Aku berasal
dari sebuah desa yang berada di salah satu kecamatan yang ada di Bulukumba
Sulawesi Selatan. Aku terlahir dari pasangan suami istri yang sangat menyayangi
anak-anaknya dan mendidik anaknya dengan
baik. Ibuku bernama Sukmawati berasal dari suku
konjo, suatu suku yang berada di Kecamatan Herlang,
dimana desa itu sangat makmur dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Di sini
ibu menghabiskan masa kecilnya dan menyisakan banyak kenangan yang tidak bisa
ia lupakan.
Perihal tentang ayahku, ia bernama Kamaruddin
asli suku bugis. Di masa kecil, ayahku menghabiskan waktu di ladang. Meskipun
demikian ayahku tidak pernah lepas dari buku. Kemana saja pergi pasti membawa
sebuah buku di tangannya. Mendengar cerita
dari banyak orang ayahku terbilang orang yang sangat pintar bahkan sejak
kelas 4 SD (Sekolah Dasar), sesekali ia diberi amanah mengajar di kelas 6. Hingga
menempuh tingkat SMAN peringkat ayahku tidak pernah turun bahkan
Cuma bertahan di antara peringkat 1 dan 2 tapi meskipun demikian ia tidak bisa
melanjutkan kuliah sebab karena kurangnya biaya sehingga harapan untuk bisa
melanjutkan kuliah terputus.
Dari kedua suku antara konjo dengan suku bugis melahirkan suatu
semboyang “Mali Siparappe
Tallang Sipahua” dari semboyang itu masyarakat Bulukumba
menjadi kuat dengan adanya persatuan. Dari persatuan akan melahirkan
kebersamaan hingga tidak akan ada yang
goyang sampai kapanpun. Mendengar kata “Bulukumba”
berasal dari perang mulut antara Kerajaan Gowa
dan Kerajaan Bone, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah
mereka masing-masing. Dari perebutan wilayah itu pihak kerajaan bone mengatakan
“bulu’ku mupa” yang artinya masih gunung saya. Kata itulah yang kemudian
dipakai sebagai daerah sengketa antara kerajaan gowa dan bone, “bulu’ku
mupa” inilah yang kemudian mengalami perubahan menjadi bulukumpa dan
bulukumba, sejarah singkat nama daerahku.
Sebagai masyarakat biasa aku bermukim di suatu desa, Desa
Batupangkaitulah orang menyebutnya, jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari
pusat ibu kota Bulukumba Sulawesi Selatan. Sebagai desa yang cukup dekat dari
pusat kota, didesa itu sudah sangat modern. Transportasi yang mudah dijangkau,
perbaikan jalan yang semakin pesat dan tidak ada lagi kubangan lumpur seperti
desa-desa lain yang terisolir. Listrik pun sudah tidak menggunakan lampu pelita
lagi seperti tahun-tahun kemarin, yang hanya penggunakan lampu sumbu dengan
bahan bakar minyak tanah.
Bulukumba memiliki beberapa kecamatan, tempat yang kugambarkan
situasinya sekarang sudah sangat modern dan sudah bisa di akses oleh orang
banyak bernama kecamatan Rilau Ale. Sebagai kota besar, Bulukumba terkenal
dengan tempat wisata yang sangat banyak dengan daya Tarik yang mengagumkan.
Daya Tarik itulah yang mengundang banyak wisatawan berkunjung di Bulukumba,
perkebunan karet itulah daya Tarik yang ada di daerahku. Bahkan tidak sedikit
yang rela meluangkan waktunya hanya untuk mengambil gambar dan berfoto di sana.
Dari alam seseorang bisa mengenal jati diri mereka masing-masing
dan dari alam seseorang bisa tahu arti syukur kepada tuhan atas pemberian yang
telah ia berikan terkhusus pemberian tuhan di
“butta panrita lopi” Bulukumba.
Sebagai masyarakat yang makmur dan damai suatu kebanggan terlahir di desa
itu, meski desaku sudah tidak terisolir
lagi dan jalan sudah tidak berlumpur tetapi masih banyak pula sapi yang lalu
lalang melintas sebab di desaku mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan
banyak pula yang menghabiskan hari untuk mengembala ternak seperti sapi. Dampak
dari itu jalan raya kotor dengan kotoran ternak tersebut. Selain binatang
ternak sesekali ada angkutan umum yang masuk di desaku yang mengangkut para
pedagang yang dari berjualan di pasar tradisional yang jaraknya sekitar 2
kilometer dari rumah.
Masa kecil aku menempuh pendidikan pertama di SDN 82 Palampang
yang jaraknya sangat dekat dari rumah, tidak memerlukan kendaraan untuk
menjangkaunya tapi Cuma butuh tenaga sedikit sampailah kesekolah itu. Aku di
kenal sebagai anak yang nakal dimana kerjaku hanya berkelahi dan mengganggu
anak-anak lain yang sedang bermain. Meskipun demikian aku tidak pernah kekurangan
teman sedikitpun, ibaratkan boss ada bawahan yang selalu mengikut kemanapun aku
pergi, sungguh kesenangan sangat aku dapatkan dimasa itu. Sebagai anak nakal
pernah sekali aku mencelakai teman dengan membenturkan kepalanya ke tembok
sampai berhari-hari tidak masuk sekolah, layaknya anak yang tidak tahu apa-apa
aku tidak sedikitpun merasa bersalah dengan apa yang telah ku perbuat, sampai
pada hari jumat orang tua anak itu datang lalu marah-marah di kantor sekolah
seolah-olah sangat ingin menemuiku.
Aku seakan belum tahu apa-apa dan akhirnya seorang guru dengan
penampilan yang lumayan galak dengan muka yang di penuh janggut di dagu
memanggilku dengan perlahan, di kala itu aku sedang berada diruang kelas dengan
berharap cemas. Pergilah aku menemui orang tua anak tadi dengan perasaan hati
yang takut aku tidak berani memandang wajahnya karena aku tahu hatinya sedang
dengan perasaan marah terhadapku. Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan
dengan nada keras.
Sungguh hal yang paling tidak bisa aku lupakan di masa sekolah
dasar yang membuat aku menjadi faham bahwa kenakalan tidak akan membuat
seseorang selamanya akan merasakan kesenangan tetapi akan berujung pada tingkat
penyesalah. Setelah lulus aku melanjutkan sekolah di tingkat smp yang sedikit
lebih jauh dari tempat tinggalku. SMPN 39 BULUKUMBA tujuan pendidikan
selanjutnya, belajar dari pengalaman kemarin, kesalahan yang sama tidak akan
terulang kembali. Sikap sabar dan pergaulan yang baik sudah aku terapkan kepada
teman-teman baruku. Kelas baru pengalaman baru serta wajah-wajah baru nampak
jauh beda dari teman-teman sebelumnya, banyak dari mereka pandai dalam
menguasai mata pelajaran meskipun tidak sedikit dari mereka bersikap bodoh tapi
selalu ada persaingan dalam itu semua dimana yang paling cerdas yang akan
mendapat predikat juara kelas.
Tidak banyak yang menarik dimasa SMP bahkan semua seakan biasa
saja, tidak banyak kenangan yang bisa di ingat, kalau saja aku merenungkan
kembali dan mengingat kenangan masa smp itu Cuma sedikit yang terjanggal dalam
ingatan sebab kontrol dan komunikasi menurutku masih monoton dan tidak seseru
masa kecilku.
Singkat cerita tibalah saat dimana semua siswa sibuk dengan urusan
mereka, dimana pendaftaran untuk ketingkat selanjutnya akan di mulai. Seperti
halnya aku yang sibuk bahkan pusing akan melanjutkan SMAN dimana. Banyak
pilihan memang, tapi sebagai seorang
yang terpelajar aku lebih memilih sekolah yang lebih terkenal dengan akreditasi
a di banding sekolah-sekolah lain yang
berakreditasi B bahkan C. SMAN 10 BULUKUMBA tujuan utama selanjutnya, disini
persaingan untuk masuk didalamnya sangat sulit dan berat karena siswa diseleksi
menurut kemampuan mereka masing-masing dan tidak sedikit dari mereka kalah
sebelum berjuang. Apa yang salah dari mereka? Kurang percaya diri memang
membuat seseorang bisa putus asa.
Akhirnya aku diterima di sekolah itu yang bertanda bahwa akan ada perubahan baru
dari hidupku, pembentukan karakter dan sifat pendewasaan diri untuk lebih
mengenal pribadi diri sendiri. Hari pertama, hari dimana semua sibuk mencari
ruangan kelas mereka. Langkah kaki semakin jauh menelusuri setiap ruang,
setelah lama lama dan lama akhirnya kutemukan namaku tertempel disebuah ruang
kelas mipa 3. Namaku berada di urutan ke 15 dari nama-nama temanku. Mulailah
aku masuk didalam kelas itu, dengan perasaan malu aku mencari tempat yang
strategis yang mampu di lihat oleh banyak orang. Bukan untuk cari perhatian
tapi begitulah caraku memahami setiap mata pelajaran.
Di kelas ini teman-teman sangat bersahabat bahkan sangat membantu
dalam setiap masalah, akhirnya kami sebut kelas kami dengan sebutan MA3YA.
Dengan nama ini kelas mipa 3 menjadi di kenal di sekolah dan tidak di pandang
rendah oleh kelas-kelas lain apalagi begitu banyak orang pintar yang bergabung
di dalamnya sampai-sampai setiap ada lomba MA3YA selalu mewakilkan anggotanya
di dalam lomba tersebut. Mengingat kembali kenangan yang ada didalamnya terasa
sangat ingin kembali dimasa itu, masa dimana semua seakan hanya milik kami dan
bukan milik siapa-siapa.
Aku kembali merenung dan membuka mata menggambarkan kenangan 3
tahun silam, dikala itu aku masih berada di kelas 2 SMA. Tanpa sengaja dari
jauh terlihat seorang wanita yang entah siapa namanya dan sebelumnya tidak
pernah aku lihat. Wanita yang menarik dan bisa di bilang cantik tapi itu Cuma dari kejauhan,
belum terlihat dari dekat. Tidak butuh waktu lama akhirnya aku bisa kenal dekat dengan wanita itu tapi
ada batasan diantara itu semua. Sebagai
wanita harusnya lebih menjaga diri dari sesuatu yang merusak termasuk dari
laki-laki moduss.
Kelas 3 masa dimana semua telah sibuk mempersiapkan diri untuk
mengikuti ujian nasional, aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk itu karena
anggapanku semua sama saja belajar tidak belajar, nilainya tetap sama karena
ujung-ujungnya akan ada kunci jawaban yang beredar. Nyatanya benar di ujian
nasional setiap pagi siswa sibuk mencatat kunci jawaban makanya ada yang datang
pagi sebelum gerbang terbuka, ada yang datang subuh, bahkan sampai meminta
langsung sama guru yang bersangkutan! Jawaban itu bukan dari guru tetapi
sumbangan dari sekolah lain yang di kirim lewat media social.
Dengan kunci jawaban banyak siswa yang mendapat nilai yang baik
meski tidak dengan kejujuran sama halnya aku yang mendapat nilai bagus tapi
ujungnya nama ku tidak terdaftar di formulir pendaftaran SNMPTN.
Jadi korban SNMPTN sangat menyedihkan bahkan ada rasa putus asa
untuk melanjutkan kuliah di tingkat Universitas. Mimpi pertama tiap siswa itu
pastinya di UNHAS (universitas hasanuddin) tapi mimpi itu sudah terkubur dalam,
meski banyak orang yang mengatakan katanya lapangan kerja sangat menjanjikan dan menjamin masa depan
jika lulus di Universitas tersebut.
Waktunya pendaftaran jalur span terbuka, tanpa terkecuali semua
siswa berhak mendaftar. Dengan modal uang 20.000 aku daftarkan diriku melalui
guru pembimbing yang katanya 20.000 adalah uang jaringan, Bukan Cuma aku banyak juga siswa yang melakukan hal
tersebut. Dengan pilihan jurnalistik pilihan pertama dan KPI (komunikasi
penyiaran islam) di pilihan ke dua. jalur span menurutku tidak menjanjikan
sebab ada rasa tidak yakin bisa lulus di jurusan itu.akhirnyaaku percayakan
diri daftar kembali di jalur sbmptn dengan mengambil jurusan teknologi
pertanian pilihan pertama dan manajemen pilihan kedua masing-masing di UNM.
Suatu keyakinan besar lulus sbmptn.
Tidak lama kemudian pengumuman kelulusan span tiba, rasa penasaran
dan rasa takut akan kekecewaan bercampur baur dalam hati. Jam 3 tepat sudah
banyak kabar gembira dari teman-teman yang ternyata lulus di jurusan favorit
tapi banyak pula yang harus menanggung kekecewaan berita kabar “tidak
lulus”. Datang kabar gembira dari
sahabatku yang ternyata lulus jurusan “metematika uin alauddin makassar”.
Sebagai juara umum pantas ia mendapatkan hadiah itu.
Aku masih belum berani melihat hasilku. Apakah akan mengalami
kekecewan seperti gagal snmptn! Di temani 5 orang teman, aku berangkat kesalah
satu rumah teman yang dekat dari sekolah. Disana mulailah kami cek kelulusan
satu-persatu, akan kah ada yang menyusul langkah temanku tadi ke Uin alauddin Makassar?
Kabar buruk menimpa ketiga temanku yang ternyata tidak lulus yang menyebabkan
rasa tidak percaya diri pada hatiku untuk lulus. Tibalah giliranku untuk cek
kelulusan dan nyatanya aku lulus di
pilihan pertama “jurnalistik”. Rasanya tidak percaya tapi ini fakta.
Hari mulai sore mulailah aku kembali kerumah dengan ucap syukur ku
temui kedua orang tuaku sambil memeluk dan berterima kasih. Sebelum pendaftaran
mereka tidak suka dengan jurusanku sebab katanya jurnalistik Cuma sekedar
menjadi seorang wartawan bukan siapa-siapa tapi setelah ku kabarkan kabar
gembira ini akhirnya mereka setuju dan mau menerima pilihanku. Kata ayahku “itu
semua tergantung kemauan dan keinginan dan saya tidak memaksa kehendak asal
bisa benar-benar dan yakin dengan apa yang telah di pilih”
Di Makassar saya tinggal di rumah om. Banyak rintangan dalam
pendaftaran ulang seperti jarak rumah tempat saya tinggal di Makassar jauh dari
kampus dan kendaraan yang sulit, meski dirumah itu ada 4 motor tapi semuanya di
pakai untuk om bekerja dan anak-anaknya kesekolah.
Hari berlalu dengan cepat, semua pengurusan berkas telah selesai.
Dengan jadwal masuk kampus yang telah di tetapkan, pagi itu aku bergegas menuju
kampus yang di kenal dengan kampus peradaban. Membingungkan untuk mencari kelas
karena tidak sama dengan waktu SMA, di bangku kuliah nama tidak di temple di
dinding jadi untuk mencarinya cukup susah. Di temani teman yang sudah kenal
waktu opak kami mencari ruangan tempat kami akan menuntut ilmu. Sayangnya kami tidak sekelas, ia di kelas B
sedangkan aku di kls A
Wajah-wajah baru yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai baik itu
di media sosial maupun secara langsung. Sikap dan karakter yang berbeda serta
tata bahasa yang unik membentuk perbedaan di antara kami dan dari perbedaan itu
akan timbul kebersamaan maupun kesatuaan antar perantau di tanah Makassar.
Teman laki-laki pertama, orang Kalimantan dengan bahasa yang cukup sopan aku
cukup merasa nyaman dengannya. Jauh dari perantauan ia memilih kuliah di
Makassar sementara di Kalimantan banyak universitas yang cukup baik dan megah,
mungkin takdirnya sudah di Uin alauddin Makassar, Sekilas tentang teman baruku.
Ada yang menarik dari dalam kelas itu dimana tidak satupun
anggotanya yang asli Makassar. Kemana orang Makassar di jurnalistik? Yang ada
hanya anak rantau dari daerah yang memiliki jarak tempuh puluhan kilometer demi
menuntut ilmu di kota Makassar. Meski demikian selalu ada keselarasan dalam
perbedaan itu yang membuat kami berarti tanpa memandang asal, adat, dan bahasa,
Sekilas tentang kelasku.
Penulis bernama Hendra Gunawan mahasiswa jurusan jurnalistik,
semester 5 tahun 2019, fakultas dakwah dan komunikasi, uin alauddin Makassar.


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.