suku bugis melahirkan suatu semboyang Mali Siparappe Tallang Sipahua” dari semboyang itu masyarakat Bulukumba menjadi kuat dengan adanya persatuan. Dari persatuan akan melahirkan kebersamaan hingga tidak akan ada  yang goyang sampai kapanpun. Mendengar kata “Bulukumba” berasal dari perang mulut antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah mereka masing-masing. Dari perebutan wilayah itu pihak kerajaan bone mengatakan “bulu’ku mupa” yang artinya masih gunung saya. Kata itulah yang kemudian dipakai sebagai daerah sengketa antara kerajaan gowa dan bone, “bulu’ku mupa” inilah yang kemudian mengalami perubahan menjadi bulukumpa dan bulukumba, sejarah singkat nama daerahku.
Sebagai masyarakat biasa aku bermukim di suatu desa, Desa Batupangkaitulah orang menyebutnya, jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari pusat ibu kota Bulukumba Sulawesi Selatan. Sebagai desa yang cukup dekat dari pusat kota, didesa itu sudah sangat modern. Transportasi yang mudah dijangkau, perbaikan jalan yang semakin pesat dan tidak ada lagi kubangan lumpur seperti desa-desa lain yang terisolir. Listrik pun sudah tidak menggunakan lampu pelita lagi seperti tahun-tahun kemarin, yang hanya penggunakan lampu sumbu dengan bahan bakar minyak tanah.
Bulukumba memiliki beberapa kecamatan, tempat yang kugambarkan situasinya sekarang sudah sangat modern dan sudah bisa di akses oleh orang banyak bernama kecamatan Rilau Ale. Sebagai kota besar, Bulukumba terkenal dengan tempat wisata yang sangat banyak dengan daya Tarik yang mengagumkan. Daya Tarik itulah yang mengundang banyak wisatawan berkunjung di Bulukumba, perkebunan karet itulah daya Tarik yang ada di daerahku. Bahkan tidak sedikit yang rela meluangkan waktunya hanya untuk mengambil gambar dan berfoto di sana.
Dari alam seseorang bisa mengenal jati diri mereka masing-masing dan dari alam seseorang bisa tahu arti syukur kepada tuhan atas pemberian yang telah ia berikan terkhusus pemberian tuhan di  “butta panrita lopi” Bulukumba. Sebagai masyarakat yang makmur dan damai suatu kebanggan terlahir di desa itu,  meski desaku sudah tidak terisolir lagi dan jalan sudah tidak berlumpur tetapi masih banyak pula sapi yang lalu lalang melintas sebab di desaku mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan banyak pula yang menghabiskan hari untuk mengembala ternak seperti sapi. Dampak dari itu jalan raya kotor dengan kotoran ternak tersebut. Selain binatang ternak sesekali ada angkutan umum yang masuk di desaku yang mengangkut para pedagang yang dari berjualan di pasar tradisional yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah.
Masa kecil aku menempuh pendidikan pertama di SDN 82 Palampang yang jaraknya sangat dekat dari rumah, tidak memerlukan kendaraan untuk menjangkaunya tapi Cuma butuh tenaga sedikit sampailah kesekolah itu. Aku di kenal sebagai anak yang nakal dimana kerjaku hanya berkelahi dan mengganggu anak-anak lain yang sedang bermain. Meskipun demikian aku tidak pernah kekurangan teman sedikitpun, ibaratkan boss ada bawahan yang selalu mengikut kemanapun aku pergi, sungguh kesenangan sangat aku dapatkan dimasa itu. Sebagai anak nakal pernah sekali aku mencelakai teman dengan membenturkan kepalanya ke tembok sampai berhari-hari tidak masuk sekolah, layaknya anak yang tidak tahu apa-apa aku tidak sedikitpun merasa bersalah dengan apa yang telah ku perbuat, sampai pada hari jumat orang tua anak itu datang lalu marah-marah di kantor sekolah seolah-olah sangat ingin menemuiku.
Aku seakan belum tahu apa-apa dan akhirnya seorang guru dengan penampilan yang lumayan galak dengan muka yang di penuh janggut di dagu memanggilku dengan perlahan, di kala itu aku sedang berada diruang kelas dengan berharap cemas. Pergilah aku menemui orang tua anak tadi dengan perasaan hati yang takut aku tidak berani memandang wajahnya karena aku tahu hatinya sedang dengan perasaan marah terhadapku. Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan dengan nada keras.
Sungguh hal yang paling tidak bisa aku lupakan di masa sekolah dasar yang membuat aku menjadi faham bahwa kenakalan tidak akan membuat seseorang selamanya akan merasakan kesenangan tetapi akan berujung pada tingkat penyesalah. Setelah lulus aku melanjutkan sekolah di tingkat smp yang sedikit lebih jauh dari tempat tinggalku. SMPN 39 BULUKUMBA tujuan pendidikan selanjutnya, belajar dari pengalaman kemarin, kesalahan yang sama tidak akan terulang kembali. Sikap sabar dan pergaulan yang baik sudah aku terapkan kepada teman-teman baruku. Kelas baru pengalaman baru serta wajah-wajah baru nampak jauh beda dari teman-teman sebelumnya, banyak dari mereka pandai dalam menguasai mata pelajaran meskipun tidak sedikit dari mereka bersikap bodoh tapi selalu ada persaingan dalam itu semua dimana yang paling cerdas yang akan mendapat predikat juara kelas.
Tidak banyak yang menarik dimasa SMP bahkan semua seakan biasa saja, tidak banyak kenangan yang bisa di ingat, kalau saja aku merenungkan kembali dan mengingat kenangan masa smp itu Cuma sedikit yang terjanggal dalam ingatan sebab kontrol dan komunikasi menurutku masih monoton dan tidak seseru masa kecilku.
Singkat cerita tibalah saat dimana semua siswa sibuk dengan urusan mereka, dimana pendaftaran untuk ketingkat selanjutnya akan di mulai. Seperti halnya aku yang sibuk bahkan pusing akan melanjutkan SMAN dimana. Banyak pilihan memang, tapi sebagai  seorang yang terpelajar aku lebih memilih sekolah yang lebih terkenal dengan akreditasi a di banding  sekolah-sekolah lain yang berakreditasi B bahkan C. SMAN 10 BULUKUMBA tujuan utama selanjutnya, disini persaingan untuk masuk didalamnya sangat sulit dan berat karena siswa diseleksi menurut kemampuan mereka masing-masing dan tidak sedikit dari mereka kalah sebelum berjuang. Apa yang salah dari mereka? Kurang percaya diri memang membuat seseorang bisa putus asa.
Akhirnya aku diterima di sekolah itu  yang bertanda bahwa akan ada perubahan baru dari hidupku, pembentukan karakter dan sifat pendewasaan diri untuk lebih mengenal pribadi diri sendiri. Hari pertama, hari dimana semua sibuk mencari ruangan kelas mereka. Langkah kaki semakin jauh menelusuri setiap ruang, setelah lama lama dan lama akhirnya kutemukan namaku tertempel disebuah ruang kelas mipa 3. Namaku berada di urutan ke 15 dari nama-nama temanku. Mulailah aku masuk didalam kelas itu, dengan perasaan malu aku mencari tempat yang strategis yang mampu di lihat oleh banyak orang. Bukan untuk cari perhatian tapi begitulah caraku memahami setiap mata pelajaran.
Di kelas ini teman-teman sangat bersahabat bahkan sangat membantu dalam setiap masalah, akhirnya kami sebut kelas kami dengan sebutan MA3YA. Dengan nama ini kelas mipa 3 menjadi di kenal di sekolah dan tidak di pandang rendah oleh kelas-kelas lain apalagi begitu banyak orang pintar yang bergabung di dalamnya sampai-sampai setiap ada lomba MA3YA selalu mewakilkan anggotanya di dalam lomba tersebut. Mengingat kembali kenangan yang ada didalamnya terasa sangat ingin kembali dimasa itu, masa dimana semua seakan hanya milik kami dan bukan milik siapa-siapa.
Aku kembali merenung dan membuka mata menggambarkan kenangan 3 tahun silam, dikala itu aku masih berada di kelas 2 SMA. Tanpa sengaja dari jauh terlihat seorang wanita yang entah siapa namanya dan sebelumnya tidak pernah aku lihat. Wanita yang menarik dan bisa di  bilang cantik tapi itu Cuma dari kejauhan, belum terlihat dari dekat. Tidak butuh waktu lama akhirnya   aku bisa kenal dekat dengan wanita itu tapi ada batasan  diantara itu semua. Sebagai wanita harusnya lebih menjaga diri dari sesuatu yang merusak termasuk dari laki-laki moduss.
Kelas 3 masa dimana semua telah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional, aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk itu karena anggapanku semua sama saja belajar tidak belajar, nilainya tetap sama karena ujung-ujungnya akan ada kunci jawaban yang beredar. Nyatanya benar di ujian nasional setiap pagi siswa sibuk mencatat kunci jawaban makanya ada yang datang pagi sebelum gerbang terbuka, ada yang datang subuh, bahkan sampai meminta langsung sama guru yang bersangkutan! Jawaban itu bukan dari guru tetapi sumbangan dari sekolah lain yang di kirim lewat media social.
Dengan kunci jawaban banyak siswa yang mendapat nilai yang baik meski tidak dengan kejujuran sama halnya aku yang mendapat nilai bagus tapi ujungnya nama ku tidak terdaftar di formulir pendaftaran SNMPTN.
Jadi korban SNMPTN sangat menyedihkan bahkan ada rasa putus asa untuk melanjutkan kuliah di tingkat Universitas. Mimpi pertama tiap siswa itu pastinya di UNHAS (universitas hasanuddin) tapi mimpi itu sudah terkubur dalam, meski banyak orang yang mengatakan katanya lapangan kerja  sangat menjanjikan dan menjamin masa depan jika lulus di Universitas tersebut.
Waktunya pendaftaran jalur span terbuka, tanpa terkecuali semua siswa berhak mendaftar. Dengan modal uang 20.000 aku daftarkan diriku melalui guru pembimbing yang katanya 20.000 adalah uang jaringan, Bukan  Cuma aku banyak juga siswa yang melakukan hal tersebut. Dengan pilihan jurnalistik pilihan pertama dan KPI (komunikasi penyiaran islam) di pilihan ke dua. jalur span menurutku tidak menjanjikan sebab ada rasa tidak yakin bisa lulus di jurusan itu.akhirnyaaku percayakan diri daftar kembali di jalur sbmptn dengan mengambil jurusan teknologi pertanian pilihan pertama dan manajemen pilihan kedua masing-masing di UNM. Suatu keyakinan besar lulus sbmptn.
Tidak lama kemudian pengumuman kelulusan span tiba, rasa penasaran dan rasa takut akan kekecewaan bercampur baur dalam hati. Jam 3 tepat sudah banyak kabar gembira dari teman-teman yang ternyata lulus di jurusan favorit tapi banyak pula yang harus menanggung kekecewaan berita kabar “tidak lulus”.  Datang kabar gembira dari sahabatku yang ternyata lulus jurusan “metematika uin alauddin makassar”. Sebagai juara umum pantas ia mendapatkan hadiah itu.
Aku masih belum berani melihat hasilku. Apakah akan mengalami kekecewan seperti gagal snmptn! Di temani 5 orang teman, aku berangkat kesalah satu rumah teman yang dekat dari sekolah. Disana mulailah kami cek kelulusan satu-persatu, akan kah ada yang menyusul langkah temanku tadi ke Uin alauddin Makassar? Kabar buruk menimpa ketiga temanku yang ternyata tidak lulus yang menyebabkan rasa tidak percaya diri pada hatiku untuk lulus. Tibalah giliranku untuk cek kelulusan dan nyatanya aku lulus di  pilihan pertama “jurnalistik”. Rasanya tidak percaya tapi ini fakta.
Hari mulai sore mulailah aku kembali kerumah dengan ucap syukur ku temui kedua orang tuaku sambil memeluk dan berterima kasih. Sebelum pendaftaran mereka tidak suka dengan jurusanku sebab katanya jurnalistik Cuma sekedar menjadi seorang wartawan bukan siapa-siapa tapi setelah ku kabarkan kabar gembira ini akhirnya mereka setuju dan mau menerima pilihanku. Kata ayahku “itu semua tergantung kemauan dan keinginan dan saya tidak memaksa kehendak asal bisa benar-benar dan yakin dengan apa yang telah di pilih”
Di Makassar saya tinggal di rumah om. Banyak rintangan dalam pendaftaran ulang seperti jarak rumah tempat saya tinggal di Makassar jauh dari kampus dan kendaraan yang sulit, meski dirumah itu ada 4 motor tapi semuanya di pakai untuk om bekerja dan anak-anaknya kesekolah.
Hari berlalu dengan cepat, semua pengurusan berkas telah selesai. Dengan jadwal masuk kampus yang telah di tetapkan, pagi itu aku bergegas menuju kampus yang di kenal dengan kampus peradaban. Membingungkan untuk mencari kelas karena tidak sama dengan waktu SMA, di bangku kuliah nama tidak di temple di dinding jadi untuk mencarinya cukup susah. Di temani teman yang sudah kenal waktu opak kami mencari ruangan tempat kami akan menuntut ilmu.  Sayangnya kami tidak sekelas, ia di kelas B sedangkan aku di kls A
Wajah-wajah baru yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai baik itu di media sosial maupun secara langsung. Sikap dan karakter yang berbeda serta tata bahasa yang unik membentuk perbedaan di antara kami dan dari perbedaan itu akan timbul kebersamaan maupun kesatuaan antar perantau di tanah Makassar. Teman laki-laki pertama, orang Kalimantan dengan bahasa yang cukup sopan aku cukup merasa nyaman dengannya. Jauh dari perantauan ia memilih kuliah di Makassar sementara di Kalimantan banyak universitas yang cukup baik dan megah, mungkin takdirnya sudah di Uin alauddin Makassar, Sekilas tentang teman baruku.
Ada yang menarik dari dalam kelas itu dimana tidak satupun anggotanya yang asli Makassar. Kemana orang Makassar di jurnalistik? Yang ada hanya anak rantau dari daerah yang memiliki jarak tempuh puluhan kilometer demi menuntut ilmu di kota Makassar. Meski demikian selalu ada keselarasan dalam perbedaan itu yang membuat kami berarti tanpa memandang asal, adat, dan bahasa, Sekilas  tentang kelasku.  
Penulis bernama Hendra Gunawan mahasiswa jurusan jurnalistik, semester 5 tahun 2019, fakultas dakwah dan komunikasi, uin alauddin Makassar.



0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages