Selasa, 08 Januari 2019

Pemain ke 12 | NISWAR KULLAH




Foto : stadion Andi Mattalatta, saat PSM Makassar melibas tamunya  Bali United dengan skor 4-0 tanpa balas.    25/11/2018.

suporter merupakan bagian penting dalam suatu pertandingan, disamping menjadi penyemangat tim, suporter juga bisa menciptakan suasana atmosfir rivalitas antara kedua kubu yang menjadikan pertandingan tersebut semakin menarik untuk diikuti. Apabila dalam suatu pertandingan tidak dihadiri oleh suporter, maka akan terasa hampa. Suporter menghiasi suatu pertandingan dengan atribut, nyanyian, dan berbagai kreasinya. Para suporter ini menemukan kebahagiaan dengan jalan mendukung secara all out tim kesayangannya, sekaligus memenuhi kebutuhan mereka akan kepuasan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Dalam perkembangannya, suporter yang tadinya menjadi penyemangat tim dan memeriahkan pertandingan terkadang melenceng dari tujuan awalnya. Yel-yel yang dinyanyikan lambat laun berubah menjadi ajang untuk saling melecehkan. Hal tersebut menjadi pemicu adanya kekerasan suporter maupun berbagai tindakan brutal lainnya. Fenomena suporter di dunia maupun Indonesia telah banyak menyorot perhatian, terutama dalam pertandingan sepakbola. Sikap fanatik suporter terhadap suatu tim dapat membuat mereka melakukan apapun demi membela tim kesukaannya. Tak jarang aksi provokatif hingga kekerasan terjadi antar oknum suporter demi membela tim kesukaan mereka masing-masing. Peran suporter dalam mendukung tim yang bertanding sangat penting. Hal ini dikarenakan peran supporter yang menjadi penyemangat dan bisa mempengaruhi psikologis orang yang berada di tengah lapangan. Aksi-aksi suporter seperti gerakan bersama atau yel-yel hingga terkadang sampai ke aksi yang provokatif terhadap lawan itu dapat mempengaruhi psikis dari tim lawan dan tentunya juga dapat mempengaruhi hasil pertandingan

Mungkin, fenomena yang dijelaskan diatas kebanyakan kita, mahasiswa, melihatnya secara tidak langsung. Namun, fenomena tersebut juga nyata terjadi di lingkungan kampus kita. Pada semester ganjil ini merupakan bulan kompetisi, khususnya olahraga, baik di tingkat fakultas (FDK) atau universitas (UINAM). Semangat membela jurusan masing-masing sangat begitu terlihat saat POR dan kompetisi yang biasanya diadakan oleh beberapa fakultas. Aksi-aksi suporter yang kreatif hingga provokatif juga begitu dirasakan dalam mendukung kontingen jurusannya.

Pada tingkat universitas, kompetisi di bidang keilmuan, seni dan olahraga menjadi suatu pride sendiri bagi fakultas yang memenangkannya. Persiapan kontingen masing-masing fakultas yang akan bertanding sangat disiapkan dengan matang. Namun tidak hanya kontingen yang disiapkan tapi juga suporter yang akan mendukung kontingen yang bertanding. Suporter menjadi penting karena pada kompetisi ini peran suporter untuk menyemangati kontingen yang bertanding dapat menjadi sebuah ancaman bagi mental tim lawan. Selain itu, dari suporter yang datang juga tergambar bagaimana antusias masing-masing fakultas dalam mengikuti kompetisi ini. Oleh karena itu suporter, menurut saya, juga dapat dikatakan sebagai kontingen meskipun hanya “kontingen suara” yang teriak-teriak menyemangati kontingen yang bertanding. Karena tanpa adanya suporter, para kontingen kurang punya motivasi lebih dalam menghadapi pertandingan. Layaknya mendapatkan juara, banyaknya suporter yang datang dan mendukung kontingen fakultasnya menjadi suatu kebanggaan lebih bagi fakultasnya masing-masing.

Aksi-aksi suporter yang bisa terlihat nyata dalam kompetisi yang berlangsung, misalnya dengan membuat yel-yel yang menyemangati hingga menyindir dan provokatif. Tak sadar terkadang kita bisa sampai memiliki kekesalan terhadap suporter lawan dalam pertandingan. Namun dalam menanggapi aksi-aksi suporter tersebut seharusnya kita bisa memahami bahwa hal itu hanyalah sebagai “bumbu” dalam sebuah pertandingan. Meskipun panas di dalam pertandingan, namun setelah selesai tidak perlu dilanjutkan diluar pertandingan. Hal ini karena ucapan yang menyemangati kontingen kita hingga meledek tim lawan bisa dikatakan sebagai ajang seru-seruan dalam sebuah pertandingan dan, pastinya, tidak perlu dianggap terlalu serius.

Indonesia dengan beragam karakteristik etnis, ras dan suku bangsa yang terbentang dalam garis khatulistiwa memiliki potensi luar biasa dalam hal kekayaan budaya. Kekayaan budaya ini dapat dijadikan sebagai landasan dasar pembangunan nasional. Namun risiko konflik yang dimunculkannya juga memiliki potensi yang juga sama besarnya sehingga hal tersebut patut untuk dikelola. Perbedaan identitas ini dianggap menjadi pemicu untuk terjadi konflik horisontal yang merugikan kedua belah pihak yang bertikai. Perbedaan tersebut hendaknya tidak menjadi faktor penghambat penggalangan rasa kebersamaan karena hal tersebut adalah suatu anugerah yang tak ternilai harganya. Secara kodrati manusia memiliki identitas yang berbeda pada diri mereka masing masing. Manusia memiliki label-label yang berbeda dari beberapa aspek. Kadang-kadang manusia dapat menjadi suporter bagi kelompok identitas yang mereka dukung. Tak terkecuali adalah kelompok penggemar sepakbola.

Sebagian kelompok masyarakat dunia mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari kelompok klub sepakbola yang mereka cintai. Simbol dan atribut yang melekat dari klub sepakbola tersebut menjadi suatu bagian dari rasa “memiliki” yang dalam dan dapat menjadikan suatu kebanggaan bagi diri mereka sendiri dan kelompok pendukung. Ketika simbol-simbol tersebut dihina, direndahkan atau pun dilecehkan oleh kelompok lain maka hal tersebut akan menyulut untuk terjadinya kekerasan.

Kasus kerusuhan supporter pada masyarakat Indonesia seakan tak pernah tidur. Penikmat olahraga olahraga, khususnya sepakbola terkadang memiliki kecintaan  (fanatisme) yang berlebihan terhadap club kebanggaan yang dibelanya. Rasa cinta yang berlebihan menyebabkan pola pikir dan tindakan supporter yang menjadi tidak rasional yang  dapat menyebabkan kekerasan. Seperti kasus tewasnya Haringga  Sirila, supporter the jak yang dikeroyok oleh beberapa oknum Viking, sebelum laga Persib versus Persija di Stadion GBLA, Minggu (23/9/2018) kemarin. Terkadang wasit dan pemain sepakbola juga mengalami kekerasan ketika dianggap melakukan kecurangan. Masih banyak angka statistik yang dapat ditabulasikan dari perilaku kekerasan kolektif yang dimunculkan oleh perilaku kolektif suporter.

 Suporter sepakbola yang fanatik ini juga dapat memainkan fungsi sosial selain sebagai pendukung klub sepakbola, suporter sepakbola ini ternyata dapat juga bermain peran atau ”dimainkan” perannya oleh kelompok tertentu untuk tujuan politik. Di Makassar, ketika pemilihan calon kepala daerah, suatu klub tertentu didekati oleh calon yang berkepentingan dengan harapan dapat mendulang suara. Atau pada kasus Pesepakbolaan Mesir, para pendukung suporter Sepakbola lokal dijadikan komoditas politik untuk menggulingkan rezim militer. Jadi suporter sepakbola memiliki peran yang positif atau pun negatif tergantung dari bagaimana memberdayakan dan mengarahkan tindakan yang dianggap baik. Sampai Dahlan Iskan harus belajar ke Klub Sepakbola Chelsea, Inggris, untuk belajar tentang manajemen Suporter agar Bonek tidak lagi melakukan kekerasan (premierleague. com). Dahlan Iskan juga berpendapat bahwa untuk membangun Kota Surabaya siapa pun pemimpinnya harus ikut melibatkan Bonek dan Persebaya. Luar biasa.

Perilaku kekerasan kolektif pada perilaku supor-ter sepakbola Indonesia dapat dijelaskan oleh Smelser (1956) yang terdiri dari 6 tahapan. Tahapan pertama, yakni stucture conduciveness, yakni suatu kondisi yang memungkinkan suporter dapat melakukan tinda-kan perilaku kolektif, misalkan ada kesempatan untuk melakukan tindakan kekerasan secara bersama sehingga memunculkan perilaku agresif. Ketika suporter sepak-bola melihat klub lawan melakukan tindakan yang diang-gap melecehkan, maka mereka akan segera merespons dengan tindakan kekerasan secara bersama. Situasi yang dianggap mendukung tersebut menjadi pemicu terjadinya kekerasan kolektif.

Tahapan kedua adanya ketegangan struktural antara dua pihak yang dianggap berlawanan. Seperti hukum ilmu fisika tentang aksi dan reaksi. Masing-masing mem-berikan respon terhadap tindakan yang diberikan. Sema-kin muncul kebencian antar suporter yang diwujudkan dalan tindakan-tindakan tertentu. Ketegangan struktural ini akan memperbesar risiko untuk membuat perilaku kolektif menjadi nyata.

Tahapan ketiga adalah menyebarkan informasi yang tidak benar tentang kebencian suatu kelompok yang sebenarnya belum pasti kebenarannya. Tahap ini hampir sama dengan kondisi hate crime yang dilakukan oleh kelompok yang memiliki ciri yang berbeda. Ke-lompok yang lain dianggap sebagai lawan oleh kelom-pok lainnya. Kondisi ini juga akan semakin memperkuat stereotype negatif kelompok satu terhadap kelompok lainnya.

Tahapan keempat adalah adanya faktor pencetus yang dimulai pada tahap ketiga menjadi nyata, misal-kan adanya anggapan bahwa kelompok suporter lawan melakukan tindakan kekerasan dan akhirnya menjadi kenyataan, maka kelompok satunya lagi akan melaku-kan tindakan balasan yang sama. Tahap keempat ini akan memberikan efek paling besar untuk menegas-kan tentang stereotype dari kelompok lawan itu adalah pelaku kekerasan.

Tahapan kelima adanya provokasi dari orang-orang yang dianggap sebagai pemimpin untuk melaku-kan suatu tindakan. Ketika terjadi suatu tindakan kekerasan yang dilakukan secara kolektif oleh suporter maka hal tersebut menunjukkan identitas kelompok yang kuat dibandingkan dengan identitas diri pribadi, hal tersebut merupakan dua karakter yang berbeda, sehingga kadang-kadang satu orang suporter tak akan menyerang suporter lainnya karena ada kesadaran diri pribadi untuk membedakan penjelasan tentang konsep diri dan konsep kelompok.

Tahapan terakhir dari penjelasan Smelser adalah penjelasan tentang tahapan pengendalian sosial yakni tahapan yang dapat mencegah terjadinya perilaku kolektif. Pengendalian sosial ini dapat dijadikan sebagai strategi pencegahan dari perilaku kolektif kekerasan dengan melakukan beragam intervensi sosial dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Sayangnya, negara masih belum menganggap masalah suporter sebagai masalah yang dianggap serius sehingga pengendalian sosial dianggap belum maksimal. Sehingga kasus-kasus kekerasan suporter masih berpotensi terjadi hingga saat ini. Jika tidak mau mencegahnya dengan melakukan tindakan pencegahan potensi perilaku kolektif kekerasan yang diang-gap merugikan maka risiko kerugian yang dimunculkan juga akan semakin besar. *******************

Entah sampai kapan keadaan persepakbolaan Indonesia bertahan dengan keadaannya sekarang. Semua saling menyalahkan, PSSI menyalahkan aparat keamanan yang tidak bisa mengatur suporter, aparat keamanan menyalahkan suporter yang tidak bisa diatur, suporter menyalahkan wasit, dan lain-lain. Jadi sebenarnya semua ini salah siapa? Salah Saya? Salah temen-temen Saya? Supaya nggak salah-salahan mari kita lihat permasalah mendasar supporter di Indonesia. Budaya Amok memang sudah menjadi tradisi di Indonesia dari dulu hingga sekarang. Adanya ketidakpuasan pada sistem, adanya perbedaan tingkat pendidikan, sosial dan juga ekonomi yang mendorong hal ini terjadi, sehingga apabila ada kesempatan bersama, tidak ada lagi rasionalitas dan semua berusaha untuk melepaskan tekanan batin akibat ketidakadilan sosial, maka terjadilah pengrusakan, pembakaran dan kerusuhan dan sebagainya. Inilah yang terjadi pada suporter sepakbola di Indonesia. Walau begitu hal ini masih menimbulkan pertanyaan dibenak kita masing-masing, mengapa supporter tersebut dengan mudahnya melakukan kekerasan bahkan pembunuhan.? Apakah hanya didasarkan pada fanatisme tersebut,? Apakah hal-hal lain yang menyebabkan kekerasan tersebut dapat dengan mudah terjadi.? Banyak faktor yang mendukung hal ini terjadi.

Pertama adalah karena adanya sentimen kedaerahan, banyak elit politik yang mempergunakan kesempatan ini untuk mencari ketenaran dan mencari simpati rakyat suatu daerah dengan menjadi pengurus atau petinggi klub di daerah tempat mereka mencalonkan diri jadi bupati atau jadi gubernur atau jadi yang lain-lain. Ngerti bola aja nggak, ditanya kenapa bola itu bundar aja nggak bisa jawab, gimana mau ngurusin sepak bola coba?

Kedua adalah bobroknya PSSI saat ini. Seharusnya penanganan dan pembinaan suporter ada di struktur kepengurusan mereka, secara suporter juga merupakan bagian dari sepakbola ditambah match fixing yang  melibatkan  beberapa oknum dari PSSI semakin hari semakin jelas kenapa pesepakbolaan tanah air kita tak kunjung terbenahi membuat supporter indonesia tambah geram.

 Ketiga adalah aparat keamanan. Protap untuk pengamanan penyelanggaraan pertandingan sepakbola pada saat ini masi jauh dari sempurna. Kerusuhan juga tidak jarang disulut oleh tindakan aparat yang arogan dan overacting. Akibatnya massa menjadi marah dan membalasnya dengan kerusuhan. Sebaiknya pendekatan represif segera ditinggalkan. Aparat juga jangan lupa dengan tugasnya di stadion, yaitu menjaga keamanan dan bukan menonton.
Kemudian di internal suporter ini juga harus diperbaiki. Adakan seleksi untuk masuk ke dalam organisasi suporter ini. Perlu ada pembinaan dari para petinggi suporter terhadap anggotanya. Kelompok suporter ini juga harus lebih teroganisir agar mudah dikendalikan. Mungkin bisa dengan membentuk keamanan internal suporter agar bisa mengamankan anggotanya yang rusuh. Selain itu, kelompok bisa mengadakan acara bersama. Ketika Viking datang ke Jakarta, The Jak mungkin dapat menyambutnya, seperti nongkrong bareng agar ada keterikatan. Pengaruh media massa juga kadang sering memperhangat suasana, kenapa nggak kita coba sesekali ngerusuhin media massa yang sering manas-manasin, biar lain kali mikir-mikir dulu kalo ngomong. Terakhir adalah kontrol sosial. Kontrol sosial ini harus dari level paling bawah yaitu keluarga. Keluarga harus mengawasi anak yang masih dibawah umur ketika pergi ke stadion untuk menjadi suporter, apabila tidak diawasi akan banyak pelajaran yang harusnya nggak dipelajari didapat oleh anak-anak ini.
***********
Sepakbola, olahraga sejuta umat yang dapat dengan mudah menjadi alasan untuk orang-orang menjadi akrab dan sangat dekat terhadap satu sama lain, jika mereka merupakan suporter klub yang sama. Ya, mereka akan akrab dalam segala hal, termasuk dalam ‘menghancurkan’ suporter klub lawan. Sepakbola merupakan olahraga yang sangat disukai oleh berbagai kalangan dari anak-anak hingga orang tua. Kecintaan terhadap tim sepakbola merupakan alasan mengapa banyak terdapat kelompok suporter sepakbola. Suporter mempunyai peranan yang cukup penting bagi suatu tim sepakbola, dimana suporter bisa menjadi pemain kedua belas yang memberikan semangat kepada tim tersebut. Walau demikian, banyak dari suporter mempunyai kecintaan yang sangat berlebih terhadap klub yang didukungnya, kecintaan terlebih itu dapat dianggap sebagai bentuk fanatisme. Fanatisme yang ada dapat menggerakkan suporter untuk melakukan hal-hal yang tidak terduga untuk membela klub favoritnya, salah satu bentuk fanatisme adalah melakukan kekerasan terhadap suporter lainnya.

Di Indonesia sendiri fenomena seperti ini dapat sangat dengan mudah ditemukan. Beberapa kelompok suporter yang terkenal di Indonesia antara lain Jakmania (Persija), Bobotoh (Persib), dan Bonek (Persebaya). Mungkin masih lekat di ingatan kita mengenai kejadian bentrokan berdarah antara suporter Persija dan Persib beberapa tahun lalu ketika kedua tim bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Bentrokan ini menyebabkan tiga orang suporter meninggal dengan sia-sia. Walaupun kekerasan yang terjadi di In-donesia tidak separah di luar negeri, seperti salah satu pertandingan sepakbola di Mesir antara Al-Ahly melawan Al-Masry yang menewaskan 73 orang dan ratusan orang luka parah, ataupun tragedi Heysel di-mana 39 suporter Juventus tewas setelah mengalami bentrok dengan suporter Liverpool saat bertemu di Final Liga Champions 1985, tetapi kekerasan suporter yang terjadi di Indonesia sangat sering di hampir semua pertandingan yang berlangsung.

Melihat fakta-fakta mengenai kekerasan suporter tersebut, tidak sedikit dari antara kita yang menjadi maklum dengan hal-hal mengenai kekerasan suporter yang terjadi di Indonesia. Betapa tidak, bahkan laga kelas dunia pun, yang mempunyai persiapan yang sangat baik, bisa saja menyebabkan bentrok dan menimbulkan korban jiwa.

Walau begitu hal-hal ini tetap saja masih menimbulkan pertanyaan di benak kita masing-masing, mengapa su-porter-suporter tersebut dapat dengan mudah melakukan kekerasan? Apakah hanya didasarkan fanatisme tersebut? Apakah hal-hal lain yang menyebabkan kekerasan tersebut dapat dengan mudah terjadi?

Perilaku suporter yang melakukan kekerasan, di dunia lebih termasyhur dengan istilah hooliganism. Namun demikian, istilah ini sebenarnya tidak dapat digunakan untuk menye-but seluruh suporter, yang ada di berbagai belahan dunia, yang melakukan kekerasan. Ada beberapa definisi dari hooliganism yang hanya cocok sesuai dengan konteks sosial kultural dari masyarakat di suatu tempat. Hal ini dapat dilihat dari sejarah munculnya istilah hooliganism. Istilah ini muncul pertama kali muncul sekitar tahun 1890-an. Ketika itu, muncul fenom-ena geng delinkuen di wilayah Manchester, dan yang paling terkenal adalah kelompok Scuttlers. Pada masa itu, istilah ini muncul pada saat pengadilan terhadap suatu geng di daerah Lamberth, Inggris. Pada saat persidangan, terdapat sebuah poster yang bertuliskan The Hooligan Boys terpampang di pengadilan. Selain itu, menurut Report on Football Hooliganism in the Member State of the European Union pada tahun 2002, hooli-ganism adalah sekelompok tindakan yang bersifat menyerang termasuk di dalamnya kekerasan terhadap orang, pengerusakan properti dan fasilitas, penggunaan alkohol dan narkoba, pelanggaran terhadap kedamaian yang tercipta, serta pencurian, pembawaan flare kedalam stadion dan pemalsuan tiket pertandingan. Dari kedua gambaran tersebut, maka konsep hooliganism sebenarnya hanya dapat dilihat di konteks Eropa saja, lebih spesifik lagi adalah Inggris. Tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh mengenai hooliganism, tetapi, disini akan mencoba untuk memaparkan aksi kekerasan suporter sebagai sebuah perilaku kolektif massa. Dari definisi tentang hooliganism bisa kita jadikan sebagai acuan bahwa tindakan yang dilakukan oleh kelompok suporter dilakukan secara bersama-sama dan juga berorientasi terhadap kekerasan. Pertama, hal yang paling jelas terlihat dalam perilaku kolektif dari aksi suporter adalah permainan simbol-simbol yang mereka gunakan dalam atribut. Simbol-simbol ini biasanya ‘dimainkan’ dalam media warna, yang identik sebagai warna kebanggaan klub mereka. Di Indonesia, hal ini dapat terlihat di beberapa klub sepakbola. Misalnya PSM dengan warna merah, Persija dengan warna oranye, Persib dengan warna birunya, dan Persebaya dengan warna hijaunya.

Warna tersebut digunakan di setiap atribut klub. Mulai dari kaos, bendera, syal, topi, dan berbagai macam atribut lainnya. Hal ini lah yang pertama kali dapat menyebabkan terjadinya kekerasan oleh suporter. Suatu kelompok suporter mengidentifikasi kelompok lawannya melalui atribut yang digunakan. Apabila telah teridentifikasi sebagai kelompok lawan, maka ‘perang’ antar suporter tak bisa terhindarkan.

Kedua, setiap perilaku dari suporter tidak selamanya merupakan kekerasan. Ada dua macam ‘perang’ antar suporter yang terjadi baik di dalam stadion maupun di luar (Lago & Biasi, 1994). ‘Perang’ dalam bentuk pertama yang bisa dilihat, tentu saja yang kerap kita saksikan melalui media, yaitu kerusuhan antar suporter. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap kelompok suporter ingin mengaktualisasi diri mereka dan juga ingin menunjukkan kedigdayaan-nya. Maka, ada diantara mereka yang memilih untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Bentuk ‘perang’ lainnya adalah melalui media-media lain seperti spanduk, yel-yel, maupun koreo. Ses-ungguhnya, pertempuran antara kelompok suporter lebih sering dilakukan melalui media-media ini. Mer-eka mengintimidasi kelompok lawan melalui poster maupun nyanyian.

Perilaku kolektif dari suporter ini sesungguh-nya merupakan ajang untuk mengaktualisasi diri. Cara yang dilakukan ada dua macam, seperti yang telah disebutkan diatas. Namun, sayangnya suporter telah terlabel sebagai biang kerusuhan. Hal ini tak lain merupakan pengaruh dari adanya konstruksi yang dilakukan oleh media yang menganggap bahwa kelompok suporter melakukan kekerasan. Dan konstruksi ini bermula dari kemunculan hooligan di Inggris (Stott & Pearson, 2007). Oleh karena itu, hingga saat ini, tidak heran jika suporter identik dengan kerusuhan dan kekerasan, terutama di Indonesia. Jadi, tak selamanya juga perilaku kolektif suporter merugikan, banyak hal yang menyenangkan justru tak terungkap.
 Ketika kondisi persepakbolaan Indonesia karut marut maka dibutuhkan supporter yang cerdas, berjiwa besar dan mau untuk bekerjasama  dengan supporter klub lainnya. Vandalisme, barbarisme, holiganisme, atau sebutan sejenis lainnya yang dilakukan oleh para pendukung kesebelasan sepak bola tidak dapat dibenarkan dan tidak boleh dibiarkan terus berjalan. Selama kompetisi sepak bola masih diwarnai oleh tindakan-tindakan tidak terpuji seperti itu, jangan harap sepakbola Indonesia dapat maju, apalagi mimpi tampil di pentas dunia. Sebenarnya menurut Saya suporter ini merupakan korban dari sistem yang salah. Sehingga alangkah baiknya bila kita menyorot sistem tersebut dan berusaha memperbaikinya.
.
. Kutipan dari buku "opini dalam berita"

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages