Coba pahami dan renungkan, dan saya tunggu komentarnya di kolom :)
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Nah, omong-omong nih bagi akhwat yang sudah istiqomah bercadar, menutup diri dengan sempurna, semoga Allah mudahkan perjalanannya. Heheh doakan saya juga ya, karena orang tua masih saya beri pemahaman.
Ah, ya. Mengenai tulisan ini. Saya, walaupun tak bercadar tapi sering memperhatikan akhwat-akhwat bercadar. Apalagi tingkah laku dan perangainya di depan umum, dan juga di media sosial. Niat banget nulis ini karena sungguh untuk mengharap ridho Allah, tidak ada maksud lain untuk menggoyahkan iman saudari-saudari sekalian.
Kawan-kawanku yang kucintai karena Allah, sahabat pasti tahu, ketika kita memutuskan suatu perkara, ada baik buruk yang harus dipertimbangkan. Apalagi perihal bercadar ini. Kutulis ini karena besarnya rasa cinta terhadap kalian, sungguh cinta karena takut kepada-Nya.
Bercadar, yang hukumnya Sunnah, yang ketika kita memakainya akan tumbuh benih-benih keimanan serta kemulian pada diri kita. Banyak hal yang harus kita langkahi terlebih dahulu, terutama diri sendiri, kemudian menyusul kepada keluarga, kerabat, dan lingkungan. Masyaa Allah, bukankah perjuangan ini tidak serta merta seperti membalikkan telapak tangan, Wahai saudariku? Jadi mari kita dukung dan hargai mereka, jika tidak ingin membantu, maka jangan sampai akibat ulah kita, mereka jadi ragu akan keputusan mereka.
Lagi, akhwat bercadar pasti sudah tahu betapa beratnya tinggal di bumi setelah mengubah penampilan. Namun, di samping itu, ada hal-hal lain yang mestinya sudah tidak ada lagi dalam diri kita sebagai hamba Allah.
Kemarin dan kemarin kemarinnya lagi, saya dipertemukan dengan akhwat, dan tentunya bercadar (ya iya, itu kan tema kita). Beliau Masyaa Allah saya kagum. Berani melangkah ke masjid dan melaksanakan salat Tarawih berjama’ah. Orang-orang sekita mulai risih, apalagi Amma saya yang tak henti-hentinya memandangi gadis itu, tapi saya bilang, “Amma, nga boleh kayak gitu,”
“Nanti kamu jangan sampai kayak gitu, ya. Ga ikhlas saya!”
Saya jawab,”Insyaa Allah.”
Namun, tidak seperti yang saya harapkan. Gadis itu sungguh tak mau bergaul. Sehabis salat dia langsung memakai cadar kembali. Lalu setelah beberapa saat, dibuka kembali saat ia ingin salat sunnah. Dia langsung memojok, mengeluarkan handphone dan asik mengacak-ngacaknya. Awalnya saya paham, karena waktu baru-baru hijrah dulu, saya juga suka menutup diri, tapi seiring pejalanan itu, saya sadar, saya hijrah, tapi silaturahim berkurang.
Kembali kepada gadis tadi. Saat ceramah tengah akan dimulai, saya lirik-lirik tuh, gadis itu. Kira-kira dia sedang apa? nah sebaik-baik prasangka waktu itu saya mengganggap beliau sedang membaca Al-Qur’an. Nah lo.. Aduh saya jadi bingung. Saya jadi teringat dengan suatu hadis yang pernah saya ikuti waktu kajian, kira-kira begini isinya:
Disebutkan dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas, Nabi Saw. Bersabda, “Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah jum’at, maka ia SEPERTI KELEDAI yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada jum’at baginya (ibadah Jum’atnya tidak sempurna).”(HR.Ahmad:230)
Dalam hadis yang lain disebutkan “Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jum’at, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.”(HR. Bukhari no. 934 dan Muslim no. 851).
Pertanyaannya adalah mana lebih baik dengar ceramah atau membaca al-Qur’an?
Jawabanya, mendengar ceramah dengan seksama akan sangat bermanfaat, paling tidak akan dapat meningkatkan atau menambah pemahaman kita terhadap Islam khususnya, dan juga bisa terhindar dari perbuatan yang terkesan tidak menghargai muballigh yang sedang ceramah.
Walaupun secara tekstual kedua hadis di atas konteksnya adalah larangan berbicara ketika khatib berkhutbah (ceramah) di hari jumat, akan tetapi intinya bahwa larangan berbicara dan yang lainnya ketika muballigh sedang ceramah berlaku umum, sebab akan mengganggu konsentrasi sekaligus muballigh terkesan tidak dihargai.
Nah berikutnya, dalam ayat al-Qur’an Allah Swt. berfirman;
“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (QS. al-‘Araf:204).
Ayat ini adalah perintah untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an sekaligus diam ketika ada orang lain yang membaca al-Qur’an agar kita mendapat rahmat dari Allah Swt.
Mendengarkan dan diam ketika al-Qur’an dibacakan juga bermakna dengar dan diam ketika muballigh sedang ceramah sebab yang disampaikan oleh muballigh bukan hanya sekedar membaca teks al-Qur’an saja akan tetapi MENJELASKAN MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM AL-QUR’AN tersebut.
Walhasil, segala sesuatu ada tempatnya, mendengar ceramah ada waktunya begitu pula membaca al-Qur’an ada saatnya. Keduanya jangan dibenturkan dalam waktu yang bersamaan, sebab keduanya adalah baik namun menjadi kurang tepat jika kita sambil dengar ceramah lalu kita membaca al-Qur’an.
Kawan-kawanku yang aku cintai karena Allah, teman-teman harus tahu, selain menahan terjang arus pendapat orang lain, seorang muslimah yang baik, juga hendaknya memperkaya diri dengan ilmu. Entah akhwat itu belum berilmu tetapi baru hijrah, atau memang diri dan hati yang belum bulat bertekad kepada Ilahi.
Namun, sesuatu yang perlu diingat, tidak semua orang akan berpikiran demikian, memahami kondisi seperti tadi, sehingga akhirnya akan keluar perkataan-perkataan yang melukai relung jiwa. Sahabatku, mungkin itu yang sedikit banyaknya mengambil peran dalam buruknya citra islam di mata dunia. Teror yang mengatasnamakan agama kita, karena si ILMU ini, ukhti. Wallahi, Tidak heran Imam Malik, salah satu imat besar itu, mau merelakan salat Tahajudnya DEMI ILMU, Lupa akan batalnya wudu’ KARENA ILMU.
Allahuakbar, kau tahu saudariku sekalian, kenapa akhwat bercadar sangat mudah digerogoti kumalnya kejahatan. Allahuakbar, Itu karena salah kita pribadi ukhti, lihat bagaimana mata-mata cantik dinikmati Gratis oleh orang lain, ingat bagaimana orang yang tidak pernah kita mengenalnya, tidak pernah bertemu dengannya, tidak ditakdirkan bersilaturahin dengannya, tapi dia bisa melihat lekukan tubuh kita di balik baju longgar ini, di balik jilbab panjang ini. Subhanallah, begitu halus para syaitan, bukan?
Lalu saya tanyakan, apa bedanya kita dengan seseorang yang tidak berhijab tapi tidak memiliki media sosial. Orang lihat lekuk badannya, sekampung. Tapi kita, SubhanAllah, satu dunia bebas mengakses tubuh pinjaman ini, mau dibawa ke mana rasa malu di jiwa ini, ukhti? Sekarang coba periksa, masih adakan ia di sana?
Marah? Silakan saya terima, tidak masalah, sungguh kalau cinta dibalas dengan kotoran keledai pun, yang namanya cinta karena Allah, akan ada sampai akhirnya kita bertemu, entah anti yang akan jemput ana di neraka, atau sebaliknya, dan kemungkinan lain kita sama-sama duduk melingkar di tepi Telaga Allah di Syurga.
Bukankah kita para muslimah harus sadar betapa berbedanya kita dengan orang lain, ya , berbeda, sangat berbeda. Perbadaan yang nantinya kita harapkan akan membawa kita ke Jannahnya. Perbedaan yang sabda Rasulullah SAW bahwa kita golongan ‘yang sedikit itu. Yang karena perbedaan itu kita diminta melawan semua ego dalam diri. Perbedaan yang terkucilkan. Ini bukan tuntunan Rasul SAW, bukan?
Dan sungguh yang membuat hati saya makin teriris adalah, akhwat yang saya ceritakan tadi, sedang bermain Game. Ya Allah, kalian tahu, puluhan persen sudah saya raup untuk membangun pemahaman dan kekuatan untuk berubah, buyar dan hilang entah ke mana. Saya menangis sejadi-jadinya, menyakitkan memang.
Lalu, apa yang salah dengan bermain GAME? Tidak salah sama sekali, Tapi game yang memamerkan aurat dirimu itu, game yang membuat muballig di hadapanmu tak beharga, game yang membuat citra agamamu karena pakaianmu dan perilakumu yang sungguh tidak ada salah sama sekali.
Tapi Apa salahnya pula kau ganti dengan mendengar baik ceramah itu. Apa salahnya kau serapi ilmu yang mungkin kau lebih paham dari penceramah itu, setidaknya mengingatkanmu, bukan? Apa salahnya?
Kalau tidak bisa, maka saraku yang terbaik adalah, salatlah di rumah. Bukankah sesuai ILMUNYA, Salat di rumah lebih utama daripada salat di masjid bagi kaum wanita? Kalau tidak, Maka sapalah ibu-ibu yang menatapmu takut dan heran, salami dan berbaik-baiklah pada mereka.
Aisyah hasna
Semoga bermanfaat…!
Wallahu’alam


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.