Rabu, 09 Januari 2019

Opini dalam Berita



Sebagai mahasiswa Jurnalistik dalam berbagai kesempatan baik dalam perkuliahan maupun pelatihan jurnalistik, saya hampir selalu mendapatkan dosen maupun para pembicara menekankan tentang pentingnya seorang jurnalis menaati kode etik Jurnalistik.
Salah satu kode etik Jurnalistik itu adalah “ tidak boleh mencampurkan fakta dan opini”.
Tegasnya, wartawan tidak boleh memasukkan opininya dalam menulis berita. Kalau mau beropini, ya… tulis saja artikel opini.
Yang sering “melanggar”  kode etik tersebut biasanya wartawan olahraga, khususnya sepakbola.
Dalam menulis berita, mereka sering menulis berita misalnya, “Tim A permalukan Tim B” atau “Tim B dipermalukan Tim A”.
Kata “mempermalukan” artinya membuat orang merasa malu atau “Dipermalukan” dibuat merasa malu. Ini jelas opini atau paling tidak interpretasi wartawan. Ia yakin, dengan kalah dalam suatu pertandingan, sebuah tim merasa malu atau dipermalukan. Pihak yang menang mempermalukan pihak yang kalah.
Saya sebut penulisan kata “mempermalukan” atau” dipermalukan” sebagai opini wartawan karena biasanya tidak ada narasumber yang mengatakan “saya merasa malu” atau saya merasa “dipermalukan”
Wartawan hanya menduga-duga dan dugaan ini sebenarnya sangat berdasar alias kuat, pihak yang kalah pastinya merasa malu. Namun ternyata tidak selalu demikian! Ada kok pecundang yang merasa tidak dipermalukan.
Contoh teraktual dalam kasus ini adalah kemenangan tim sepakbola Barcelona atas Real Madrid dalam pertandigan sepakbola liga Spanyol tahun 2010 silam. Barca menang 5-0 mengalahkan Real Madrid. Wartawan pun beramai-ramai menulis berita seperti “Barca mempermalukan musuh abadinya itu “Madrid” dengan skor mutlak 5-0 di Camp Nou” atau judul “Fantastis, Barca hajar Madrid 5 gol tanpa balas”.
Jelas, kata “permalukan” dan “hajar” adalah opini/interpretasi wartawan belaka. Dapat dibayangkan, betapa sakit hatinya pihak Madrid dan pendukungnya membaca berita tersebut dan betapa senangnya pendukung Barca membaca berita tersebut.
Bukti bahwa kata “dipermalukan” adalah opini wartawan dapat kita lihat melalui  pernyataan pelatih Madrid , Jose Mourinho. Diberitakan Bola.net “Mourinho tak terima dengan kata dipermalukan”. Ini kutipannya :
“satu tim bermain sangat bagus (Barcelona), satu lagi sangat buruk. Satu pantas menang satunya lagi pantas kalah,” papar Mourinho bisa menerima kekalahan tersebut. Tetapi  Dipermalukan tidak. sederhana saja dalam pertandigan ini, kami hanya bermain tidak bagus.”
Nah, jelas kan, “permalukan” bukan fakta tapi opini. Buktinya, Mourinho menolak dikatakan “dipermalukan” dan tidak ada pernyataan narasumber (pihak Madrid) yang mengaku merasa malu atau dipermalukan.
Penggunaan kata “permalukan” hanya satu dari sekian banyak contoh diselipkannya opini dalam berita olahraga. Berita olahraga umumnya penuh sensasi bahkan mengandung “kekerasan”, seperti penggunaan kata hantam, bantai, bekuk, gulung, hajar, tumbangkan, gempur, bekap, benamkan, libas, dan sebagainya.
Kata-kata pujian cenderung “lebay” juga sering muncul dalam berita olahraga, terutama berita sepakbola misalnya Gol Spektakuler, Akrobatik, dengan cerdik mengecoh, fantastis, mengamuk, dan sebagainya.
Belum lagi dalam isi beritanya. Banyak pencampuran antara opini dan fakta, bahkan cenderung menjadi “berita gosip”. Dimusim transfer pemain saat ini misalnya begitu berseliweran, rumor, dan gosip tentang transfer pemain . akibatnya, berita olahraga menjadi saingan infotainment yang identik dengan gosip dan rumor.
Bolehkah ada opini dalam berita olahraga ?
Salah satu kode etik Jurnalistik menyebutkan, wartawan “tidak boleh mencampurkan fakta dan opini” dalam menulis berita. Tegasnya, wartawan tidak boleh memasukkan opininya dalam menulis berita.
Namun, khusus dalam berita olahraga, opini dibolehkan, selama bukan berupa “penghakiman” (judge) kepada atlet tertentu, pemain, atau tim karena beresiko terkena “delik pers” pasal pencemaran nama baik.
Opini wartawan dalam berita olahraga tetap mengacu pada fakta (faktual). Musim lalu, Chelsea terpuruk di Liga Inggris. Kata “terpuruk” itu opini, kecuali ada fakta bahwa ada narasumber dipihak Chelsea yang mengatakan “Kami terpuruk musim ini”. Bagaimana kalau tidak ada narasumber ?
Tidak masalah karena kata terpuruk itu sesuai dengan fakta (faktual) karena memang Chelsea tidak bisa mempertahankan gelar juara, sering kalah dikandang sendiri, finish di posisi 5 klasemen akhir, dan hanya bisa tampil di Liga Europa padahal Chelsea sejatinya merupakan Tim langganan Liga Champions.
Contoh lainnya adalah berita tentang Timnas Indonesia yang gagal total di Piala AFF 2018. Hansamu Yama  dkk, dalam 4 pertandingan, cuman menang sekali, imbang sekali, dan kalah dua kali! Anak asuhan Bima Sakti pun gagal melaju ke semifinal.
Adapun berita-beritanya, misalnya :
“Timnas Tampil Melempem di Piala AFF 2018”
“Timnas Indonesia Terpuruk di Piala AFF”
“ Timnas Indonesia Babak Belur di Hajar Thailand dan gagal melaju ke semifinal”
Entah bagaimana kira-kira perasaan Hansamu dkk saat baca berita-berita tersebut?  

Secara teori penggunaan kata-kata diatas hanya opini wartawan namun hal tersebut masih bisa dibenarkan karena penggunaan kata itu lebih merupakan interpretasi ketimbang opini.
Interpretasi adalah pendapat berdasarkan fakta. Opini adalah pendapat berdasarkan penilian subjektif, bahkan  bisa jadi merupakan fitnah karena tanpa dasar.
Namun, sebaiknya memang wartawan menahan diri untuk tidak larut dalam peristiwa saat menulis berita, Pertahankan objektifitas, toh inti berita adalah informasi.

PWI : Opini dibolehkan dalam Berita Olahraga
“Dalam penyajian berita olahraga, ada sedikit perbedaan yang bisa ditampilkan oleh wartawan, yakni dalam segi opini. Wartawan olahraga boleh memasukkan opininya kedalam berita dengan catatan tidak men-judge dan bersifat hanya memburukkan objek berita. Penyajian opini ini adalah unsur lain dalam menyajikan berita olahraga yang menarik, selain kedemokratisan berita (tidak memihak), transparansi, dan fakta berita adalah unsur-unsur penting.
Demikian disampaikan Drs. Raja Parlindungan Pane, Ketua Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI) dalam sebuah program talkshow di TV yang pernah saya saksikan
Pers adalah penyampai informasi yang sekaligus memiliki fungsi mendidik, menghibur, dan sebagai kontrol sosial di masyarakat itu sendiri. Berbeda dengan berita lainnya, berita olahraga bisa memuat opini wartawan, asal tidak menjudge sang atlet.
Untuk bisa meracik berita olahraga yang menarik dan akurat, wartawan olahraga haruslah memperhatikan hal-hal seperti seluk beluk cabang olahraga yang diberitakan, sejarahnya, catatan juara bertahan, dan hadiah yang diraih, tak kala penting juga data-data pendukung, statistik, klasemen, dan dukungan perpustakaan.
Jadi, sudah jelas dalam berita olahraga boleh “centil” dan “sensasional” namun harus tetap akurat, berimbang, dan faktual seiring dengan spirit olahraga yang biasanya bersemangat, penuh drama, heboh, bahkan ricuh. Jangan coba-coba beropini dalam berita serius, berita politik misalnya, bisa-bisa wartawan kena delik pers, minimal diserang kekuatan poltik yang merasa dirugikan.




1 komentar:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Pages