Jumat, 25 Januari 2019

KEKAYAAN SEBENARNYA - NISWAR KULLAH

"Kalau untuk menunjukkan bahwa Anda
orang kaya lantas anda mengatakannya
kepada orang-orang, berarti Anda belumlah
benar-benar kaya."
-Niswar Kullah (mahasiswa UINAM)



Apa yang dimaksud dengan kaya?
Maksud saya adalah kaya dalam arti
yang sesungguhnya, yakni benar-benar
kaya? Tentunya kata kaya ini bisa kita
artikan dengan cara yang berlainan,
bergantung pada interpretasi dari setiap
orang. Akan tetapi, bagi saya sendiri,
yang dimaksud dengan kaya bukanlah
hanya karena kita bisa membeli semua
yang diinginkan (meskipun harus diakui,
alangkah senangnya kalau kita bisa seperti itu!). Untuk saya, kaya yang sesungguhnya
adalah kalau kita memiliki kebebasan
Untuk jelasnya, berikut ini adalah
definisi saya pribadi mengenai apa yang
dimaksud dengan kaya. Dalam definisi
saya ini sudah tercakup semua hal paling positif yang akan kita peroleh kalau kita berhasil menjadi orang yang benar-benar
kaya



"Yang dimaksud dengan kaya adalah kalau
kita memiliki cukup uang dan cukup waktu
untuk melakukan apa yang kita inginkan kapan pun kita mau."
Nah! Sekarang, apa pendapat Anda?
Apakah menurut Anda Bill Gates, yang sudah
jelas-jelas adalah orang yang superkaya
raya, mempertahankan profesinya sebaga
pemilik dan pucuk pimpinan Microsoft
karena dia terpaksa atau karena memang
dia menginginkannya? Yang jelas, Bill
Gates memiliki cukup uang dan cukup
waktu untuk melakukan apa saja yang dia
inginkan, kapan saja dia mau, karena ia
sudah berhasil menjadikan dirinya sebagai
seorang kaya sejati. Oleh karena itu, dia
tidak hanya menjadikan dirinya orang yang
berpenghasilan besar saja. Dengan demikian
kita baru bisa dikatakan kaya sejati kalau
kita bisa mendapatkan kebebasan
Kekayaan Berarti Memiliki
Kebebasan untuk Memilih
Chuck Feeney adalah juga orang kaya
raya seperti halnya Bill Gates. Sebagai
pendiri ratusan buah toko bebas pajak di
bandara-bandara seluruh dunia, Feeney
adalah jelas orang yang superkaya raya
Lebih tepatnya dia adalah mantan orang
superkaya raya. Hal ini karena pada tahun
1984, ia telah menyumbangkan 99,5%
dari kekayaannya yang berjumlah 3,5
milyar dolar kepada sebuah yayasan sosial
Sekarang ini, dia giat menyumbangkan
waktu dan uangnya untuk tujuan-tujuarn
sosial di seluruh dunia.
Baik Bill Gates maupun Chuck
dengan kaya yang sejati itu adalah kalau
kita memiliki kebebasan sepenuhnya untu
memilih cara kita meluangkan waktu dan
uang kita. Sementara Gates memilih untuk
meluangkan waktunya dengan menciptakan
lebih banyak lagi kekayaan, Feeney memilih
meluangkan waktunya dengan jalan
menyumbangkan kekayaannya. Hal yang
memungkinkan kedua orang tersebut bisa
memilih jalan hidupnya masing-masing
adalah karena keduanya memang sama-
memahami benar bahwa yang dimak
' sama benar-benar kaya.
Luangkahlah Waktu Anda dengan Bijak
Kebanyakan orang mengira bahwa
yang dimaksud kekayaan sejati adalah
jika memiliki banyak uang sehingga bisa
membeli segala yang diinginkan. Akan
tetapi, orang yang bijak memahami betul
bahwa kaya yang sejati bukan hanya berarti
kita bisa lebih banyak membeli sesuatu
Menurut mereka, kaya sejati itu juga
jika kita bisa lebih banyak waktu untuk
melakukan apa yang ingin kita lakukan
Coba Anda renungkan sejenak
Bayangkan kalau kita sudah tua nanti
Rambut kita sudah mulai beruban dan
kita sedang duduk di depan rumah jompo
Saat itu, kita sedang berpikir ke belakang,
tentang waktu-waktu yang telah kita
lewatkan dalam hidup ini. Menurut Anda
hal-hal apa saja yang lebih kita sesali?
Apakah kita lebih menyesal karena kita
tidak bisa membeli rumah yang lebih
baqus? Atau, kita lebih menyesal karena
kita tidak bisa meluangkan lebih banyak
waktu dengan anak-anak ketika mereka
masih kecil?
Lalu, hal mana yang lebih anda sesali?
Tidak bekerja sungguh-sungguh di kantor
ehingga karir kita kurang maju? Atau
menyesal karena tidak bisa meluangkan
cukup waktu untuk orang tua kita, atau
untuk teman-teman kita pada saat mereka
Membutuhkan kita?
Waktu adalah suatu komoditas yang
sangat berharga, bahkan jauh lebih
berharga daripada emas sekalipun. Karena,
setelah waktu berlalu maka waktu itu tidak
pernah akan kembali lagi! Contohnya, jika
mobil kita rusak, kita bisa saja membeli
mobil yang baru. Kalau Anda kehilangan
pekerjaan, Anda bisa mencari pekerjaan
lainnya. Kalau Anda kehilangan uang karena
bisnis Anda gagal, Anda bisa mencari uang
dengan cara lain. Akan tetapi, Anda tidak
akan pernah mendapatkan waktu Anda
kembali kalau sudah telanjur Anda lewatkan
dengan sia-sia. Betul, kan? Jadi, jelasnya,
kalau waktu sudah berlalu maka waktu itu
akan hilang selamanya
Sebuah peribahasa Cina mengatakan
adalah lebih baik membuang semua
kekayaan kita dalam sumur yang dalam,
daripada membuang sia-sia sedikit waktu:
yang kita miliki
Oleh karena itu, kaya sejati adalah kalau
kita bisa memiliki cukup uang dan cukup
waktu untuk melakukan apa saja yang kita
inginkan, kapan pun kita menginginkannya
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa keuntungan
terbesar kalau kita bisa menjadi orang kaya
sejati adalah bahwa kita akan memiliki
kekayaan kita dalam sumur yang dalam,
h yang kita miliki
kebebasan untuk memilih dengan cara apa
kita meluangkan waktu kita,
Menciptakan Penghasilan
Merupakan Jebakan bagi Waktu Kita
Mungkin Anda pernah mendengar
tentang para dokter atau pengacara yang
penghasilannya mencapai $150.000 dolar
per tahun. Akan tetapi, ironisnya, mereka
sering merasa terjebak dalam menjalani
kehidupan ini. Kalau begitu, apakah
menurut Anda mereka itu adalah orang
orang yang sedang menciptakan kekayaan
sejati? Kalau kita membandingkan dengan
definisi yang saya berikan di atas tentang
arti kata "kaya", jawabannya tentu "tidak
Mengapa demikian? Walaupun banyak
rofesional berpenghasilan besar dan
mempunyai uang untuk membeli
melakukan apa yang diinginkan, kebanyaka
dari mereka tidak punya cukup waktu
Wajar saja sebab mereka harus bekerja
habis-habisan. Mereka harus bekerja
keras untuk mendapatkan penghasilan
agar mereka bisa mempertahankan gaya
hidup mereka. Mereka-yang terperangkap
dalam pekerjaan, baik pekerjaan yang
berpenghasilan rendah maupun yang
tinggi-adalah korban-korban dari penciptaan
penghasilan, bukan penciptaan kekayaan
sejati
Dengan menciptakan penghasilan,
berarti Anda melakukan barter antara
waktu Anda dengan uang yang Anda
peroleh. Oleh karena itu, Anda tidak akan
mendapatkan uang kalau tidak bekerja
Baik untuk seorang pengumpul sampah
yang berpenghasilan hanya $5,15 per jam
maupun seorang dokter ahli bedah jantung
yang bisa berpenghasilan $5.000 per jam,
penciptaan penghasilan itu sama-sama
menggunakan sistem barter antara waktu
dan uang tadi. Kalau kita bekerja 10 jam,
berarti kita akan menerima bayaran sesuai
dengan 10 jam kerja kita.
Hanya sayangnya, penciptaan peng-
hasilan itu bagaikan lingkaran setan. Oleh
karena itulah, saya menyebut penciptaan
penghasilan ini seperti jebakan barter uang
dan waktu. Lebih memprihatinkan lagi, Jika
lingkaran setan ini akan berhenti berputar
pada saat penghasilan Anda juga berhenti.
Artinya, jika pekerja itu sakit, cacat, atau
diberhentikan, mereka tidak berpenghasilan
lagi
Kalau Pengeluaran Sama dengan
Pemasukan
Sekarang, marilah kita melihat
gambaran tentang profesional-profesional
yang dianggap "kaya". Ambil saja contoh
John Smith, M.D., yang penghasilan
tahunannya sebesar $150.000. Kalau
dibandingkan dengan penghasilan standar
kebanyakan orang, jumlah $150.000
pertahun ini sudah sangat besar. Akan
tetapi, orang-orang profesional seperti ini
lama-kelamaan menjadi begitu bergantung
pada penghasilannya demi mempertahankan
gaya hidupnya. Mereka ini sudah masuk ke
dalam perangkap barter waktu dan uang
tadi
Read More ->>

Minggu, 20 Januari 2019

Makkarappo_Petani_Batuleppa





Membajak kebun atau dalam bahasa bugisnya Makkarappo adalah kegiatan yang rutin di lakukan oleh para petani saat memasuki musim hujan. Kegiatan ini bertujuan agar pemberian pupuk dalam tanaman tertentu bisa bekerja dengan efektif dan membuat tanaman lebih subur.

Prosesnya terbilang gampang gampang susah, disamping mencabut semua rumput yang berada disekitar tenaman lalu dikumpulkan, nantinya tanaman seperti merica ini bakal di pangkas guna memudahkan cahaya matahari menerpa tanaman (berfotosintesis).

Di daerah Sinjai tepatnya di Desa Talle Dusun Batuleppa, setelah menyelesaikan penanaman padi di sawah, petani akan beralih ke kebun untuk memeriksa apakah dalam 8 bulan tersebut ada tanaman yang mati atau membutuhkan inang (simbiosis komensalisme). Biasanya tanaman yang mati akan diCarikan tanaman baru, tapi sebelum mengganti, terlebih dahulu dilakukan penggalian (ma'gandong). Cara ini dilakukan agar tanaman baru bisa menyerap air saat turun hujan.
.
. Salam Petani Desa
Read More ->>


Penulis Bang Adian 🤗🤗

Menjadi jurnalis buat sebagian orang adalah panggilan jiwa. Talenta mereportase dan menulis sebagai basis, menjadikan seseorang terpanggil untuk menjadi wartawan. Tapi, ada pula yang memilih pekerjaan ini lantaran belum diterima di profesi lain.
Meski demikian, ketika seseorang sudah menyandang predikat wartawan, ia dipaku dengan sejumlah aturan. Kalangan jurnalis akrab menyebutnya dengan Kode Etik Jurnalistik.
Selain itu, ada banyak hal yang berkenaan dengan profesi wartawan yang tidak terangkum dalam Kode Etik. Tiap perusahaan kemudian memberikan panduan. Sejumlah organisasi profesi pers, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) misalnya, juga memberikan panduan.
Pengalaman beberapa jurnalis senior juga menjadi bahan pegangan. Dari semua itu, poin-poin ini saya jabarkan. Sejujurnya ini banyak diambil dari pengalaman di lapangan, mengikuti rapat keredaksian, dan saling bertukar pendapat dengan sesama wartawan. Rata-rata semua sepakat dengan kesepuluh poin ini. Ada memang beberapa lainnya, tapi saya fokuskan saja menjadi sepuluh. Ini niatnya sekadar memudahkan saja. Sumpah, Gan! Mau dibikin lebih panjang pun tak masalah. Ibarat merangkum senarai teks panjang, demikian pula di noktah ini. Oke, kita mulai.


Pertama, tidak boleh menolak tugas. Para bos media acap mempersamakan jurnalis dengan polisi atau tentara. Begitu ada perintah untuk turun ke lapangan, saat itu juga berangkat. Entah dalam kondisi apa kita saat itu, wajib berangkat. Ada tidaknya kendaraan menuju lokasi kejadian, tidak boleh menjadi alasan. Begitu ada tugas yang harus dikerjakan, ya dilakoni. Menolak tugas, itu sama saja mencari "mati". Di militer disertir namanya. Dalam konteks jurnalis juga begitu. Bahkan, beberapa aturan perusahaan menuliskan "jurnalis yang menolak tugas sama artinya mengundurkan diri". Bisa mampus kan? Kalau tentara dan polisi punya jadwal piket, demikian juga wartawan. Ia mesti bersiaga jika ada kejadian yang mesti direportase.
Kalau pemimpin redaksi memerintahkan mesti berangkat meliput, jawab dengan satu kata saja. Diksinya pilih yang enak diucap di mulut. Bisa "baik", "oke", "siap", meluncur", "OTW". Intinya, jangan pernah menolak tugas. Kecuali reporter yang bersangkutan masih cuti menikah. Kalau si pemimpin redaksi memerintah, ya keterlaluan namanya. Namun, kalau kejadiannya adalah tetangga wartawan yang sedang cuti dan tidak ada jurnalis lain, mesti siap turun. Ibarat ada peluang menangkap koruptor, penyidik KPK yang sedang cuti pun mesti bertindak. Maka itu, andai kepingin jadi jurnalis, bersiap-siagalah.

Kedua, tidak boleh tidak dapat.
Ada banyak reporter yang gagap saat menerima telepon dari pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau redakturnya. Kalau sudah melihat nama bos di layar ponsel, hakulyakin, yang ada di pikiran mereka "aduh, disuruh apa lagi gua ini", "salah apa lagi sampai ditelepon", atau "apa lagi kerjaan ini". Meski begitu, tetap saja diangkat dan menerima titah berikutnya. Dan dalam konteks ini, berita atau komentar narasumber yang diminta, wajib didapat. Tidak boleh tidak dapat. Harus dapat. Yang berabe kalau narasumber tidak bisa ditemui, SMS pun tidak dibalas, dan narasumber alternatif tidak bisa dicari. Kalau mentok seperti itu, berkonsultasilah dengan redaktur karena dia adalah orang yang secara garis komando paling dekat dengan reporter. Barangkali dia bisa memberikan masukan dan alternatif narasumber.
Sewaktu konflik di Mesir antara demonstran dan rezim Hosni Mubarak, seorang reporter Lampung Post, Rizki Elinda Sary namanya, diminta mencari mahasiswa Indonesia di negeri Sphinx itu untuk diwawancara. Dia berusaha keras agar dapat akses ke sana. Ujung-ujungnya dapat dengan melakukan wawancara via Facebook dengan mahasiswa asal Lampung yang masih terjebak di Mesir. Jurnalis memang dituntut kreatif. Tidak bisa wawancara langsung, interviu tertulis tak masalah. Itu juga tidak bisa, via SMS, BlackBerry Messenger, atau Facebook pun boleh. Otak mesti diputar agar tugas dari pimpinan bisa dilaksanakan.

Ketiga, tidak boleh mematikan ponsel.
Karena mesti bersiaga 24 jam, ponsel adalah alat komunikasi mahautama buat jurnalis. Sebab itu, mematikan ponsel dalam masa bekerja adalah kekeliruan besar. Kita bisa dimaki redaktur dan pemimpin redaksi jika ponsel mati terus saat dihubungi. Meski sekarang setiap reporter mengirim berita via internet, bertanya kepadanya soal beberapa hal adalah penting. Barangkali redaktur mau memverifikasi nama dan kejadian. Ia menelepon tak semata memerintahkan reporter mencari berita lain. Bisa jadi sekadar menyapa atau si redaktur hendak curhat. Jadi, buang jauh-jauh sikap skeptis kepada redaktur atau pemred. Skeptis hanya boleh kepada narasumber. Jangan pula menyesal jika ternyata telepon yang masuk ke ponsel kita yang mati mengabarkan ada bonus dari kantor. Kalau itu yang terjadi, siap-siap saja gigit jari.
Sedapat mungkin ponsel dalam kondisi siaga. Kalaupun hendak mengecas, lakukan malam hari sepulang kerja dan segera hidupkan di pagi hari. Namanya juga tugas, kadang seharian tak ada yang menelepon, tapi ada kalanya berdering terus setiap jam.

Keempat, tidak boleh libur.
Ini ungkapan hiperbola tentu saja. Sebab, setiap reporter umumnya punya waktu libur satu hari dalam sepekan. Di media lain ada yang liburnya sehari dalam dua minggu. Tapi, kembali ke kesiapsiagaan tadi, sejatinya jurnalis tak ada libur. Ia mesti dalam kondisi siap setiap hari. Setiap ada panggilan tugas, ia mesti siap. Sebab, ada kalanya, kemampuan seorang jurnalis diperlukan saat ia sedang rehat. Misalnya, kantor kedatangan duta besar Amerika Serikat. Ia belum piawai berbahasa Indonesia. Rumah kita dekat dengan kantor. Sedangkan reporter piket belum ada. Karena kita yang paling piawai berbahasa Inggris, kantor meminta kita datang. Ya dalam situasi model begitu, kita mesti siap ambil tanggung jawab. Ketimbang si dubes tidak ada yang menerima dan mendapat kesan kurang bagus, kita yang menerima dan mewawancarai.

Kelima, tidak boleh menggerutu.
Kadang tulisan kita tidak ditayangkan oleh penanggung jawab halaman atau redaktur. Dan kita pun tidak bertanya langsung kepadanya. Kita cuma menggerutu. Kadang tulisan yang tidak turun itu karena berkaitan dengan kebijakan redaksi.
Misalnya, kita menulis soal penyitaan aset negara oleh kejaksaan setempat. Celakanya, penyitaan aset negara itu berujung ricuh. Mereka yang disita asetnya tidak menerima kemudian berkeras tidak menerima. Kita pun mereportase apa yang sedang terjadi. Kita berharap tulisan itu menjadi berita utama. Paling tidak menjadi berita utama di halaman dalam. Namun, saat besok kita lihat, berita kita tidak masuk. Dan kelanjutan dari berita itu juga tak pernah dimuat. Dalam kondisi semacam inilah reporter diminta legawa. Itu pasti kebijakan redaksi. Mungkin berkaitan dengan sikap redaksi soal itu itu. Kalau kita penasaran, kita tanya saja dengan redaktur atau pemred. Mereka akan menjelaskan. Meski demikian, tanpa bertanya saja kita sudah bisa menduga bahwa berita itu tidak tayang karena kebijakan redaksi. Kalaupun kita bertanya, sudah bisa diduga jawaban bos media kita ialah "ini kebijakan redaksi". Tugas kita selaku reporter memang sebatas melaporkan. Soal tulisan itu turun atau tidak, jadi berita utama atau biasa, itu wewenang redaktur dan unsur pimpinan. Tapi, alangkah bijak jika manajemen memberi tahu reporter bahwa berita semacam itu tidak bisa turun. Manajemen redaksi punya trek dan tren tersendiri terhadap berita yang mau diturunkan. Maka itu, janganlah menggerutu. Lebih baik tanyakan. Kalau sudah jadi kebijakan, lebih baik menurut. Namun, kalau dalam kacamata kita itu layak diberitakan dan menganggap media kita salah, serta kita sangat tidak nyaman lagi, pilihan cuma satu: keluar. Toh itu pilihan. Itu bentuk idealisme juga. Cuma ada baiknya kita mengukur kembali niat itu. Apakah dengan keluar kita bisa menolong lebih banyak korban tertindas dengan berita yang kita bikin. Atau malah kita tak bisa berkontribusi lagi buat masyarakat. Akan tetapi, pilihan sadar adalah yang terbaik: bertahan atau keluar.

Keenam, tidak boleh dihalangi.
Kalau Anda kedatangan jurnalis dan dia datang baik-baik, terima saja dengan terbuka. Jurnalis yang seperti itu hampir bisa dipastikan datang dari media arus utama dan niatnya cuma cari informasi. Meski informasi yang mau ia gali soal korupsi, penyelewengan anggaran atau tindak pidana, umumnya ia akan bekerja dengan baik. Misalnya seorang wartawan datang mau mengonfirmasi soal dugaan pungli di sekolah. Ia pasti menemui narasumber utama: kepala sekolah. Meskipun ada resistensi dari sekolah, jurnalis yang baik tetap sopan selama mereportase. Ia tidak bakalan merasa gagah karena dirinya wartawan. Kalaupun ia tak mendapat narasumber resmi, obrolan beberapa guru dan siswa yang tak mau ditulis namanya, sudah cukup menjadi dasar untuk menulis. Apalagi kalau ada dokumen yang sudah ia pegang.
Kalau pihak yang terduga menyeleweng memang tak bersalah, ia pun tidak takut menghadapi wartawan. Meski isi wawancara adalah bantahan terhadap kabar itu, wartawan tetap mencatatanya sebagai bagian dari pekerjaan reportasenya. Ia tinggal menyinkronkan antara data yang ia pegang dengan konfirmasi ke sekolah yang bersangkutan.
Jurnalis tidak boleh diintimidasi selama ia melakukan reportase. Ia dilindungi Undang-Undang tentang Pers. Kalaupun narasumber merasa jurnalis yang mendatanginya malah memeras, segera laporkan ke polisi. Sudah banyak wartawan gadungan yang masuk bui karena polahnya yang memuakkan. Buat yang model begini, jangan diberi ampun. Penjara adalah tempat yang pantas buat para pemeras yang berlindung dengan selembar kartu pers.

Ketujuh, tidak boleh digaji kecil.
Wartawan juga punya hak untuk hidup layak. Punya rumah, dapur tetap mengepul, ada asuransi jiwa, kesehatan, punya tunjangan, dan bisa menyekolahkan anak sampai strata paling tinggi. Dengan begitu, jurnalis butuh gaji yang layak. Besar-kecil jelas ratif karena setiap orang punya pandangan berbeda soal itu. Tapi, standarnya tetap saja ada. Kalau gaji jurnalis cuma cukup buat makan, itu tidak ideal. Maka itu, manajemen wajib memberikan gaji yang layak buat wartawan. Di Bandar Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung pernah menyurvei berapa gaji yang layak buat seorang reporter lajang/gadis. Ketemu angka Rp 2,3 juta. Angka ini jelas bertambah jika wartawan sudah memiliki istri dan anak. Filosofi pendiri Kompas, PK Ojong soal gaji, saya sepakat sekali. Kata Ojong, gaji itu jangan cuma melihat karyawan seorang. Tapi, penghasilan itu mesti cukup untuk istri dan anak. Tidak salah kalau jurnalis dalam grup Kompas termasuk yang paling baik penggajiannya.
Media lain seharusnya juga demikian. Apalagi yang sudah berdiri lama. Harus ada penyesuaian setiap tahun karena harga barang pasti terkerek setiap bulan. Kalau gaji tak naik-naik, mana cukup untuk menghidupi keluarga jurnalis.
Kalau gaji wartawan rendah, sedikit banyak berpengaruh terhadap kinerja.
Bos media jangan cuma mau berita eksklusif saja, tapi tidak memikirkan kesejahteraan wartawan. Mau berita bagus, tapi gaji wartawan digencet. Mau artikel yang menarik tetapi tak dipikirkan keluarga si jurnalis. Berimbang saja.
Kalau pemimpin redaksi ketat terhadap wartwan, ia wajib memperjuangkan gaji penggawanya ke pemilik modal juga dengan gagah. Kalau ia sanggup berceloteh tentang jurnalisme, begitu juga seharusnya saat ia berhadapan dengan bos medianya. Sangat naif kalau wartawan sakit saja pengobatan dari kocek sendiri. Besok-besok, jangan harap jurnalis mau bekerja serius kalau itu kejadiannya. Jangan harap wartawan mau mengaktifkan ponselnya kalau perhatian kantor kecil.
Wartawan wajib digaji layak. Ia juga buruh. Tapi ia bekerja dengan profesionalitas dan intelektualitas. Maka itu, ia berhak dihargai dengan gaji yang manusiawi.
Kedelapan, tidak boleh menerima suap.
Jurnalis wajib mengedepankan independensi dari semua narasumber. Dan media semestinya bisa serupa itu dengan pemasang iklan. Artinya, skeptisme media dan jurnalis sebaiknya sama dan sebangun.
Dalam konteks itu, jurnalis dilarang menerima pemberian apa pun dari narasumber. Hampir semua media sepakat dengan ini. Sebab, di boks redaksi acap ditemukan kalimat "wartawan kami dilarang menerima apa pun, dari siapa pun, dan atas kepentingan apa pun." Ini menyiratkan media juga melarang keras jurnalisnya menerima duit atau yang dalam bahasa keseharian disebut "amplop". Sayangnya tidak setiap media tegas dengan wartawan yang menerima duit amplop. Bahkan, media yang tak bisa menggaji wartawannya, malah permisif dengan itu.
Kadang ada jurnalis yang bilang "kalau tidak menyangkut pemberitaan dan sekadar menjaga hubungan, amplop tidak apa diterima". Ada juga yang bilang, "Kalau tidak minta dan dikasih, itu kan rezeki, terima saja."
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tegas melarang anggotanya menerima amplop. Yang ketahuan dan tercium gelagat itu, pasti dipecat. Di Bandar Lampung, sudah ada kejadian semacam itu. Sayangnya organisasi profesi pers lain masih permisif. Ditanya soal sikap organisasi soal amplop, malah mengelak dengan mengatakan itu urusan pribadi wartawan dan medianya. Aneh, bikin organisasi pers kok tidak punya aturan tegas soal itu. Pantas dunia jurnalisme terpuruk karena mayoritas masyarakat berpikir wartawan itu otaknya duit melulu. Sedih!
Kenapa sih kok sampai menerima amplop itu dilarang? Jurnalis tak pernah tahu kapan seseorang itu menjadi narasumber. Maka, harus dijaga independensi. Salah satu cara, menolak semua pemberian. Manfaatnya, menjaga independensi dan tak punya utang moral. Kalau sudah permisif, mana bisa skeptis. Kalau sudah keseringan menerima duit dari gubernur, mana mungkin kritis. Seorang teman lama pernah mengatakan, "tangan di bawah takkan pernah sanggup melawan tangan di atas." Sudah sering menerima, pasti sungkan menulis kritis. Tegasnya, kalau mau jadi jurnalis yang baik, tolak amplop. Semaksimal yang kita bisa. Mantan Ketua AJI Bandar Lampung yang sekarang jadi Redaktur Pelaksana Tribun Lampung, Juwendra Asdiansyah, mengatakan, "hidup lebih bermakna dengan idealisme di dada". Subhanallah.
Kalau merasa tak kuat godaan amplop, pilihannya seperti yang pernah disinggung di pon sebelumnya: mundur saja. Berhenti jadi wartawan. Ketimbang melacurkan diri dan menambah ruwet persoalan jurnalisme di masyarakat, lebih baik cari kerja lain. Kasihan kepada jurnalis yang independen dan idealis, disangka sama dengan jurnalis permisif amplop.
Menolak amplop dalam banyak kasus, mendatangkan banyak keuntungan buat jurnalis. Tidak percaya? Ini buktinya. Seorang kepala depot Pertamina yang baru dilantik, tiba-tiba didatangi wartawan. Ada beberapa orang. Wajahnya tidak bersahabat. Lebih menyerupai pemeras ketimbang wartawan. Kepala depot lalu dimintai uang. Rutin lagi. Sebulan sekali. Kata para jurnalis gadungan itu, ini tradisi, di mana korporasi harus menyiapkan uang untuk keperluan publikasi.
Sang kepala depot stres. Ia sedikit depresi. Otaknya menstigma bahwa semua wartawan serupa itu. Ia pun menurut. Setiap konferensi pers, ia siapkan duit. Wartawan media utama dan abal-abal dikasih duit. Semua menerima. Tanpa terkecuali. Sampai suatu waktu ada dua wartawan muda anggota AJI meliput di sana. Saat membagi amplop, dua wartawan muda itu "kabur". Sang kepala depot heran. Kok ada menolak duit. Ia kejar dua jurnalis muda itu. Bayangkan, seorang kepala depot Pertamina sampai mengejar wartawan supaya menerima uang amplop. Dua jurnalis menolak keras. Sekian alasan dilontarkan sampai ujung argumentasinya begini, "Kami anggota AJI, kami tidak bisa menerima. Kami bisa dipecat kantor kalau menerima ini."
Sang kepala depot tertegun. Ia heran sekaligus senang. Ia masygul sekaligus bangga. Ia lalu bilang, "Kalau semua wartawan seperti adik-adik, aman dunia ini." Sang kepala depot kemudian berubah perspektifnya soal wartawan. Sekarang, kalau ada informasi ekskusif soal bahan bakar, soal dugaan penggelapan bahan bakar, dua wartawan itu yang pertama diajak. Sebab, sang kepala depot tahu, yang dibutuhkan jurnalis adalah informasi, bukan duit. Narasumber sangat menghargai jurnalis yang profesional. Bahasa ekstremnya, jurnalis yang permisif dengan amplop, harga dirinya sudah bisa ditakar. Paling setara seratus atau dua ratus ribu rupiah! Miris!
Kesembilan, tidak berpolitik praktis.
Menjadi jurnalis bukan berarti hak politiknya tercabut. Ia boleh menyalurkan hak pilihnya pada calon legislator partai tertentu. Yang tidak diperbolehkan ialah merangkap menjadi pengurus partai. Kalau sudah mau berpolitik praktis, jelas urusannya. Ia mesti menanggalkan baju jurnalisnya. Mengapa? Sebab, kalau sampai ia masih menjadi jurnalis akan ada konflik kepentingan. Sebagai aktivis partai, ia pasti memberitakan keharuman partainya. Padahal partai berorientasi kekuasaan. Dan saat berkuasa, mengutip Lord Acton, cenderung korup atau menyeleweng. Apakah mungkin ia masih mau menulis kebobrokan partainya sendiri? Maka, di beberapa media, aturannya tegas. Pilih aktif di partai atau terus sebagai jurnalis. Meski demikian, yang sembunyi-sembunyi pun ada. Kalau ditanya aktif tidak di partai, ia cuma menjawab "cuma fans saja, bantu-bantu sedikit".
Soal jurnalis alih profesi jadi politikus, tidak ada masalah. Di DPR ada banyak legislator yang bermula dari jurnalis. Ada Ramadhan Pohan dari Demokrat yang bekas Pemred Jurnal Nasional (Jurnas), ada Effendi Choirie dari PKB, Teguh Juwarno asal PAN adalah bekas jurnalis televisi, Meuthia Hafid dari Golkar adalah jurnalis andalan Metro TV. Di skop daerah juga bertebaran anggota dewan yang mengawali kiprah di masyarakat dari jurnalis. Bahkan, beberapa kepala daerah juga awalnya wartawan. Di Lampung, bekas Wakil Bupati Lampung Timur Noverisman Subing adalah koresponden salah satu harian di Jakarta.


Kesepuluh, tidak boleh sombong.
Poin terakhir dari sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan "nabi jurnalisme" Bill Kovach dan Tom Rosensteil ialah rendah hati. Wartawan harus rendah hati. Ia harus mengakui kesalahan jika bersalah. Ia harus sopan dalam mereportase. Ia tidak boleh sombong. Sikapnya yang sopan dalam mewawancarai, harus sama kepada setiap narasumber. Kalau ia ramah saat mewawancarai gubernur, ia juga mesti begitu saat berhadapan dengan maling atau pembunuh. Kalau ia bersikap manis saat mewawancarai kepala dinas, sama dan sebangun saat menginterviu pelacur. Sebab, buat jurnalis, semua narasumber punya kedudukan yang sama. Mereka sumber informasi. Tak lebih, tak kurang.
Wartawan yang sudah puluhan tahun bekerja tetap harus memperbaiki cara bekerja, cara mewawancarai, dan cara menulis berita. Tak jadi jaminan, sudah puluhan tahun jadi wartawan, pasti hebat. Belum tentu, Bro! Jangan sombong!
Kenapa ini penting? Sebab, rendah hati akan sangat berharga saat jurnalis bekerja.
Wartawan itu manusia biasa yang bekerja dengan banyak keterbatasan. Boleh jadi ia salah menulis nama narasumber, keliru menulis kronologi kejadian, salah menginterpretasikan ujaran narasumber, dan sebagainya. Pada saat itulah ia dituntut rendah hati, meminta maaf atas kekeliruan yang dibuat. Dan itu bukan sesuatu yang hina. Bahkan, keluasan pandang jurnalis yang seperti itu yang disukai. Kita senang dengan teman yang acap meminta maaf saat ia bersalah. Kita pasti jengkel dengan karib yang ngotot benar padahal jelas-jelas keliru.
Meralat berita, membetulkan artikel yang khilaf, meminta maaf atas kekeliruan interpretasi adalah beberapa contoh rendah hati dari seorang jurnalis. Namun, bukan berarti ia permisif dengan kesalahan narasumber dan mengikis skeptisismenya terhadap sumber berita.
Saat Bondan Winarno menyusun buku soal kematian geolog Bre-X, de Guzman, ia juga bersikap rendah hati. Bahkan, meski karya Pak Bondan "Mak Nyus" itu terkategori investigasi soal kecurangan Bre-X dalam kasus emas Busang, Pak Bondan tetap rendah hati dalam mereportase. Ia bahkan mengaku secara terang-terangan bahwa ia wartawan dan akan meliput soal kematian de Guzman yang menurut dia janggal. Linda Christanty, jurnalis Aceh Feature, yang menceritakan itu kepada saya dalam sebuah kesempatan.
Tegasnya, jadi jurnalis wajib rendah hati. Rendah hati takkan mengakibatkan martabat kita hilang. Justru dengan rendah hati, marwah kita sebagai wartawan tetap terjaga. Wallahualam bissawab.
Read More ->>

Rabu, 09 Januari 2019

Membaca Kenangan



Aku berasal dari sebuah desa yang berada di salah satu kecamatan yang ada di Bulukumba Sulawesi Selatan. Aku terlahir dari pasangan suami istri yang sangat menyayangi anak-anaknya dan mendidik  anaknya dengan baik. Ibuku bernama Sukmawati  berasal dari suku konjo, suatu suku yang berada di Kecamatan Herlang, dimana desa itu sangat makmur dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Di sini ibu menghabiskan masa kecilnya dan menyisakan banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan.
Perihal tentang ayahku, ia bernama Kamaruddin asli suku bugis. Di masa kecil, ayahku menghabiskan waktu di ladang. Meskipun demikian ayahku tidak pernah lepas dari buku. Kemana saja pergi pasti membawa sebuah buku di tangannya. Mendengar cerita  dari banyak orang ayahku terbilang orang yang sangat pintar bahkan sejak kelas 4 SD (Sekolah Dasar), sesekali ia diberi amanah mengajar di kelas 6. Hingga menempuh  tingkat SMAN  peringkat ayahku tidak pernah turun bahkan Cuma bertahan di antara peringkat 1 dan 2 tapi meskipun demikian ia tidak bisa melanjutkan kuliah sebab karena kurangnya biaya sehingga harapan untuk bisa melanjutkan kuliah terputus.
Dari kedua suku antara konjo dengan suku bugis melahirkan suatu semboyang Mali Siparappe Tallang Sipahua” dari semboyang itu masyarakat Bulukumba menjadi kuat dengan adanya persatuan. Dari persatuan akan melahirkan kebersamaan hingga tidak akan ada  yang goyang sampai kapanpun. Mendengar kata “Bulukumba” berasal dari perang mulut antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah mereka masing-masing. Dari perebutan wilayah itu pihak kerajaan bone mengatakan “bulu’ku mupa” yang artinya masih gunung saya. Kata itulah yang kemudian dipakai sebagai daerah sengketa antara kerajaan gowa dan bone, “bulu’ku mupa” inilah yang kemudian mengalami perubahan menjadi bulukumpa dan bulukumba, sejarah singkat nama daerahku.
Sebagai masyarakat biasa aku bermukim di suatu desa, Desa Batupangkaitulah orang menyebutnya, jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari pusat ibu kota Bulukumba Sulawesi Selatan. Sebagai desa yang cukup dekat dari pusat kota, didesa itu sudah sangat modern. Transportasi yang mudah dijangkau, perbaikan jalan yang semakin pesat dan tidak ada lagi kubangan lumpur seperti desa-desa lain yang terisolir. Listrik pun sudah tidak menggunakan lampu pelita lagi seperti tahun-tahun kemarin, yang hanya penggunakan lampu sumbu dengan bahan bakar minyak tanah.
Bulukumba memiliki beberapa kecamatan, tempat yang kugambarkan situasinya sekarang sudah sangat modern dan sudah bisa di akses oleh orang banyak bernama kecamatan Rilau Ale. Sebagai kota besar, Bulukumba terkenal dengan tempat wisata yang sangat banyak dengan daya Tarik yang mengagumkan. Daya Tarik itulah yang mengundang banyak wisatawan berkunjung di Bulukumba, perkebunan karet itulah daya Tarik yang ada di daerahku. Bahkan tidak sedikit yang rela meluangkan waktunya hanya untuk mengambil gambar dan berfoto di sana.
Dari alam seseorang bisa mengenal jati diri mereka masing-masing dan dari alam seseorang bisa tahu arti syukur kepada tuhan atas pemberian yang telah ia berikan terkhusus pemberian tuhan di  “butta panrita lopi” Bulukumba. Sebagai masyarakat yang makmur dan damai suatu kebanggan terlahir di desa itu,  meski desaku sudah tidak terisolir lagi dan jalan sudah tidak berlumpur tetapi masih banyak pula sapi yang lalu lalang melintas sebab di desaku mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan banyak pula yang menghabiskan hari untuk mengembala ternak seperti sapi. Dampak dari itu jalan raya kotor dengan kotoran ternak tersebut. Selain binatang ternak sesekali ada angkutan umum yang masuk di desaku yang mengangkut para pedagang yang dari berjualan di pasar tradisional yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah.
Masa kecil aku menempuh pendidikan pertama di SDN 82 Palampang yang jaraknya sangat dekat dari rumah, tidak memerlukan kendaraan untuk menjangkaunya tapi Cuma butuh tenaga sedikit sampailah kesekolah itu. Aku di kenal sebagai anak yang nakal dimana kerjaku hanya berkelahi dan mengganggu anak-anak lain yang sedang bermain. Meskipun demikian aku tidak pernah kekurangan teman sedikitpun, ibaratkan boss ada bawahan yang selalu mengikut kemanapun aku pergi, sungguh kesenangan sangat aku dapatkan dimasa itu. Sebagai anak nakal pernah sekali aku mencelakai teman dengan membenturkan kepalanya ke tembok sampai berhari-hari tidak masuk sekolah, layaknya anak yang tidak tahu apa-apa aku tidak sedikitpun merasa bersalah dengan apa yang telah ku perbuat, sampai pada hari jumat orang tua anak itu datang lalu marah-marah di kantor sekolah seolah-olah sangat ingin menemuiku.
Aku seakan belum tahu apa-apa dan akhirnya seorang guru dengan penampilan yang lumayan galak dengan muka yang di penuh janggut di dagu memanggilku dengan perlahan, di kala itu aku sedang berada diruang kelas dengan berharap cemas. Pergilah aku menemui orang tua anak tadi dengan perasaan hati yang takut aku tidak berani memandang wajahnya karena aku tahu hatinya sedang dengan perasaan marah terhadapku. Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan dengan nada keras.
Sungguh hal yang paling tidak bisa aku lupakan di masa sekolah dasar yang membuat aku menjadi faham bahwa kenakalan tidak akan membuat seseorang selamanya akan merasakan kesenangan tetapi akan berujung pada tingkat penyesalah. Setelah lulus aku melanjutkan sekolah di tingkat smp yang sedikit lebih jauh dari tempat tinggalku. SMPN 39 BULUKUMBA tujuan pendidikan selanjutnya, belajar dari pengalaman kemarin, kesalahan yang sama tidak akan terulang kembali. Sikap sabar dan pergaulan yang baik sudah aku terapkan kepada teman-teman baruku. Kelas baru pengalaman baru serta wajah-wajah baru nampak jauh beda dari teman-teman sebelumnya, banyak dari mereka pandai dalam menguasai mata pelajaran meskipun tidak sedikit dari mereka bersikap bodoh tapi selalu ada persaingan dalam itu semua dimana yang paling cerdas yang akan mendapat predikat juara kelas.
Tidak banyak yang menarik dimasa SMP bahkan semua seakan biasa saja, tidak banyak kenangan yang bisa di ingat, kalau saja aku merenungkan kembali dan mengingat kenangan masa smp itu Cuma sedikit yang terjanggal dalam ingatan sebab kontrol dan komunikasi menurutku masih monoton dan tidak seseru masa kecilku.
Singkat cerita tibalah saat dimana semua siswa sibuk dengan urusan mereka, dimana pendaftaran untuk ketingkat selanjutnya akan di mulai. Seperti halnya aku yang sibuk bahkan pusing akan melanjutkan SMAN dimana. Banyak pilihan memang, tapi sebagai  seorang yang terpelajar aku lebih memilih sekolah yang lebih terkenal dengan akreditasi a di banding  sekolah-sekolah lain yang berakreditasi B bahkan C. SMAN 10 BULUKUMBA tujuan utama selanjutnya, disini persaingan untuk masuk didalamnya sangat sulit dan berat karena siswa diseleksi menurut kemampuan mereka masing-masing dan tidak sedikit dari mereka kalah sebelum berjuang. Apa yang salah dari mereka? Kurang percaya diri memang membuat seseorang bisa putus asa.
Akhirnya aku diterima di sekolah itu  yang bertanda bahwa akan ada perubahan baru dari hidupku, pembentukan karakter dan sifat pendewasaan diri untuk lebih mengenal pribadi diri sendiri. Hari pertama, hari dimana semua sibuk mencari ruangan kelas mereka. Langkah kaki semakin jauh menelusuri setiap ruang, setelah lama lama dan lama akhirnya kutemukan namaku tertempel disebuah ruang kelas mipa 3. Namaku berada di urutan ke 15 dari nama-nama temanku. Mulailah aku masuk didalam kelas itu, dengan perasaan malu aku mencari tempat yang strategis yang mampu di lihat oleh banyak orang. Bukan untuk cari perhatian tapi begitulah caraku memahami setiap mata pelajaran.
Di kelas ini teman-teman sangat bersahabat bahkan sangat membantu dalam setiap masalah, akhirnya kami sebut kelas kami dengan sebutan MA3YA. Dengan nama ini kelas mipa 3 menjadi di kenal di sekolah dan tidak di pandang rendah oleh kelas-kelas lain apalagi begitu banyak orang pintar yang bergabung di dalamnya sampai-sampai setiap ada lomba MA3YA selalu mewakilkan anggotanya di dalam lomba tersebut. Mengingat kembali kenangan yang ada didalamnya terasa sangat ingin kembali dimasa itu, masa dimana semua seakan hanya milik kami dan bukan milik siapa-siapa.
Aku kembali merenung dan membuka mata menggambarkan kenangan 3 tahun silam, dikala itu aku masih berada di kelas 2 SMA. Tanpa sengaja dari jauh terlihat seorang wanita yang entah siapa namanya dan sebelumnya tidak pernah aku lihat. Wanita yang menarik dan bisa di  bilang cantik tapi itu Cuma dari kejauhan, belum terlihat dari dekat. Tidak butuh waktu lama akhirnya   aku bisa kenal dekat dengan wanita itu tapi ada batasan  diantara itu semua. Sebagai wanita harusnya lebih menjaga diri dari sesuatu yang merusak termasuk dari laki-laki moduss.
Kelas 3 masa dimana semua telah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional, aku tidak mempersiapkan apa-apa untuk itu karena anggapanku semua sama saja belajar tidak belajar, nilainya tetap sama karena ujung-ujungnya akan ada kunci jawaban yang beredar. Nyatanya benar di ujian nasional setiap pagi siswa sibuk mencatat kunci jawaban makanya ada yang datang pagi sebelum gerbang terbuka, ada yang datang subuh, bahkan sampai meminta langsung sama guru yang bersangkutan! Jawaban itu bukan dari guru tetapi sumbangan dari sekolah lain yang di kirim lewat media social.
Dengan kunci jawaban banyak siswa yang mendapat nilai yang baik meski tidak dengan kejujuran sama halnya aku yang mendapat nilai bagus tapi ujungnya nama ku tidak terdaftar di formulir pendaftaran SNMPTN.
Jadi korban SNMPTN sangat menyedihkan bahkan ada rasa putus asa untuk melanjutkan kuliah di tingkat Universitas. Mimpi pertama tiap siswa itu pastinya di UNHAS (universitas hasanuddin) tapi mimpi itu sudah terkubur dalam, meski banyak orang yang mengatakan katanya lapangan kerja  sangat menjanjikan dan menjamin masa depan jika lulus di Universitas tersebut.
Waktunya pendaftaran jalur span terbuka, tanpa terkecuali semua siswa berhak mendaftar. Dengan modal uang 20.000 aku daftarkan diriku melalui guru pembimbing yang katanya 20.000 adalah uang jaringan, Bukan  Cuma aku banyak juga siswa yang melakukan hal tersebut. Dengan pilihan jurnalistik pilihan pertama dan KPI (komunikasi penyiaran islam) di pilihan ke dua. jalur span menurutku tidak menjanjikan sebab ada rasa tidak yakin bisa lulus di jurusan itu.akhirnyaaku percayakan diri daftar kembali di jalur sbmptn dengan mengambil jurusan teknologi pertanian pilihan pertama dan manajemen pilihan kedua masing-masing di UNM. Suatu keyakinan besar lulus sbmptn.
Tidak lama kemudian pengumuman kelulusan span tiba, rasa penasaran dan rasa takut akan kekecewaan bercampur baur dalam hati. Jam 3 tepat sudah banyak kabar gembira dari teman-teman yang ternyata lulus di jurusan favorit tapi banyak pula yang harus menanggung kekecewaan berita kabar “tidak lulus”.  Datang kabar gembira dari sahabatku yang ternyata lulus jurusan “metematika uin alauddin makassar”. Sebagai juara umum pantas ia mendapatkan hadiah itu.
Aku masih belum berani melihat hasilku. Apakah akan mengalami kekecewan seperti gagal snmptn! Di temani 5 orang teman, aku berangkat kesalah satu rumah teman yang dekat dari sekolah. Disana mulailah kami cek kelulusan satu-persatu, akan kah ada yang menyusul langkah temanku tadi ke Uin alauddin Makassar? Kabar buruk menimpa ketiga temanku yang ternyata tidak lulus yang menyebabkan rasa tidak percaya diri pada hatiku untuk lulus. Tibalah giliranku untuk cek kelulusan dan nyatanya aku lulus di  pilihan pertama “jurnalistik”. Rasanya tidak percaya tapi ini fakta.
Hari mulai sore mulailah aku kembali kerumah dengan ucap syukur ku temui kedua orang tuaku sambil memeluk dan berterima kasih. Sebelum pendaftaran mereka tidak suka dengan jurusanku sebab katanya jurnalistik Cuma sekedar menjadi seorang wartawan bukan siapa-siapa tapi setelah ku kabarkan kabar gembira ini akhirnya mereka setuju dan mau menerima pilihanku. Kata ayahku “itu semua tergantung kemauan dan keinginan dan saya tidak memaksa kehendak asal bisa benar-benar dan yakin dengan apa yang telah di pilih”
Di Makassar saya tinggal di rumah om. Banyak rintangan dalam pendaftaran ulang seperti jarak rumah tempat saya tinggal di Makassar jauh dari kampus dan kendaraan yang sulit, meski dirumah itu ada 4 motor tapi semuanya di pakai untuk om bekerja dan anak-anaknya kesekolah.
Hari berlalu dengan cepat, semua pengurusan berkas telah selesai. Dengan jadwal masuk kampus yang telah di tetapkan, pagi itu aku bergegas menuju kampus yang di kenal dengan kampus peradaban. Membingungkan untuk mencari kelas karena tidak sama dengan waktu SMA, di bangku kuliah nama tidak di temple di dinding jadi untuk mencarinya cukup susah. Di temani teman yang sudah kenal waktu opak kami mencari ruangan tempat kami akan menuntut ilmu.  Sayangnya kami tidak sekelas, ia di kelas B sedangkan aku di kls A
Wajah-wajah baru yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai baik itu di media sosial maupun secara langsung. Sikap dan karakter yang berbeda serta tata bahasa yang unik membentuk perbedaan di antara kami dan dari perbedaan itu akan timbul kebersamaan maupun kesatuaan antar perantau di tanah Makassar. Teman laki-laki pertama, orang Kalimantan dengan bahasa yang cukup sopan aku cukup merasa nyaman dengannya. Jauh dari perantauan ia memilih kuliah di Makassar sementara di Kalimantan banyak universitas yang cukup baik dan megah, mungkin takdirnya sudah di Uin alauddin Makassar, Sekilas tentang teman baruku.
Ada yang menarik dari dalam kelas itu dimana tidak satupun anggotanya yang asli Makassar. Kemana orang Makassar di jurnalistik? Yang ada hanya anak rantau dari daerah yang memiliki jarak tempuh puluhan kilometer demi menuntut ilmu di kota Makassar. Meski demikian selalu ada keselarasan dalam perbedaan itu yang membuat kami berarti tanpa memandang asal, adat, dan bahasa, Sekilas  tentang kelasku.  
Penulis bernama Hendra Gunawan mahasiswa jurusan jurnalistik, semester 5 tahun 2019, fakultas dakwah dan komunikasi, uin alauddin Makassar.



Read More ->>

Pahlawan tanpa Nama



Judul : “Pahlawan tanpa Nama”
Nama : Indri Pratiwi Putri
TTL  :  Enrekang, 22 Juli 1998
Asal  : Enrekang
Jurusan : Jurnalistik
Email : indry.putri44@gmail.com
No.Hp : 082191547378
Blog   : indryATP.blogspot




            Mungkin bagi sebagian orang yang dianggap pahlawan adalah yang pernah berjasa untuk negeri ini. Tapi lain halnya dengan aku, aku menganggap pahlawan yang aku kenal hanya ada 2 sosok yaitu ayah dan ibu. Pahlawan yang tidak pernah tercantum namanya di museum tapi melekat erat di hatiku selamanya.
Ayahku lahir di Pinrang, 14 Februari 1960 sedangkan ibu lahir di Enrekang, 22 Desember 1978 tepat pada Hari Ibu. Usia ayah terlampau jauh dari usia ibu, beda usianya 18 tahun. Pendidikan terakhir ayah mungkin terbilang rendah karena ayah hanya lulusan SMA. Sosok ayah bagiku adalah pahlawan terhebat yang pernah ada di dunia. Karena walaupun matahari sinarnya sangat terik, ia masih tetap mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Apalagi, aku mempunyai seorang ayah yang dulunya abdi negara sebelum akhirnya ia menjadi petani sekarang.
Saat dia abdi negara, semua orang sangat segan dengannya karena beliau sudah mengabdi selama ±20 tahun sebagai tentara. Selama ini orang berpikir bahwa seorang tentara itu tegas dan kejam, tapi tidak dengan ayahku. Ayahku berbeda dengan yang dipikirkan orang. Beliau sangat lembut, tidak pernah membentak anak-anaknya, bahkan ia sangat ramah dengan semua orang. Aku bangga punya ayah seperti beliau. Walaupun dari keluarga militer tapi ia tak pernah sombong dan memanfaatkan jabatannya untuk merugikan orang lain. Bahkan, ayah sering membantu orang lain yang sedang kesusahan. Tetapi orang lain selalu memanfaatkan kebaikan ayahku sampai ayahku pernah tertipu berulang kali. Hal itu bukan menjadi penghalang ayah selalu berbuat baik terhadap orang lain. Beliau beranggapan bahwa di dunia ini kita saling membutuhkan, tak ada salahnya jika kita membantu sesama.
Sekarang ayah bukan lagi seorang abdi negara. Setelah pensiun dari masa jabatannya sebagai tentara, beliau pindah ke kampung halaman untuk bertani. Mungkin ayahku memang bukan seorang petani profesional dan sukses. Tapi setidaknya, ketika beliau menjadi petani, penghasilannya memang tak seberapa tapi beliau selalu bersyukur. Walaupun bertani memang butuh tenaga yang banyak, butuh keuletan, dan lain-lain. Ayah selalu bersyukur dengan apa yang ia perolah dari hasil kerjanya. Karena ayah selalu percaya bahwa rezeki itu sudah diatur oleh Yang Maha Pemberi Rezeki.
            Sosok kedua setelah ayah yaitu perempuan hebatku yaitu ibu. Mungkin orang lain menganggap bahwa pahlawan perempuan sejati yaitu R.A Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tapi aku menganggap pahlawan perempuan sejati yaitu “Ibu”. Yang mengandung dan membawaku kemanapun ia pergi selama sembilan bulan. Bahkan terkadang ia harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu saat mengandungku. Kadang juga ia harus membenci sesuatu yang tidak aku sukai ketika aku berada di rahimnya. Sungguh sangat banyak jasa-jasa ibu kepadaku, dan hal itu tidak akan pernah aku lupakan.
            Ibuku lahir di sebuah dusun, bisa dikatakan pelosok. Penduduk dikampung ibuku masih bisa dihitung jari sampai sekarang. Tapi ketika dipinang oleh ayah, ia ikut ke tempat ayah bertugas di kota. Sebenarnya, ibu dan ayah dulu dijodohkan. Saat itu ibu sedang menuntut ilmu di Makassar, lalu ia mendengar kabar dari kampung bahwa ia akan dilamar oleh seseorang. Kemudian ia disuruh pulang oleh kakek dan nenek. Ia menolak alasannya belum siap berumah tangga. Tetapi, karena paksaan kakek dan nenek akhirnya ibu menerima jika ia dijodohkan dengan lelaki pilihan kakek dan nenek. Seiring berjalannya waktu di usia pernikahannya, akupun dilahirkan sebagai anak pertama.
            Saat ibu ikut dengan ayah ketika mengabdi di kota Enrekang, hal yang tak diduga terjadi, ia diangkat sebagai sekertaris di kepengurusan PERSIT (Persatuan Istri Tentara). Ibu tidak menyangka bahwa dia akan diangkat langsung ke jabatan itu yang sebelumnya ibu tidak pernah memegang jabatan di bangku sekolah. Tetapi, ayah percaya bahwa ibu bisa melakukannya. Karena ayah tahu bahwa ibu itu cerdas. Oleh karena itu, ayah memilih ibu diantara ribuan wanita diluar sana. Dan aku sangat beruntung lahir dan besar di bawah didikan ayah dan ibu. Walaupun aku hanya terlahir dan besar dari keluarga sederhana tetapi aku selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberiku 2 permata yang berkilau sepanjang masa di hidupku. Aku adalah satu dari ribuan anak yang beruntung memiliki mereka berdua.
            Sejak kecil ayah dan ibu selalu menekankan 2 hal kepada anak-anaknya, yaitu pendidikan dan agama. Kata mereka, “Tuntutlah ilmu setinggi mungkin nak, karena kami yakin kamu bisa menjadi sukses dan dijadikan contoh oleh orang lain. Tetapi hal yang paling penting selain pendidikanmu adalah jagalah agamamu. Jangan tinggalkan kewajibanmu sebagai umat Muslim. Karena dari Allahlah semua umur, hidup, dan rezekimu.” Kata-kata itulah yang selalu aku ingat di setiap langkahku. Sebagian orang beranggapan bahwa motivator terhebat yaitu Mario Teguh, Merry Riana, dan lain-lain. Tapi tidak denganku. Motivator terhebat bagiku adalah orang tua. Tanpa kita sadari, orang tua sering memberikan kita motivasi di setiap langkah kita.
Orang tua bukan hanya sebagai motivator hebat tetapi ia juga sebagai dokter yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Aku pernah sakit berbulan-bulan tetapi tak ada seorangpun yang merawatku kecuali tangan kedua orang tuaku. Terkadang ketika aku sakit dahulu orang tuaku yang mengobatiku. Tak hanya itu, ketika aku sakit dahulu orang tuaku juga yang menyemangatiku sampai aku pulih dari sakitku. Aku percaya bahwa separah-parah apapun penyakit kita, tidak ada obat terbaik selain doa orang tua.
Aku adalah anak yang selalu dimanjakan orang tuaku dulu. Bayangkan saja, pekerjaan rumah tak aku sentuh sedikitpun. Saat aku memegang piring untuk dicuci, ayah selalu melarangku. Takut aku pecahin piring katanya. Ibu juga begitu. Ketika aku membersihkan pasti langsung menyuruhku pekerjaan lain, contohnya menyuruhku membeli ini dan itu. Aku tidak tahu mengapa merek terlalu memanjakan aku. Pada akhirnya, aku tetap manja sampai dewasa.
            Sampai saatnya sekarang aku duduk di bangku perguruan tinggi karena didikan orang tuaku. Berkat mereka, aku bisa seperti sekarang ini. Mereka selalu memberitahuku, “Sekolahlah tinggi-tinggi nak, jangan seperti kami yang hanya sebatas putih abu-abu”. Memang ayah dan ibuku bukan seorang sarjana, bukan seorang profesor, bahkan mereka hanya lulusan SMA. Tapi, aku bangga punya orang tua seperti mereka. Bagiku mereka lebih dari seorang sarjana, profesor, dan lain-lain. Mereka selalu memberiku motivasi. Aku baru menyadari semua ini saat aku dalam kesedihan dan mengingat ayah dan ibu.
Dari mereka aku banyak belajar tentang kehidupan. Bagaimana kita menghormati dan menghargai orang lain, bagaimana kita bersikap terhadap orang lain, dan paling penting adalah bagaimana kita menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi sekarang aku duduk di bangku kuliah yang mengharuskan aku untuk jauh dari orang tuaku sendiri. Sedih sih, tapi jika aku lemah pasti orang tuaku akan terus memikirkan aku.
Bahkan aku sering berpikir. Bagaimana aku bisa membalas jasa-jasa mereka, bagaimana aku bisa membuat mereka meneteskan air mata karena bangga denganku. Oleh karena itu, sekarang aku sedang berjuang keras untuk menggapai cita-cita tersebut. Aku selalu percaya takdir Allah SWT terhadap semua hambanya. Allah selalu punya rencana terbaik apalagi untuk hambanya yang mau berusaha.








Read More ->>

Pergi Tanpa Pamit



Judul : Pergi tanpa Pamit
Nama  :  Sri Devi
TTL    :  13,Desember 1998
Asal    :  Wajo
Jurusan  :  Jurnalistik A


Dua hari pasca pencarian korban  tenggelamnya KM.Marina express terjadi kecelakaan beruntung Tepatnya di Aulagading jalan poros Palopo Makassar setelah Ba'da Isya mobil tim Basarnas membawa jenazah yang baru saja tabrakan, hingga menewaskan  1 orang pengendara bermotor dan 2 lainnya mengalami koma,  katanya si pengendara bermotor ini bermaksud  untuk menjenguk keluarganya yang sudah berada RS menjadi  salah satu korban KM marina. Mereka bertiga lalu dilarikan ke RSUD Siwa, namun rupanya satu diantara mereka nyawanya tak dapat diselamatkan lagi, bahkan ada yg mengatakan kalau korban telah meninggal di TKP, setelah ditelusuri korban tersebut bernama Halim. Sesaat kemudian keluarga korban datang ke RS untuk memastikan. Di balik kecelakaan naas ini yg merenggut nyawa Halim tersimpan kisah yg memilukan hati.
Kabarnya Halim memiliki kekasih bernama Vhy( nama disamarkan😁). Halim dan Vhy adalah sepasang kekasih yg telah menjalin cinta sejak dua tahun lamanya namun karena beberapa konflik dan munculnya org ketiga hubungan mereka sempat terhenti dan akhirnya berlanjut lagi, namun tidak mudah bagi Vhy untuk menerima kembali kehadiran Halim karena dirinya merasa dikhianati. Akan tetapi Halim tidak menyerah, dia terus berusaha untuk meyakinkan hati Vhy kalau dirinya telah berubah dan barjanji tidak akan segampang itu mempercayai omongan orang luar dan  mengecewakan vhy lagi bahkan dia bersedia mendatangi kedua org tua vhy untuk menyakinkan vhy bahwa kali ini dirinya serius.
            Seperti pepatah mengatakan, kaca yg hancur tidak akan bisa utuh seperti semula, begitupun dengan hati jika sudah terlanjur kecewa akan sulit untuk percaya kembali. Begitulah yg di rasakan vhy, dalam hatinya yg paling dalam dia masih menyimpan cinta untuk Halim tapi karena terlanjur kecewa dia sulit untuk percaya kembali. Dia memang menerima halim kembali namun untuk percaya sepenuhnya dia masih belum sanggup. Hingga 1 bulan hubungan yg mereka sambung kembali berjalan, vhy belum sepenuhnya percaya walaupun Halim telah mengenalkan dirinya ke keluarga besarnya, hingga peristiwa naas itu terjadi yg merenggut nyawa Halim.
Sehari sebelum kecelakaan Halim memang menampakkan gelagat aneh, seperti menemani ibunya pada malam sehari sebelum kejadian yang merenggut nyawanya, sehingga ibunya bertanya tanya dalam hati tidak biasanya anak bungsunya itu berkelakuan aneh,seperti dia mengambil segala macam jualan ibunya yg ada di kantin dan memeluk erat tubuh ibunya dan berkata mungkin ini pelukan terakhir saya Bu.  Maklum lah si Halim dikenal dalam keluarganya  pendiam dan suka menyendiri bahkan kedua kakaknyapun jarang sekali dia temani bercengkrama beda jika dia bertemu dengan sang kekasih dia malah aktif, banyak bicara dan suka bercandain kekasihnya itu sampai sering kali kekasihnya dibuat jengkel atas sikapnya,
Bukan cuman ibunya saja merasakan  keanehan itu vhy yang menjadi   kekasihnyapun merasakan sikapnya yang berbeda dengan sebelumnya dimana pada saat bertemu dengan vhy sehari sebelum meninggalnya dia  menjadi pemurung dan banyak diam,Halim tak seperti biasanya yang selalu menampakkan muka ceria di hadapan kekasihnya namun vhy hanya diam dan berbalik menatap wajah temannya yg pada saat itu berada d sampingnya.
Tak lama kemudian Halim mengajak vhy ketempat dimana biasanya dia bertemu dan melepaskan kerinduan bersama,setelah sampai dsana sebelum masuk mereka terlebih dahulu menemani teman vhy  mengambil uang di ATM yang kebetulan hanya berhadapan dengan warkop yg biasanya mereka tempati nongkrong. Setelah vhy keluar dari ATM bersama temannya dia mencoba mendekati  Halim yang sedang duduk di motor shoult GT hitam itu dengan kepala tertunduk dan entah apa yang dia pikirkan??? Halimpun memandang wajah kekasihnya dengan penuh senyuman lalu seketika Halim mengulurkan tangannya untuk meminta maaf kepada kekasihnya" dan juga mengatakan kepada kekasihnya jika saya telah tiada apa yang kau kenang dari saya"???  Halim menundukkan pandanganya. vhy yang sebagai kekasihnya itu sontak saja memukul pundak kekasihnya " Ahhh  ngaur deh,emang mau kemana, mau ninggalin saya, kamu mau mengingkari janji kita untuk selalu hidup bersama sampai akhir hayat???
Kekasihnya  hanya tersenyum memandang vhy dengan menampakkan  raut wajah yang judes itu lalu mereka berjalan menuju ke warkop .vhy dan kekasihnya menghabiskan waktu bersama sampai pada malam tiba vhy meminta kekasihnya untuk mengantarkannya pulang tapi pada saat d depan pintu hujan pun turun begitu deras vhy dan halim   saling menatap satu sama lain dan tersenyum hingga kembali duduk ditempat semula.   dimana kenangan itu tak bisa dilupakan oleh vhy kekasihnya ketika hujan turun mengingatkannya segala kenangan yang pernah dilalui bersama  terhadap kekasihnya itu.
Bahkan satu jam sebelum kecelakaan dia masih berkomunikasi dengan vhy melalui media sosial facebook, dan yg paling di sesalkan vhy di detik* terakhir hidup halim vhy masih belum percaya dengan kesungguhan cinta Halim bahkan komunikasi mereka 1 jam sebelum kecelakaan vhy masih menaruh curiga dan marah kepada Halim karena pesannya tidak dibalas, padahal Halim sudah terbujur kaku di RS. Selang beberapa menit setelah  kejadian tersebut Seorang ayah dari salah satu guru yang mengajarkannya d pondok  memberi tahu vhy bahwa Halim meninggal dan sekarang berada di RS yg tidak jauh dari kediaman vhy.
Namun nyatanya vhy tidak percaya akan semua itu, dia berusaha mencari kabar kebenaran tentang kekasihnya dan mencoba menghubungi nomor kekasihnya tapi nyatanya tak kunjung diangkat juga,dengan rasa yang khawatir diselimuti dengan kesedihan yang  teramat  dalam  vhy mencoba kabar kekasihnya yang  kebetulan berada dipondok  tak jauh dari rumah tempat tinggal kekasihnya namun karena temannya tidak ingin jika vhy malah terpuruk mendengar berita yang menimpa kekasihnya, teman vhy mencoba untuk menenangkannya dengan berpura2 tidak mengetahui hal tersebut dan pirasat vhy tambah yakin jika apa yg dikatakan ayah gurunya tadi itu benar Hingga  akhirnya ketika vhy membuka sosial medianya dan menemukan salah satu status yg muncul di berandanya tentang  kepergian kekasihnya vhy tertunduk dan sangat menyesal tidak mempercayai omongan orang tersebut dan tidak melihat  kekasihnya di rumah sakit yang  sudah terkujur kaku itu ,kegelisahan pun muncul -sampai  vhy  tak pernah tidur semalaman hanya karena memikirkan rasa penyesalan tidak menjenguk kekasihnya untuk yang terakhir kalinya.
Keesokan paginya vhy seperti biasa bergegas  menuju  ke sekolah dan tiba dsana  sahabat serta teman temannya mencoba untuk menenangkan vhy,kamu harus tabah menerima kenyataan yang ada, beberapa Saat kemudian seorang kakak almarhum melintas dan seketika menghentikan motornya ketika melihat vhy duduk termenung yang sdah dari tadi dgerumuni sahabat dan temannya,fajar menepuk pundak vhy kamu harus kuat dan harus mengikhlaskan kepergian almarhum kakak yakin kamu pasti bisa melawan semua ini.
Jangan membuat almarhum bersedih dialam sana karena melihat keterpurukan darimu. kakak almarhum pun berdiri tersenyum lalu bergegas meninggalkan vhy dan mengajak kerumahnya untuk melihat kekasihnya untuk  yang terakhir kalinya.  Beberapa menit kemudian vhy dan teman2nya berjalan menuju kerumah duka yang tak jauh dari kompleks sekolahnya itu,vhy mencoba tegar dan menerima kenyataan ketika dirinya sudah benar benar  melihat kain putih di depan rumah kekasihnya. Semenjak kejadian itu vhy selalu murung dkelasnya dia lebih banyak diam dan  menyendiri karena penyesalan yang sampai sekarang tidak mempercayai kekasihnya semasa hidupnya dan tidak pernah menghargai pengorbanan yang telah dilakukan kekasihnya untuk dirinya.






Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages