Sebuah mobil tentara berjalan sangat cepat, sedangkan
orang di dalam mobil tersebut meneriaki pengguna jalan lain agar minggir, seakan
jalan raya itu adalah milik nenek moyangnya.
Itulah fenomena yang biasanya terjadi di jalan raya,berbuat
semaunya tanpa memperdulikan orang lain.
Fenomena lainnya adalah perilaku pengemudi
yang mengangap jalan raya sebagi rumah pribadi.Mereka dengan seenaknya membuang
sampah melalui kaca jendela,apalagi di makassar dengan slogannya"makassar
tidak 'rantasa' (makassar tidak kotor)" justru fenomena ini merupakan hal
lumrah dan sudah menjadi kebiasaan.Salah satunya adalah kejadian di jalan
pettarani yaitu sebuah mobil pribadi dengan merek terkini sedang berupaya
menerobos kemacetan.
Di kaca belakang mobil ada tempelan huruf
parsi disertai gambar pedang terhunus melintang di bawahnya.Pada sudut atas
kaca melekat sebuah stiker bertuliskan"Program Pascasarjana
Universitas..."(Menyebut nama sebuah agama).Sesekali kaca samping mobil
terbuka dan tangan didalamnya menjatuhkan beraneka sampah mulai dari botol
mineral,tissue,dan puntung rokok.Mereka adalah kaum intelek yang
beragama.Bukankah dalam islam keimanan seseorang itu bisa dilihat dari
bagaimana dia menjaga kebersihan,atau kata-kata itu hanya berlaku didalam kelas
sebagai bahan dalam menyampaikan materi perkuliahan.Mungkin kita bisa
memunculkan sebuah kesimpulan bahwa"Agama dan sekolah belum tentu membuat
kita mampu membuang sampah dengan benar".
Jalan raya juga telah menjadi panggun untuk
memperlihaatkan posisi sosial sebuah masyarakat.Masyarakat urban yang
memperlihatkan eksistensi dirinya dengan barang-barang yang di miliki,dan itu
menjadikan diri mereka sebagai seorang maniak pamer dimana sampah yang dibuang
adalah sebuah barang pameran untuk memperlihatkan keberadaan barang-barang yang
mereka komsumsi.Layaknya sebuah pameran lukisan kebanggaan itu ada di
dalamnya.Gelar dan stiker agama serta nama sekolah pascasarjana hanyalah
sekedar fashion serta dijadikan komsumsi untuk citra diri.
Selain itu,jalan raya menyajikan begitu banyak
peristiwa yang mendramatisir. Contohnya, para tukang parkir yang sudah susah
payah membantu pengendara untuk menyeberang dengan mengharapkan imbalan yang
tidak seberapa asalkan bisa membeli sebungkus roti dan segelas air untuk pengisi
perut tapi kenyataannya, mobil ini langsun tancap gas tanpa memberi uang kepada
yang membantunya. Dimanaka rasa empati seseorang terhadap sesamanya, sebegitu
sayangnya kah terhadap uang seribuan sehingga mereka tidak rela melepas uang
itu untuk di berikan kepada yang membutuhkan dan juga para pengamen,bocah-bocah
penjual koran yang mencari kehidupan di jalan raya.Ya jalan raya telah
dijadikan rumah kehidupan,tempat untuk istirahat dengan beralaskan tanah dan
beratapkan langit.
Ada sebuah buku menarik tentang jalan raya,buku ini di tulis oleh
Ronald Primeau seorang berkebangsaan amerika pada tahun 1996, dengan
judul Romance the road: The literature of american highway setelah dia menjelajahi seorang
diri jalan-jalan di amerika. Menurutnya, melalui jalan raya kita dapat mengetahui banyak hal soal manusia
amerika.
Ronald mengatakan kehidupan manusia sebuah
bangsa dapat diukur dari kesempatan-kesempatan seseorang untuk melarikan diri
dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan. Namun apa yang terjadi hari ini, Jalan
raya justru menjadi momok dan bahkan akan membuat kita semakin
jenuh,marah dengan instrumen-instrumen yang di hadirkan seperti kemacetan atau
pencurian.
Tapi menurut Ronald meskipun jalan raya tidak
bisa lepas dari kendaraan dan kecepatan karna itu merupakan identitas yang
sudah tertancap kuat,di jalan raya juga sering terjadi "love story"
yang romantis. Seringkali kita temukan sepasan kekasih duduk diatas sepeda
motor sambil memadu kasih dan memperbincangkan janji-janji cinta. Menurut Ronald,
semua kisah di jalan raya tersebut dapat diolah menjadi sebuah narasi sastra
seputar jalan raya.
Di sisi lain, jalan raya juga biasanya telah
menjadi tempat untuk menyuarakan suara-suara keresahan,dimana kita bisa melihat
sekumpulan para mahasiswa yang melakukan demonstrasi untuk menuntut kata-kata
atau hak-hak yang hanya sekedar retorika gombalan saja,dikeluarkan dari mulut
para penguasa yang memegan tampuk di ibu pertiwi. Kita bisa bernostalgia ke
masa lalu saat semua warga kampus turung ke jalan untuk menurunkan pemerintahan
otoriter saat itu yaitu persiden soeharto dan bisa kita lihat sebuah perubahan
besar telah terjadi yaitu dinasti yang kokoh selama 32 tahun akhirnya runtuh
juga.Di jalan raya ini jugalah dipertemukan semua bendera organisasi mulai dari
HMI,GMNI,KAMMI dan masih banyak lagi.
Seringkali kita juga menemukan baliho-baliho
caleg yang sudah tidak dipakai dan dibiarkan begitu saja berserakan di pinggir
jalan serta kampanye-kampaye yang dilakukan justru membuat pengguna jalan lain
merasa terganggu.
Jalan raya telah menjelma menjadi menjadi
sebuah sikap dari pemerintahan NAZI jerman yang begitu otoriter.Tidak ada
kedamaian yang ada hanya sikap fasime.Apakah sila-sila pancasila,butir-butir
UUD 1945 tidak pantas dimunculkan di jalan raya.Esensi manusia sebagai makhluk
berakal nyatanya hanya sekedar cap tapi di jalan raya mereka adalah
beringas-beringas yang tak kenal aturan.
Dimana kedamaian itu,yang kita harapkan adalah adalah rasa tenang
serta kenangan cinta yang bisa di bawa pulang.
Sebuah lagu dari journey tentang jalan raya dapat kita niknati:
highway run,into the midnight sun.Wheels go round and round,you're
on my mind..(Jalan-jalan berlari melintas sang waktu.Roda-roda terus
berputar,dan kau tetap dalam benakku).
source "opini dalam berita"


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.