Rabu, 09 Januari 2019

Nazisme Jalan Raya



Sebuah mobil tentara berjalan sangat cepat, sedangkan orang di dalam mobil tersebut meneriaki pengguna jalan lain agar minggir, seakan jalan raya itu adalah milik nenek moyangnya.
Itulah fenomena yang biasanya terjadi di jalan raya,berbuat semaunya tanpa memperdulikan orang lain.
Fenomena lainnya adalah perilaku pengemudi yang mengangap jalan raya sebagi rumah pribadi.Mereka dengan seenaknya membuang sampah melalui kaca jendela,apalagi di makassar dengan slogannya"makassar tidak 'rantasa' (makassar tidak kotor)" justru fenomena ini merupakan hal lumrah dan sudah menjadi kebiasaan.Salah satunya adalah kejadian di jalan pettarani yaitu sebuah mobil pribadi dengan merek terkini sedang berupaya menerobos kemacetan.
Di kaca belakang mobil ada tempelan huruf parsi disertai gambar pedang terhunus melintang di bawahnya.Pada sudut atas kaca melekat sebuah stiker bertuliskan"Program Pascasarjana Universitas..."(Menyebut nama sebuah agama).Sesekali kaca samping mobil terbuka dan tangan didalamnya menjatuhkan beraneka sampah mulai dari botol mineral,tissue,dan puntung rokok.Mereka adalah kaum intelek yang beragama.Bukankah dalam islam keimanan seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana dia menjaga kebersihan,atau kata-kata itu hanya berlaku didalam kelas sebagai bahan dalam menyampaikan materi perkuliahan.Mungkin kita bisa memunculkan sebuah kesimpulan bahwa"Agama dan sekolah belum tentu membuat kita mampu membuang sampah dengan benar".
Jalan raya juga telah menjadi panggun untuk memperlihaatkan posisi sosial sebuah masyarakat.Masyarakat urban yang memperlihatkan eksistensi dirinya dengan barang-barang yang di miliki,dan itu menjadikan diri mereka sebagai seorang maniak pamer dimana sampah yang dibuang adalah sebuah barang pameran untuk memperlihatkan keberadaan barang-barang yang mereka komsumsi.Layaknya sebuah pameran lukisan kebanggaan itu ada di dalamnya.Gelar dan stiker agama serta nama sekolah pascasarjana hanyalah sekedar fashion serta dijadikan komsumsi untuk citra diri.
Selain itu,jalan raya menyajikan begitu banyak peristiwa yang mendramatisir. Contohnya, para tukang parkir yang sudah susah payah membantu pengendara untuk menyeberang dengan mengharapkan imbalan yang tidak seberapa asalkan bisa membeli sebungkus roti dan segelas air untuk pengisi perut tapi kenyataannya, mobil ini langsun tancap gas tanpa memberi uang kepada yang membantunya. Dimanaka rasa empati seseorang terhadap sesamanya, sebegitu sayangnya kah terhadap uang seribuan sehingga mereka tidak rela melepas uang itu untuk di berikan kepada yang membutuhkan dan juga para pengamen,bocah-bocah penjual koran yang mencari kehidupan di jalan raya.Ya jalan raya telah dijadikan rumah kehidupan,tempat untuk istirahat dengan beralaskan tanah dan beratapkan langit.
Ada sebuah buku menarik tentang jalan raya,buku ini di tulis oleh Ronald Primeau seorang berkebangsaan amerika pada tahun 1996, dengan judul Romance the road: The literature of american highway setelah dia menjelajahi seorang diri jalan-jalan di amerika. Menurutnya, melalui jalan raya kita dapat mengetahui banyak hal soal manusia amerika.
Ronald mengatakan kehidupan manusia sebuah bangsa dapat diukur dari kesempatan-kesempatan seseorang untuk melarikan diri dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan. Namun apa yang terjadi hari ini, Jalan raya justru menjadi momok  dan bahkan akan membuat kita semakin jenuh,marah dengan instrumen-instrumen yang di hadirkan seperti kemacetan atau pencurian.
Tapi menurut Ronald meskipun jalan raya tidak bisa lepas dari kendaraan dan kecepatan karna itu merupakan identitas yang sudah tertancap kuat,di jalan raya juga sering terjadi "love story" yang romantis. Seringkali kita temukan sepasan kekasih duduk diatas sepeda motor sambil memadu kasih dan memperbincangkan janji-janji cinta. Menurut Ronald, semua kisah di jalan raya tersebut dapat diolah menjadi sebuah narasi sastra seputar jalan raya.
Di sisi lain, jalan raya juga biasanya telah menjadi tempat untuk menyuarakan suara-suara keresahan,dimana kita bisa melihat sekumpulan para mahasiswa yang melakukan demonstrasi untuk menuntut kata-kata atau hak-hak yang hanya sekedar retorika gombalan saja,dikeluarkan dari mulut para penguasa yang memegan tampuk di ibu pertiwi. Kita bisa bernostalgia ke masa lalu saat semua warga kampus turung ke jalan untuk menurunkan pemerintahan otoriter saat itu yaitu persiden soeharto dan bisa kita lihat sebuah perubahan besar telah terjadi yaitu dinasti yang kokoh selama 32 tahun akhirnya runtuh juga.Di jalan raya ini jugalah dipertemukan semua bendera organisasi mulai dari HMI,GMNI,KAMMI dan masih banyak lagi.
Seringkali kita juga menemukan baliho-baliho caleg yang sudah tidak dipakai dan dibiarkan begitu saja berserakan di pinggir jalan serta kampanye-kampaye yang dilakukan justru membuat pengguna jalan lain merasa terganggu.
Jalan raya telah menjelma menjadi menjadi sebuah sikap dari pemerintahan NAZI jerman yang begitu otoriter.Tidak ada kedamaian yang ada hanya sikap fasime.Apakah sila-sila pancasila,butir-butir UUD 1945 tidak pantas dimunculkan di jalan raya.Esensi manusia sebagai makhluk berakal nyatanya hanya sekedar cap tapi di jalan raya mereka adalah beringas-beringas yang tak kenal aturan.
Dimana kedamaian itu,yang kita harapkan adalah adalah rasa tenang serta kenangan cinta yang bisa di bawa pulang.
Sebuah lagu dari journey tentang jalan raya dapat kita niknati:
highway run,into the midnight sun.Wheels go round and round,you're on my mind..(Jalan-jalan berlari melintas sang waktu.Roda-roda terus berputar,dan kau tetap dalam benakku).

source "opini dalam berita"






0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages