![]() |
Judul : “Pahlawan tanpa Nama”
Nama : Indri Pratiwi Putri
TTL : Enrekang, 22 Juli 1998
Asal : Enrekang
Jurusan : Jurnalistik
Email : indry.putri44@gmail.com
No.Hp : 082191547378
Blog : indryATP.blogspot
Mungkin bagi sebagian orang yang dianggap pahlawan adalah yang pernah berjasa untuk negeri ini. Tapi lain halnya dengan aku, aku menganggap pahlawan yang aku kenal hanya ada 2 sosok yaitu ayah dan ibu. Pahlawan yang tidak pernah tercantum namanya di museum tapi melekat erat di hatiku selamanya.
Ayahku lahir di Pinrang, 14
Februari 1960 sedangkan ibu lahir di Enrekang, 22 Desember 1978 tepat pada Hari
Ibu. Usia ayah terlampau jauh dari usia ibu, beda usianya 18 tahun. Pendidikan
terakhir ayah mungkin terbilang rendah karena ayah hanya lulusan SMA. Sosok
ayah bagiku adalah pahlawan terhebat yang pernah ada di dunia. Karena walaupun
matahari sinarnya sangat terik, ia masih tetap mencari nafkah untuk menghidupi
keluarganya. Apalagi, aku mempunyai seorang ayah yang dulunya abdi negara
sebelum akhirnya ia menjadi petani sekarang.
Saat dia abdi negara, semua orang
sangat segan dengannya karena beliau sudah mengabdi selama ±20 tahun sebagai
tentara. Selama ini orang berpikir bahwa seorang tentara itu tegas dan kejam,
tapi tidak dengan ayahku. Ayahku berbeda dengan yang dipikirkan orang. Beliau
sangat lembut, tidak pernah membentak anak-anaknya, bahkan ia sangat ramah
dengan semua orang. Aku bangga punya ayah seperti beliau. Walaupun dari
keluarga militer tapi ia tak pernah sombong dan memanfaatkan jabatannya untuk
merugikan orang lain. Bahkan, ayah sering membantu orang lain yang sedang
kesusahan. Tetapi orang lain selalu memanfaatkan kebaikan ayahku sampai ayahku
pernah tertipu berulang kali. Hal itu bukan menjadi penghalang ayah selalu
berbuat baik terhadap orang lain. Beliau beranggapan bahwa di dunia ini kita
saling membutuhkan, tak ada salahnya jika kita membantu sesama.
Sekarang ayah bukan lagi seorang
abdi negara. Setelah pensiun dari masa jabatannya sebagai tentara, beliau
pindah ke kampung halaman untuk bertani. Mungkin ayahku memang bukan seorang
petani profesional dan sukses. Tapi setidaknya, ketika beliau menjadi petani,
penghasilannya memang tak seberapa tapi beliau selalu bersyukur. Walaupun bertani
memang butuh tenaga yang banyak, butuh keuletan, dan lain-lain. Ayah selalu
bersyukur dengan apa yang ia perolah dari hasil kerjanya. Karena ayah selalu
percaya bahwa rezeki itu sudah diatur oleh Yang Maha Pemberi Rezeki.
Sosok
kedua setelah ayah yaitu perempuan hebatku yaitu ibu. Mungkin orang lain
menganggap bahwa pahlawan perempuan sejati yaitu R.A Kartini “Habis Gelap
Terbitlah Terang”. Tapi aku menganggap pahlawan perempuan sejati yaitu “Ibu”.
Yang mengandung dan membawaku kemanapun ia pergi selama sembilan bulan. Bahkan
terkadang ia harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu saat mengandungku.
Kadang juga ia harus membenci sesuatu yang tidak aku sukai ketika aku berada di
rahimnya. Sungguh sangat banyak jasa-jasa ibu kepadaku, dan hal itu tidak akan
pernah aku lupakan.
Ibuku
lahir di sebuah dusun, bisa dikatakan pelosok. Penduduk dikampung ibuku masih
bisa dihitung jari sampai sekarang. Tapi ketika dipinang oleh ayah, ia ikut ke
tempat ayah bertugas di kota. Sebenarnya, ibu dan ayah dulu dijodohkan. Saat
itu ibu sedang menuntut ilmu di Makassar, lalu ia mendengar kabar dari kampung
bahwa ia akan dilamar oleh seseorang. Kemudian ia disuruh pulang oleh kakek dan
nenek. Ia menolak alasannya belum siap berumah tangga. Tetapi, karena paksaan
kakek dan nenek akhirnya ibu menerima jika ia dijodohkan dengan lelaki pilihan
kakek dan nenek. Seiring berjalannya waktu di usia pernikahannya, akupun
dilahirkan sebagai anak pertama.
Saat ibu ikut
dengan ayah ketika mengabdi di kota Enrekang, hal yang tak diduga terjadi, ia
diangkat sebagai sekertaris di kepengurusan PERSIT (Persatuan Istri Tentara).
Ibu tidak menyangka bahwa dia akan diangkat langsung ke jabatan itu yang
sebelumnya ibu tidak pernah memegang jabatan di bangku sekolah. Tetapi, ayah
percaya bahwa ibu bisa melakukannya. Karena ayah tahu bahwa ibu itu cerdas.
Oleh karena itu, ayah memilih ibu diantara ribuan wanita diluar sana. Dan aku
sangat beruntung lahir dan besar di bawah didikan ayah dan ibu. Walaupun aku
hanya terlahir dan besar dari keluarga sederhana tetapi aku selalu bersyukur
kepada Allah SWT yang telah memberiku 2 permata yang berkilau sepanjang masa di
hidupku. Aku adalah satu dari ribuan anak yang beruntung memiliki mereka
berdua.
Sejak
kecil ayah dan ibu selalu menekankan 2 hal kepada anak-anaknya, yaitu
pendidikan dan agama. Kata mereka, “Tuntutlah ilmu setinggi mungkin nak, karena
kami yakin kamu bisa menjadi sukses dan dijadikan contoh oleh orang lain.
Tetapi hal yang paling penting selain pendidikanmu adalah jagalah agamamu.
Jangan tinggalkan kewajibanmu sebagai umat Muslim. Karena dari Allahlah semua
umur, hidup, dan rezekimu.” Kata-kata itulah yang selalu aku ingat di setiap
langkahku. Sebagian orang beranggapan bahwa motivator terhebat yaitu Mario
Teguh, Merry Riana, dan lain-lain. Tapi tidak denganku. Motivator terhebat
bagiku adalah orang tua. Tanpa kita sadari, orang tua sering memberikan kita
motivasi di setiap langkah kita.
Orang tua bukan hanya sebagai
motivator hebat tetapi ia juga sebagai dokter yang bisa menyembuhkan segala
penyakit. Aku pernah sakit berbulan-bulan tetapi tak ada seorangpun yang
merawatku kecuali tangan kedua orang tuaku. Terkadang ketika aku sakit dahulu
orang tuaku yang mengobatiku. Tak hanya itu, ketika aku sakit dahulu orang
tuaku juga yang menyemangatiku sampai aku pulih dari sakitku. Aku percaya bahwa
separah-parah apapun penyakit kita, tidak ada obat terbaik selain doa orang
tua.
Aku adalah anak yang selalu
dimanjakan orang tuaku dulu. Bayangkan saja, pekerjaan rumah tak aku sentuh
sedikitpun. Saat aku memegang piring untuk dicuci, ayah selalu melarangku.
Takut aku pecahin piring katanya. Ibu juga begitu. Ketika aku membersihkan
pasti langsung menyuruhku pekerjaan lain, contohnya menyuruhku membeli ini dan
itu. Aku tidak tahu mengapa merek terlalu memanjakan aku. Pada akhirnya, aku
tetap manja sampai dewasa.
Sampai
saatnya sekarang aku duduk di bangku perguruan tinggi karena didikan orang
tuaku. Berkat mereka, aku bisa seperti sekarang ini. Mereka selalu memberitahuku,
“Sekolahlah tinggi-tinggi nak, jangan seperti kami yang hanya sebatas putih
abu-abu”. Memang ayah dan ibuku bukan seorang sarjana, bukan seorang profesor,
bahkan mereka hanya lulusan SMA. Tapi, aku bangga punya orang tua seperti
mereka. Bagiku mereka lebih dari seorang sarjana, profesor, dan lain-lain.
Mereka selalu memberiku motivasi. Aku baru menyadari semua ini saat aku dalam
kesedihan dan mengingat ayah dan ibu.
Dari mereka aku banyak belajar
tentang kehidupan. Bagaimana kita menghormati dan menghargai orang lain,
bagaimana kita bersikap terhadap orang lain, dan paling penting adalah
bagaimana kita menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi sekarang aku duduk di
bangku kuliah yang mengharuskan aku untuk jauh dari orang tuaku sendiri. Sedih
sih, tapi jika aku lemah pasti orang tuaku akan terus memikirkan aku.
Bahkan aku sering berpikir.
Bagaimana aku bisa membalas jasa-jasa mereka, bagaimana aku bisa membuat mereka
meneteskan air mata karena bangga denganku. Oleh karena itu, sekarang aku
sedang berjuang keras untuk menggapai cita-cita tersebut. Aku selalu percaya
takdir Allah SWT terhadap semua hambanya. Allah selalu punya rencana terbaik
apalagi untuk hambanya yang mau berusaha.



P'O'K'E'R V`1`T`A adalah situs dengan berbagai jenis permainan online yang membawa hiburan dan kesenangan bersama. Menyediakan berbagai permainan yang dapat dimainkan dalam 1 user ID :
BalasHapus*ADU Q
*BANDAR POKER
*BANDAR Q
*CAPSA SUSUN
*DOMINO 99
*POKER ONLINE
*SAKONG
*BANDAR 66 (NEW)
Fasilitas yang ditawarkan untuk para penggemar judi online adalah :
* Minimal Deposit : 10.000
* Minimal Withdraw : 25.000
* Deposit dan Withdraw 24 jam Non stop ( Kecuali Bank offline / gangguan )
* Bonus REFFERAL 15% Seumur hidup tanpa syarat
* Bonus CashBack 0.3%
Contact us :
WA: 0812.2222.996
BBM : PKRVITA1 (HURUF BESAR)
Wechat: pokervitaofficial
Line: vitapoker